Rose akhirnya sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah sedikit stabil dan dia juga memaksa untuk pulang membuatkan Junmyeon tidak tega.
"Pa, besok aku ke kampus ya" ujar Rose yang sekarang lagi menemani Junmyeon diruang tamu.
"Kamu harus istirahat duluan sayang" ujar Junmyeon mengelus kepala sang anak.
"Tapi Pa, aku sudah kangen Kakak. Hanya dikampus aku bisa melihat Kakak" ujar Rose sedih.
Hati Junmyeon tersentuh. Apa segitu sayangnya Rose sama sosok yang sudah membencinya itu? Astaga, anaknya ini benar benar mempunyai hati yang tulus "Baiklah, kamu bisa kekampus tapi kalau ada apa apa yang terjadi, langsung kabarin Papa" putus Junmyeon pada akhirnya.
"Baiklah!" Sahut Rose "Aku kekamar duluan ya. Selamat malam Papa" setelah mengecup pipi sang Papa, dia akhirnya bergegas kekamar.
Ah, rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu hari esok tiba.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi namun sedari tadi Jennie bolak balik diatas kasurnya. Dia tidak boleh tidur tanpa alasan yang jelas.
"Gue kenapa si" gumamnya kesal.
Akhirnya dia bangkit dari posisi rebahan. Bersamaan dengan itu, matanya menatap sesuatu yang ada disebalik buku diatas meja belajarnya.
Dengan penasarannya dia mengambilnya. Ah, sekarang dia tahu apaan itu. Itu adalah surat yang diberikan oleh sang adek. Selama ini, Rose memang sering menyimpan surat di loker Jennie disekolah namun Jennie terus membuang surat itu. Tapi sekarang sepertinya dia lupa untuk membuangnya.
Ingin kembali membuang surat itu namun hatinya menghalangnya. Dengan sedikit ragu dia membuka surat itu dan membacanya.
-Selamat pagi Kakak cantiknya aku. Tadi aku melihat Kak Jen di parkiran. Wah, Kakak cantik banget ya. Baju itu cocok banget untuk Kakak. Kakak semakin menggemaskan. Ingin sekali aku menggigit pipi Kakak yang menggemaskan itu kekekeke...
Kakak, walaupun Kakak sama Kak Jisoo membenci aku, aku tidak akan pernah membenci kalian. Apa bisa aku egois? Aku hanya ingin merasakan kasih sayang dan perhatian dari kalian sebelum aku pergi dari dunia ini:)
Kak, di dunia ini tidak ada yang sempurna begitu juga dengan aku. Jadi, tolong maafin aku karena aku tidak bisa menjadi adek yang sempurna untuk Kak Jen sama Kak Jis....
Hanya tulisan dari isi hati sang adek namun hal ini mampu membuatkan Jennie meneteskan air matanya.
Dia memukul dadanya berkali kali bagi menghilangkan rasa sesaknya itu. Apa dia sudah benar benar keterlaluan? "Rosie" gumamnya
"Kak Jennie!!!" Teriakan Rosie yang baru berusia 5 tahun itu menggema dimansion.
Hal itu sontak membuatkan Jennie kaget dan bergegas menghampiri sang adek "Rosie, kenapa!?" Paniknya.
Rose memeluk Jennie dengan erat "Kak Ji jahat" adunya.
Jennie beralih menatap Jisoo membuatkan Jisoo terkekeh "Kakak hanya jahilin dia dikit kok" jujurnya.
"Kak Jis iseng banget si jahilin Rosie" dumel Jennie. Dia berjongkok menyamakan tingginya dengan sang adek "Sudah Rosie, jangan takut. Sekarang sudah ada Kak Jen" bujuknya menghapus air mata sang adek.
Rose menunjukkan pipinya "Cium" pintanya.
"Duhh, manja sekali hurm" setelah mencium pipi sang adek, Jennie beralih menggelitiki perut adeknya itu.
"Ahahahaha geli Kak"
Jisoo yang melihatnya langsung saja ikut bergabung membuatkan mansion dipenuhi oleh suara tawa Rose.
Hah~
Ingatan yang dulu kembali berputar dibenaknya membuatkan Jennie merasa rindu. Iya, dia rindu disaat mereka masih kecil.
Apa dia harus memberi peluang kepada adeknya itu? Tapi, gara gara adeknya, sang Mama malah meninggal. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?
Pagi tiba dan terlihatlah Jennie yang sudah rapi itu berada dimeja makan dengan makanan yang sudah terhidang. Dia tidak bisa tidur makanya dia langsung mandi dan menyiapkan sarapan.
"Jen? Tumben kamu sudah bangun?" Jisoo menghampiri Jennie dengan memakai pakaian kerjanya.
"Aku tidak bisa tidur tadi malam Kak" jujur Jennie.
"Kenapa?"
Jennie menggeleng lemah "Tidak ada apa apa"
"Kalau ada yang mengganggu pikiran kamu, bilang sama Kakak ya"
"Iya Kak" sahut Jennie.
Jisoo mula memakan sarapannya itu namun Jennie hanya diam dan terus menatap Jisoo "K-Kak" panggil Jennie dengan ragu.
"Hurm, kenapa?" Sahut Jisoo
Jennie menggigit bibir bawahnya "A-apa tidak seharusnya kita memberi peluang untuk Rose?"
Kunyahan Jisoo terhenti. Dia menatap Jennie dengan tatapan yang sulit diartikan "K-kamu yakin?"
"Aku juga bingung" sahut Jennie sendu.
"Tidak! Tidak akan ada peluang untuk dia!" Bukan, ini bukan suara Jisoo namun ini suara Seojin yang ternyata sudah masuk ke apartment itu. Dia sudah sering kesana makanya dia tahu password apartment.
"Tapi Tante-"
"Apa lagi Jen?!" Potong Seojin "Gara gara dia, kalian kehilangan Mama kalian. Tante juga harus kehilangan saudara Tante" lanjutnya "Apa selama ini kalian tidak sadar apa yang sudah dia lakukan sama Papa kalian?"
"Maksud Tante?" Tanya Jisoo.
"Selama ini dia sering merepotkan Papa kalian. Waktu itu kalian bilang dia masuk rumah sakit bukan? Bisa saja dia ingin mengambil semua perhatian Papa kalian itu. Papa kalian juga lebih peduli soal dia. Jangan jadi bodoh Jis, Jen! Gara gara dia, kalian tidak punya Mama dan sekarang dia juga ingin mengambil Papa kalian! Kalian tidak boleh terlalu baik sama dia! Selama ini dia juga hanya berpura pura baik sama kalian!"
Waduhhh, Tante Seojin menyebalkan ya;)
Tekan
👇
KAMU SEDANG MEMBACA
Happiness ✅
Fanfic-Apa benar kebahagiaan itu wujud?- "Kelahiran elo adalah beban dihidup gue!" "Dan kematian elo adalah hal yang terindah dihidup gue" "Aku akan terus bersama kamu" Chaennie📌 Chaesoo📌 Chaelisa📌 Fanfiction📌
