Jisoo menghela nafasnya dengan kasar ketika melihat banyak berkas yang ada di atas meja kerjanya itu.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan itu saatnya untuk dia pulang namun sepertinya dia harus lembur.
Huft!! Menyebalkan!
"Ji, ayo pulang" ujar Junmyeon memasuki ruangan Jisoo.
"Pekerjaan aku masih banyak Pa. Papa pulang saja duluan" sahut Jisoo.
"Berkas itu bisa dikerjakan besok. Kamu juga butuh istirahat"
"Tidak bisa Pa. Besok ada meeting dan berkas ini bakalan digunakan besok"
"Ya sudah, biar Papa bantu"
"Jangan Pa! Mendingan Papa pulang dan istirahat saja. Biar aku yang menguruskannya. Aku juga bakalan menginap di perusahan deh"
"Apa tidak apa apa?"
"Tidak apa apa Pa. Aku sudah biasa"
"Baiklah. Tapi kamu harus kabarin Jennie. Papa takut dia khawatir sama kamu di apartment"
Jisoo mengangguk "Iya Pa"
Junmyeon tersenyum dan berlalu pergi dari sana. Jisoo pula menghela nafasnya dengan kasar. Sepertinya malam itu dia harus lembur sendirian deh soalnya semua karyawan sudah pada pulang.
"Semangat Ji!" Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
"Papa pulang" ujar Junmyeon menghampiri Rose yang lagi asyik menonton diruang tamu.
"Kok baru pulang Pa? Biasanya Papa pulang jam 6 sore" ujar Rose.
"Pekerjaan di perusahan banyak banget. Kakak kamu bahkan lembur"
"Kak Ji lembur!?"
"Iya. Papa mau bantuin dia tapi dia bilang dia bisa mengurus semuanya sendiri. Tapi Papa juga khawatir sama dia si. Dia belum makan malam"
Raut wajah Rose berubah menjadi khawatir "Pa, apa bisa aku ke perusahan untuk menemani Kak Jisoo?"
Junmyeon tersenyum "Kenapa harus meminta izin Papa? Lagian perusahan itu juga perusahan kamu"
"Aku ke perusahan sekarang ya" ujar Rose
"Iya sayang. Hati hati"
"Kalau Papa mau makan, Papa makan saja. Makan malamnya sudah aku panaskan" setelah mengecup pipi sang Papa, Rose bergegas menyambar kunci mobilnya dan berlalu pergi dari sana.
"Semoga Jisoo luluh sama perhatian dari Rose" gumam Junmyeon mengusap wajahnya dengan kasar.
*
Dengan sedikit ketakutan, Rose berjalan memasuki perusahan yang sepi itu. Gimana si Kakaknya bisa berani tinggal sendirian disana? Tapi tidak aneh si, Kakaknya itu memang sosok yang kuat makanya tidak takut sama hal yang begituan.
Tok tok tok
Ceklekk
Setelah mengetuk pintu ruangan sang Kakak, Rose membuka pintu itu "K-Kak Jisoo" panggilnya.
"Rose!? Kamu ngapain disini!?" Kaget Jisoo ketika melihat sosok sang adek.
"Papa bilang Kak Ji lembur makanya aku kesini untuk menemani Kakak" sahut Rose berjalan menghampiri Jisoo "Aku juga sudah membelikan makan malam untuk Kakak"
"Pulang saja!" Usir Jisoo datar.
"Kakak harus makan!" Ujar Rose
"Tidak perlu sok peduli!" Ketus Jisoo.
"Aku bukan sok peduli tapi aku memang peduli sama Kakak! Kakak itu Kakak aku dan aku sayang sama Kakak! Kalau Kakak sakit, aku bakalan sedih. Makan ya Kak"
Melihat wajah sendu sang adek membuatkan Jisoo merasa tidak tega "Ck, ya sudah!"
Rose sontak tersenyum dan bergegas menghidangkan makanan yang dibelinya itu diatas meja "Aku tahu Kakak tidak sudi untuk memakan masakan aku makanya aku beli makanan diluar"
Deg
Hati Jisoo seakan ditancapkan oleh sesuatu yang tajam ketika mendengar kata kata sang adek. Ingin sekali dia memeluk adeknya itu namun dia egois, sama seperti Jennie. Dia gengsi untuk menunjukkan sikap hangatnya.
"Sudah makan?"
Walaupun nada suara Jisoo terdengar datar, Rose tetap tersenyum karena sang Kakak kelihatan peduli dengannya "Sudah Kak"
"Mendingan kamu pulang. Ini sudah malam"
Rose menggeleng "Aku akan menemani Kakak"
"Terserah" sahut Jisoo yang tidak ingin berdebat itu.
Beberapa menit berlalu, Jisoo akhirnya selesai menikmati makan malamnya. Perutnya yang sudah terisi itu membuatkan dia bisa kembali fokus untuk melanjutkan kerjanya. Berterima kasihlah kepada sosok sang adek yang sanggup datang untuk memberikan makan malam kepadanya.
"Kakak mau kemana?" Tanya Rose ketika melihat Jisoo bangkit dari bangkunya.
"Ruangan CCTV" sahut Jisoo singkat.
"Ikut!!" Dengan manjanya Rose bergelayut dilengan Jisoo.
"Lepasin ih!" Kesal Jisoo.
"Takut Kak" sahut Rose.
Jisoo mendengus namun tidak dapat dipungkiri kalau dia senang karena bisa merasakan kembali sikap manja adeknya itu.
Setibanya diruangan CCTV, Jisoo langsung mengotak atik computer yang ada didepannya itu.
Klikk
Mereka berdua saling tatap ketika mendengar sesuatu yang tidak asing itu.
Jisoo berlari kearah pintu dan berusaha membukanya namun sialnya pintu itu terkunci dari luar. Sepertinya pintu itu dikunci oleh pak satpam yang tidak tahu ada mereka didalam sana.
"Kita terkunci!!" Ujar Jisoo.
"Kakak tidak punya ponsel?" Tanya Rose.
"Ketinggalan diruangan" sahut Jisoo.
"Ponsel aku juga ketinggalan diruangan Kakak si" ujar Rose "Terus sekarang kita harus gimana?"
"Pasrah saja lah" sahut Jisoo membaringkan dirinya diatas sofa yang memang ada didalam ruangan itu.
Tekan
👇
KAMU SEDANG MEMBACA
Happiness ✅
Fanfiction-Apa benar kebahagiaan itu wujud?- "Kelahiran elo adalah beban dihidup gue!" "Dan kematian elo adalah hal yang terindah dihidup gue" "Aku akan terus bersama kamu" Chaennie📌 Chaesoo📌 Chaelisa📌 Fanfiction📌
