-Apa benar kebahagiaan itu wujud?-
"Kelahiran elo adalah beban dihidup gue!"
"Dan kematian elo adalah hal yang terindah dihidup gue"
"Aku akan terus bersama kamu"
Chaennie📌
Chaesoo📌
Chaelisa📌
Fanfiction📌
Jam menunjukkan pukul 3 pagi dan Jisoo terbangun dari tidurnya ketika merasakan ada sesuatu yang memeluknya. Dia mengerjabkan matanya berkali kali untuk memastikan sosok yang memeluknya itu.
Dia terpaku untuk beberapa detik ketika menyadari kalau Rose yang tidur disampingnya dan memeluknya.
Sofa diruangan itu memang gede jadi muat untuk mereka berdua. Gara gara itu jugalah Rose memilih untuk tidur disitu dengan memeluk sang Kakak yang tidur duluan sebelum dirinya.
Tidak dapat digambarkan perasaan Jisoo saat ini. Dia merasa benar benar nyaman dengan pelukan hangat sang adek itu.
Matanya berkaca kaca ketika melihat wajah polos sang adek. Dengan ragu, dia mengelus pipi gembul Rose "Adek Kakak sudah gede ya" gumamnya pelan "Maafin Kakak karena belum bisa mengalahkan ego Kakak. Kakak janji, suatu hari nanti hubungan kita akan kembali seperti dulu. Kakak akan berusaha membuang sikap egois Kakak ini" lanjutnya.
Jisoo membawa Rose kedalam dakapannya dan dia kembali memejamkan matanya untuk melanjutkan mimpinya yang tertunda itu.
Pagi sudah tiba dan Rose masih betah tidur dengan memeluk Jisoo. Sosok yang dipeluk itu pula sudah membuka matanya namun dia masih betah menatap wajah polos sang adek.
"Eungh" melihat Rose yang menggeliat kecil itu, dia kembali memasang wajah datarnya.
"Bangun!" Datarnya.
Rose bergegas bangkit "M-Maaf. Tadi malam aku tidak bisa tidur makanya aku memeluk Kak Ji" jelasnya yang takut kalau sang Kakak marah.
"Pulanglah" usir Jisoo. Dia bangkit dan berjalan kearah pintu.
Ceklekk
Ah, pintu itu sudah tidak lagi terkunci. Sepertinya pak satpam sudah membukanya tanpa mengetahui apa yang terjadi.
Rose menatap kepergian Jisoo dengan senyuman bahagianya. Akhirnya setelah sekian lama, dia kembali bisa merasakan pelukan hangat dari Kakak pertamanya itu. Ah, malam itu adalah malam yang indah dan Rose tidak akan pernah melupakan.
Ceklekk
"Kak Jisoo!!" Jennie menghampiri sang Kakak ketika mendengar suara pintu apartment yang dibuka "Kakak dari mana saja? Kok baru pulang?"
Dahi Jisoo mengernyit "Bukannya Kakak sudah mengabari kamu kalau Kakak menginap di perusahan?"
"Iya aku tahu. Tapi tidak biasanya Kakak tidak membalas pesan aku"
"Kakak terkunci diruangan CCTV terus ponselnya ketinggalan diruangan Kakak"
"Kok bisa!?"
"Sepertinya pak satpam tidak tahu kalau Kakak ada disana makanya pintunya dikunci dari luar"
"Jadi tadi malam Kakak sendirian saja?"
Jisoo menggeleng "Ada orang yang ikut terkunci"
"Siapa?" Kepo Jennie
Jisoo tersenyum miris "Rose"
Raut wajah Jennie berubah. Dia menatap Jisoo seakan menuntut penjelasan. Jisoo yang memang mengerti arti dari tatapan itu akhirnya menjelaskan semuanya.
"Dia bahkan terlalu baik sama kita Kak" lirih Jennie
Jisoo memijit pelipisnya yang pusing "Kakak ingin memaafkan dia tapi omongan Tante Seojin bikin Kakak tidak bisa. Omongan Tante Seojin ada benarnya. Dia yang menyebabkan kita kehilangan Mama"
"Terus kita harus ngapain Kak?"
"Terserah kamu saja mau ngapain. Kakak tidak peduli. Yang pasti, dia yang membunuh Mama" tanpa mendengar jawaban dari sang adek, Jisoo berjalan kekamarnya untuk mengistirahatkan dirinya yang terlalu capek itu. Meeting yang seharusnya diadakan juga sudah dibatalkan. Untuk sekarang, dia hanya ingin melanjutkan tidurnya dan menenangkan fikirannya.
"Kok senyum terus? Ada apa hurm?" Tanya Junmyeon menatap sang anak yang sudah rapi.
"Tadi malam aku tidur sama Kak Ji. Kita kekunci diruangan CCTV terus aku tidurnya meluk dia" jelas Rose "Aku senang banget Pa! Akhirnya aku bisa kembali merasakan pelukan Kak Jisoo walaupun aku tahu dia tidak sudi untuk memeluk aku" lanjutnya.
Junmyeon hanya tersenyum palsu. Betapa malangnya nasib anaknya itu. Anak bungsunya hanya ingin menikmati pelukan hangat dari kedua Kakaknya namun semua itu sulit untuk dia dapatkan.
"Pa, kok melamun?" Pertanyaan dari Rose membuyarkan lamunan Junmyeon
"Ah, tidak sayang" sahut Junmyeon "Kamu bakalan ke kampus? Mendingan kamu istirahat saja dirumah. Tidur di perusahan pasti tidak nyaman bukan?"
"Aku harus ke kampus Pa. Aku sudah kangen sama Kak Jennie. Hanya dikampus aku bisa melihat dia walaupun dari jauh si" sahut Rose.
Junmyeon mengelus kepala Rose "Obatnya jangan lupa dimakan ya"
Rose mengangguk "Baiklah Pa. Rose berangkat duluan ya" setelah mengecup pipi sang Papa, dia berganjak pergi meninggalkan Junmyeon yang menatap kepergiannya dengan tatapan iba.
Apa yang harus dia lakukan? Ingin sekali dia melihat anak anaknya kembali seperti dulu namun dia sudah kehabisan cara.
"Ck, ini semua gara gara Seojin!" Gumamnya kesal.
Sedari tadi Rose terus bernyanyi namun dia tetap fokus menyetir mobilnya untuk menuju ke kampus.
"Senang banget ya kamu"
Ckittttt
Kemunculan Lisa secara tiba tiba membuatkan Rose mengerem mobilnya secara mendadak. Astaga, kembarannya itu memang suka bikin dia kaget. Untung saja tidak ada mobil lain dibelakangnya.
"Jangan bikin aku kaget Lalisa!!" Kesal Rose.
Lisa terkekeh kecil "Maaf" ujarnya "Ngomong ngomong, kamu kelihatan senang banget ya"
Rose tersenyum "Tadi malam adalah malam yang indah. Aku bisa tidur bersama Kak Ji lagi setelah beberapa tahun berlalu"
Lisa ikut tersenyum "Aku bahagia kalau kamu bahagia"
New story👇
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.