-Apa benar kebahagiaan itu wujud?-
"Kelahiran elo adalah beban dihidup gue!"
"Dan kematian elo adalah hal yang terindah dihidup gue"
"Aku akan terus bersama kamu"
Chaennie📌
Chaesoo📌
Chaelisa📌
Fanfiction📌
Setelah mendengar semua kebenaran itu, Jisoo dan Jennie terdiam dengan air mata yang sudah mengalir keluar.
"D-dari mana lo tahu soal ini Joy?" Tanya Jennie.
"Kak Seulgi. Tadi gue sama Yeri dari rumah sakit untuk membesuk Rose dan Kak Seulgi meminta gue sama Yeri menjelaskan semuanya buat lo sama Kak Jisoo" sahut Jisoo.
"Rose masuk rumah sakit!?" Tanya Jisoo.
Joy menatap Yeri. Seakan mengerti, Yeri mengangguk "Rose dilahirkan dengan jantung yang lemah. Sekarang dia benar benar membutuhkan pendonor jantung untuk terus hidup. Dia sakit Kak! Dia butuh kalian tapi kalian malah membenci dia" ujar Yeri membuatkan tangisan Jennie dan Jisoo semakin keras.
"Coba kalian lihat Twitter sekarang!!!" Arah Joy yang sedari tadi memainkan ponselnya.
Walaupun bingung, mereka tetap mengikuti apa yang dikatakan oleh Joy.
Deg
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nafas mereka seakan tercekat! Tidak! Itu pasti tidak benar!!
"Media sialan!" Umpat Jennie "Ini pasti palsu! Aku akan menuntut media sialan ini!!" Lanjutnya marah.
Jung's Princess
Kak Jisoo -Rose!!- -Kamu dimana?-
Kak Jennie -Berita itu tidak benar bukan?!- -Rosie, jawab!-
Kak Jisoo -ROSEANNE JUNG!! KAMU DIMANA?!!!!-
Kak Jennie -Berita itu pasti bohong!! Rosie, jangan bercanda!-
Jisoo dan Jennie saling tatap dengan tatapan yang sulit diartikan "Tidak! Itu pasti tidak mungkin!!" Sangkal Jennie.
"Kita pulang sekarang!!" Arah Jisoo bergegas menuju kemobil diikuti oleh Jennie.
Setibanya dimansion, mereka dikagetkan dengan sosok orang orang yang sudah memenuhi mansion. Tidak lupa juga dengan keberadaan para media yang ingin masuk namun dihalang oleh bodyguard Junmyeon.
"I-ini pasti bohong" ujar Jennie bergegas turun dari mobil diikuti oleh Jisoo. Mereka bahkan tidak peduli dengan keberadaan karangan bunga yang sudah mengelilingi mansion.
"Pa! Dimana Rosie?!" Tanya Jennie memegang kedua tangan Junmyeon "Dimana adek aku Pa!?!!"
Junmyeon menatap kedua anaknya itu dengan sendu "Adek kalian sudah bersama Mama kalian"
Deg
"Papa bohong bukan? Jangan bercanda Pa! Ini sama sekali tidak lucu!" Sangkal Jisoo.
Junmyeon membawa kedua anaknya itu mendekati peti mati. Terlihatlah sosok yang sudah tidur dan tidak akan pernah bangkit lagi.
Tangisan Jisoo dan Jennie semakin keras. Mereka mengelus pipi sang adek dengan tangan yang terketar ketar "Rosie, buka mata kamu Sayang" lirih Jennie.
"Kak Ji sudah disini. Kamu mau Kakak pulang bukan? Sekarang Kakak sudah pulang. Tapi kenapa malah kamu yang pergi? Hiks bangunlah sayang" isak Jisoo.
"Kenapa kalian sedih? Bukannya ini yang kalian inginkan? Kematian Rose adalah sesuatu yang kalian inginkan bukan?" Sambar Seulgi berdiri dibelakang mereka "Kalian menghukum orang yang tidak bersalah. Dia bahkan tidak pernah meminta untuk lahir kedunia ini kalau dia tahu kelahiran dia bikin kalian kehilangan Mama kalian. Bukannya Tante Joohyun sudah menitipkan Rose sama kalian? Tapi apa yang kalian lakukan? Kalian malah membenci dia. Kalian menjauh dari dia. Bahkan kalian dengan kejamnya meminta dia untuk mati! Dimana hati kalian hah!?!!" Sentak Seulgi emosi.
"Sudah Seul, jangan seperti ini. Kita harus mengikhlaskan kepergian Rose" ujar Junmyeon menenangkan ponakannya itu.
"Aku tidak bisa Om! Kenapa harus sosok sebaik Rose yang harus menerima semuanya? Dia terlalu baik! Dia bahkan sanggup mendonorkan hatinya untuk Tante Seojin yang sudah jahat sama dia!"
"R-Rosie mendonorkan hatinya?" Timpal Jennie
"Tante kesayangan kalian kecelakaan dan dia butuh pendonor hati. Adek kalian memilih untuk mendonorkan hatinya untuk Tante kalian karena adek kalian itu tahu kalau kalian sayang sama Tante kalian. Adek kalian bahkan sanggup mengorbankan segalanya untuk kalian" sahut Junmyeon menahan air matanya.
"Hiks Rosie. Bangunlah. Jangan hukum Kakak seperti ini" isak Jennie meletakkan tangan sang adek dipipinya.
"Hiks Rose-ah. Mianhe, jeongmal mianhe" isak Jisoo mengelus dahi Rose. Berharap agar elusannya itu mampu membangunkan sang adek.
Namun semuanya tetap sia sia. Sekeras apa pun tangisan dan teriakan mereka, adek mereka tidak akan kembali lagi. Mereka terlambat untuk memperbaiki segalanya.
"ANDWAE!! JEBAL!! HIKS AKU MOHON!!" Jennie sontak berteriak histeris ketika peti mati sang adek mula dikubur.
Junmyeon juga berusaha menahan Jennie yang sudah memberontak itu "Tenang Jennie! Ikhlasin adek kamu"
"Hiks tidak Pa!! Adek aku belum mati! Hiks Rosie belum mati!! Dia tidak akan tinggalin aku!" Teriak Jennie meronta ronta.
Jisoo hanya diam. Tatapannya kosong. Dia terus menatap gundukan tanah yang sudah menutupi peti mati sang adek itu. Hatinya seakan mati. Dia sudah tidak ada semangat untuk melanjutkan hidupnya. Kepergian Rose memang membuatkan hatinya hancur namun setelah semua kebenaran terbongkar, hatinya semakin hancur. Ya Tuhan. Betapa kejamnya dirinya sebagai seorang Kakak. Kenapa dia sanggup menghukum sang adek sehingga sang adek memilih untuk pergi dan tidak akan kembali lagi? Andai dia diberi peluang untuk terlahir kembali. Dia tidak akan ingin dilahirkan sebagai seorang Kakak karena dia sadar kalau dia tidak pantas untuk menjadi Kakak.
Menghargai itu tidak sulit tapi juga tidak gampang. Sama seperti readers yang menghargai author. Aku tidak meminta lebih kok. Tapi tolong dijaga ketikan kalian. Aku tidak masalah kalau kalian ingin mengomentari cerita yang aku ketik tapi tolong hargai cerita aku juga. Jangan selalu komentar "Next" / "Lanjut" aku juga punya RL dan tugas aku bukan 24jam mengetik cerita. Tidak bilang lanjut juga pasti aku lanjut kok. Tolong sabar!
Dan ini cerita aku! Hasil ketikan aku! Ide aku! Jadi tolong jangan bilang "Kok tidak langsung end?/ Eh kok gini?/ Mendingan kayak gini.../"
Hey! Ini cerita aku jadi alurnya aku yang bikin dong! Kalau punya ide sendiri, ya silakan ketik sendiri saja. Tidak perlu mengatur aku!