empatbelas

241 34 0
                                        

Wonwoo tak tahu sudah berapa lama ia menjadi orang ketiga dalam keseharian Soonyoung dan Jihoon. Yang ia ingat adalah saat ia datang ke Busan, cuaca masih hangat. Namun sekarang sudah berubah menjadi panas terik. 

"Kau menyukai pantai 'ya?" Jihoon datang dan berdiri di sebelah Wonwoo. Melipat kedua tangan di depan dada dan membiarkan otot tangannya nampak karena ia menggunakan sleeveless shirt. Melihat Jihoon yang seperti ini, Wonwoo merasa bahwa Jihoon benar-benar ditakdirkan hidup di daerah panas.

"Kapan Minghao akan datang?" bukannya menjawab, Wonwoo malah balik bertanya. Ia senang bukan main saat mendengar jika Jun dan Minghao akan bergabung bersama mereka tinggal disini. 

Ia sudah melupakan bagaimana kabar kotanya dulu. Tak lagi peduli lebih tepatnya. Karena Busan ternyata tak seburuk yang ia kira. Kampung halaman Jihoon banyak memberikannya hiburan. Dimulai dari terbit dan terbenamnya matahari, suara ombak yang menenangkan, sampai ke badai yang membuat Wonwoo terjaga semalaman.

Bicara mengenai terjaga. Wonwoo setengah mati berusaha mengubur pikirannya tentang, apakah Mingyu tidur dengan baik? Apa Mingyu makan dengan benar? Pasti Mingyu mengkonsumsi obat tidurnya lagi. Itu tidak baik. Aku harap aku bisa membantunya untuk tertidur seperti dulu.

"Sepertinya mereka memiliki umur yang panjang," Jihoon menyenggol Wonwoo pelan, "mereka datang."

Wajah masam Jun dan senyum sumringah Minghao menjadi hal pertama yang Wonwoo lihat. Jihoon berjalan mendekati Minghao dan mengambil satu dari dua tas besar yang pria kurus itu tenteng. Mereka berlalu memasuki rumah sedangkan Jun mendekati Wonwoo.

Beberapa saat hanya ada hening diantara keduanya. Hingga Jun berkata, "kuharap kau paham jika semua ini adalah salahmu."

Wonwoo mengangguk paham. Jelas selama ia berada di rumah ini bersama Soonyoung dan Jihoon, tak ada hari tanpa ceramah dari keduanya. Soonyoung terus menerus mengatakan pada Wonwoo untuk memperbaiki semuanya jika mereka diberi kesempatan kedua. 

"Kau baik-baik saja?" kali ini Jun bertanya dengan suaranya yang lembut. Dan ketika Wonwoo menggeleng, Jun merengkuh tubuh sahabatnya itu. "Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Kenapa kau bisa seceroboh ini?"

Jun tak mengharapkan jawaban dari pertanyaannya. Ia hanya berusaha memahami Wonwoo melalui pelukannya. Tidak ada rasa yang tersisa antara keduanya. Mereka bersih. Hanya saja hubungan sahabat yang terjalin selama lima tahun bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

"Soonyoung mengumpulkan kita semua disini," Jun mengurai pelukan itu dan beralih mencengkram kedua bahu Wonwoo, "kau tahu 'kan apa yang mungkin terjadi?"

"Kita akan bubar?" lirih Wonwoo.

Jun tertawa kecil karenanya, "tidak, kita tidak akan bubar seperti The Beatles. Kita mungkin akan kembali bersama." Jun berkata dan berusaha membuat Wonwoo merasa lebih baik. Ia pikir tiga bulan bersama dengan Soonyoung, Wonwoo sudah muak mendengar ceramah.

"Aku pikir aku akan menetap saja disini," Wonwoo memutar badannya dan menghadap pantai. "Melihat pantai dan laut membuatku merasa tenang."

"Kau menyukai pantai?"

Wonwoo menggeleng kecil, "tidak tahu," jawaban aneh dari orang aneh, pikir Jun. "Tapi kau tahu, ada orang yang menyuruhku untuk mati di laut. Itu hal mudah, mengingat aku tidak bisa berenang sama sekali."

Bukannya merasa tersinggung, Jun malah terkekeh. "Aku membaca fakta kalau mati tenggelam berada di urutan kedua cara mati paling menyakitkan setelah serangan jantung."

"Lebih sakit mana dengan disumpahi mati oleh orang yang kau cinta?"

Jun terdiam. Ia paham jika yang dibicarakan Wonwoo saat ini adalah lelaki bernama Kim Mingyu. Seorang sipil yang nampaknya sudah tahu siapa Wonwoo yang sebenarnya.

a man with spring in his smile || meanie || SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang