sembilanbelas

273 34 2
                                        

Wonwoo tersenyum lebar setiap kali ada orang yang menjenguknya. Entah itu pasangan Choi-Yoon beserta dua anak mereka yang tidak mau diam, atau pasangan Lee-Hong yang selalu bertengkar dan meributkan hal yang tak perlu. 

Jun dan Minghao datang bersama dengan Jihoon. Mereka bertiga bercerita tentang uang tabungan Wonwoo yang hampir habis digunakan oleh Sooyoung untuk membereskan semua masalah yang dibuatnya sendiri. Vernon dan Seungkwan datang tadi siang membawakan pakaian ganti yang diminta Wonwoo, jaga-jaga jika ia harus kabur secepatnya dari rumah sakit ini.

Mingyu adalah orang yang sering menemaninya. Meskipun di malam hari Mingyu tak diizinkan untuk menginap di ruangan Wonwoo, ia akan duduk di lobi rumah sakit semalaman.

Selama apapun Wonwoo menunggu, ia tahu jika Soonyoung tak akan pernah datang untuk menjenguknya. Pria itu sepertinya marah besar padanya. Wajar, karena Wonwoo, kelompok mereka hampir saja benar-benar bubar. 

"Kau sudah makan?" tanya Wonwoo sesaat setelah Mingyu masuk ke dalam ruangannya. Membawa kantong plastik berisi air mineral botol dan juga beberapa buah apel. 

"Harusnya aku bertanya padamu, 'kan?" ujar Mingyu. Ia berjalan melewati jajaran kasur lainnya.

Di dalam ruangan tersebut, terisi 6 kasur yang hanya diisi oleh 3 orang pasien. Wonwoo berada di kasur paling dekat dengan jendela. Sedangkan dua lainnya mereka berada di paling ujung dekat dengan pintu keluar. 

"Aku sudah menghabiskan makan dan obatku," jawab Wonwoo. "Kau tak perlu datang setiap hari, besok pun aku akan pulang."

"Itu sebabnya aku harus datang setiap hari, agar aku bisa membawamu pulang," jelas Mingyu. Ia duduk dan mengeluarkan barang bawaannya. Lalu ia merogoh saku jaket yang ia gunakan, mengeluarkan secarik kertas berwarna kuning yang sudah terlipat disana sini. "Hadiah dari Sunwoo."

Wonwoo tersenyum sembari menerima hadiah tersebut. Membukanya dan mencoba membaca apa yang anak itu tulis. Namun ia menyerah. Tulisan tangan Sunwoo belum layak untuk dibaca. Jadi Mingyu pun ikut tertawa pelan.

"Kita anggap dia mendoakan ku agar cepat sembuh," gurau Wonwoo menyimpan kertas tersebut ke atas nakas. 

Terjadi hening untuk beberapa saat. Mingyu mencoba mengupas apel yang ia bawa. Menimbulkan bunyi renyah lembut sebagai ganti suara obrolan mereka. 

"Jangan lakukan itu lagi," suara Mingyu pelan. Ia berucap tanpa mau mengangkat kepalanya dari objek apel yang kini tengah dipotongnya. "Jangan mencoba atau bahkan memikirkan untuk mati. Kau tidak boleh mati sebelum aku."

Wonwoo tersenyum. Pengalaman tenggelamnya kemarin cukup membuatnya trauma. Maka dari itu ia bersumpah pada dirinya sendiri jika ia tidak boleh mati tenggelam. 

"Dokter mengatakan menemukan kandungan obat-obatan terlarang dalam darahmu," kali ini Mingyu mengangkat wajahnya. "Apa kau akan ditangkap polisi setelah sembuh nanti?"

Kembali, Wonwoo menyunggingkan senyumnya. Ia menggeleng. "Kuyakin Soonyoung membereskan semua," ujar Wonwoo. "Orang seperti kami tidak bisa datang ke rumah sakit karena banyak alasan."

"Salah satunya karena dirimu tak tercatat di pencatatan sipil?" tebakan Mingyu terdengar begitu sinis di telinga Wonwoo. "Siapa kau sebenarnya?"

Wonwoo menarik nafasnya panjang. Lagipula baik Mingyu dan saudaranya yang lain sudah tahu apa pekerjaan Wonwoo sebenarnya. Dan juga para keluarganya sudah mengenal siapa Kim Mingyu. Jadi kisah ini mungkin sudah layak di dengarkan Mingyu.

*A Long Long Time Ago*

Saat itu Wonwoo dan Soonyoung berumur 8 tahun atau kurang. Mereka hidup bersama di sebuah rumah luas yang sangat sulit mereka jelajahi. Jika Soonyoung mengajak Wonwoo untuk bermain petak umpet, maka keduanya tidak akan saling bertemu sampai sang Ibu sendiri yang mengakhiri permainan konyol tersebut.

a man with spring in his smile || meanie || SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang