Keajaiban meninggalkan Mingyu.
Seminggu setelah ia terbangun sehabis tertidur nyenyak untuk pertama kalinya. Keajaiban itu menghilang dari sisinya. Ia pikir keajaiban itu akan menetap setidaknya sampai Mingyu terjaga di pagi hari.
Pagi itu, Mingyu bersyukur dan menyesal di waktu bersamaan. Jika saja ia tidak terlelap apakah ia akan bisa melihat keajaiban lebih lama?
Keajaiban itu memiliki nama, Jeon Wonwoo. Lelaki yang tak jelas asal usulnya darimana. Hanya nama dari pria itu yang ia ketahui. Mingyu bahkan ragu apakah Wonwoo itu nama aslinya atau bukan. Tak peduli, yang terpenting Mingyu telah menemukan titik terang dalam hidupnya.
Meskipun tak rela, ia tak mencari keberadaan pria itu. Dimanapun ia berada setidaknya jika pria itu aman Mingyu rasa itu sudah cukup baginya. Ia tak bisa menahan siapapun untuk terus berada di dekatnya. Lagi pula ia sendiri masih bingung dengan apa yang ia rasakan. Rasanya seperti campuran antara senang dan kesal dalam waktu bersamaan.
Tak dapat dipungkiri jika Wonwoo itu menarik. Hanya saja, ia terkadang tidak bisa dan tidak siap dengan segala bentuk hal unik yang dibawa Wonwoo dalam kepalanya. Terkadang Mingyu berharap jika keunikan Wonwoo bisa dikurangi sedikit, hanya saja ia tersadar dengan pemikiran salahnya.
Wonwoo tidak akan menjadi Wonwoo jika ia kehilangan sentuhan uniknya. Maka selama seminggu ini Mingyu belajar untuk menerima dan terbiasa.
Apartemennya bukanlah sebuah apartemen mahal dengan puluhan lantai. Apartemen itu hanyalah sebuah petak kecil yang cukup baginya untuk tidur dan berlindung dari cuaca yang berubah-ubah. Hanya memiliki dua lantai dengan tembok tipis yang terkadang membuat risih.
Derit tangga besi yang agak berkarat membuat suasana sedikit horor jika malam hari. Terkadang Mingyu berpikir jika susah tidurnya ini berasal dari rasa khawatir yang berlebihan. Ia selalu takut jika satu hari nanti tembok unitnya akan terjebol karena suara pukulan palu. Atau ia takut jika mendengar suara derit tangga besi di malam hari.
Kaki Mingyu berhenti sebelum menginjak anak tangga terakhir. Kehadiran seseorang yang terduduk dengan kepala yang tertutupi oleh lipatan tangan membuat Mingyu berpikir apakah orang itu mati atau tidak.
Benar-benar, Wonwoo bagai keajaiban dalam hidup Mingyu. Ia akan pergi tanpa kabar dan akan kembali. Ditemukan di tempat yang tidak terduga atau mungkin saja Wonwoo yang menemukan Mingyu.
Mingyu kembali berjalan dan kini ia berhenti tepat di depan Wonwoo. Hingga lelaki dengan garis wajah yang terlalu tegas itu mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar hingga kedua matanya tertutup.
Niat awal ingin memarahi Wonwoo yang datang dan pergi seenaknya, namun ketika ia menyadari luka-luka kecil di wajah Wonwoo, Mingyu terpaksa menelan kembali rangkaian kalimat pedasnya. Agak khawatir, tapi terlalu gengsi untuk mengakui.
"Bisa tolong obati lukaku?" Wonwoo mengangkat bungkusan yang ia sembunyikan di tekukan lututnya. Tersenyum konyol seolah ia baru kembali sehabis jalan-jalan.
"Masuk," Mingyu masuk ke dalam unitnya. Menyimpan beberapa barang bawaannya dan menyuruh Wonwoo untuk duduk di sofa panjang depan televisi. Sementara ia mengganti pakaian bengkelnya dengan pakaian yang lebih bersih.
Wonwoo bersenandung dengan riang. Ia menyalakan televisi dan menonton acara musik. Bersenandung mengikuti irama musik. Terlihat begitu domestik bagi Mingyu yang kini berdiri di ujung sofa. Menonton Wonwoo yang bergerak ke kanan dan kiri seperti seorang anak yang kegirangan.
"Kau tidak mandi dulu?" tanya Wonwoo tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca. Ia tersenyum untuk sesaat sembari melirik pada Mingyu.
"Apa itu mengganggumu?" Mingyu bertanya. Masih berdiri dengan jarak yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
a man with spring in his smile || meanie || Seventeen
FanfictionPernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang memiliki senyum sehangat musim semi? WARN : BXB; MXM; Minwon; Mature content not just for segg part; M-preg; and other(s). Inspired by "decision to leave"
