tujuh

261 38 0
                                        

Sudah dua hari Mingyu terburu-buru untuk pulang ke rumahnya. Memeriksa kucing liar yang masuk ke rumahnya seenaknya. Berharap jika sore ini si kucing masih ada di rumahnya. Ia tak keberatan jika kucing tersebut akan tinggal untuk selamanya. Karenanya Mingyu dapat tertidur dengan nyenyak di malam hari. Sebuah berkah.

Malamnya tak lagi panjang. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia menyentuh laptopnya. Rasanya begitu tenang. Malam hari ia bisa menjadi normal dan tertidur dengan baik. Ia tidak lagi menyentuh obat tidur yang harusnya sudah habis sejak lama. Sedikitnya ia berharap kehadiran kucing liar itu akan berlangsung lama.

"Mingyu, aku ingin pinjam pakaianmu, boleh?" Wonwoo bertanya sesaat setelah mendengar pintu apartemen Mingyu terbuka. 

"Cari saja di lemari, kau boleh menggunakan yang manapun," jawab Mingyu dengan kelegaan yang memenuhi hatinya. Ternyata si kucing masih ada di rumahnya. "Tunggu, kau tidur tanpa mengganti pakaianmu?"

Wonwoo yang baru saja membuka lemari pakaian Mingyu hanya tersenyum kecil. "Lagipula pakaianku tidak sekotor itu."

"Tetap saja harus diganti, 'kan?" Mingyu menyerah dengan imajinasinya tentang betapa kotor kasurnya sekarang. "Simpan pakaianmu di keranjang cuci, hari ini aku akan antarkan ke laundry."

"Kau tidak mencuci sendiri?" tanya Wonwoo dari arah kamar. Sedikit berteriak karena Mingyu kini tengah sibuk di belakang kompor.

"Untuk kali ini tidak," tangan Mingyu mengambil panci di bawah wastafel.

Wonwoo tak lagi menjawab. Lelaki itu mungkin sudah masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai merebus ayam yang ia bawa, Mingyu bergerak cepat masuk ke dalam kamarnya. Mengambil keranjang pakaian kotor yang berada di pojok ruangan. Menarik lepas seprai kasurnya dan segera menggantinya dengan yang baru.

Jujur saja, Mingyu tak tahan dengan pikirannya saat ini. Ia yang dibesarkan dengan cara yang terlalu ketat, membuat Mingyu tumbuh menjadi orang yang sama ketatnya. Ia tidak menyukai kekacauan, tidak juga menyukai melanggar peraturan. Ia tak suka kotor, pun ia tak suka sesuatu yang berantakan.

"Aku akan ke laundry sebentar, aku sedang merebus ayam di dapur, bisa nanti kau cek sesekali?" Mingyu berkata tepat di depan pintu kamar mandi. Darisana dapat Mingyu dengan jelas suara keran air yang dibuka dan juga sesekali suara kekehan Wonwoo.

"Aku tak jamin ya," Wonwoo menjawab. Sungguh jawaban Wonwoo sudah Mingyu perkirakan sebelumnya. Wonwoo yang selalu mengeluh tidak bisa memasak dan tak pernah sekalipun memegang kompor.

Ketika Mingyu bertanya apa yang Wonwoo makan selama ini, maka lelaki rubah itu akan menjawab nasi. Barulah ketika Mingyu mengganti pertanyaannya dengan, apakah kau pernah memasak sebelumnya, Wonwoo menjawab tidak pernah. Jeon Wonwoo, umurnya sudah diatas 20 tahun namun sekali pun ia tak pernah berada di dekat dapur.

Bukan karena tidak mau, hanya saja di hidup Wonwoo tidak pernah ada yang namanya dapur. Bahkan kasur pun ia memilikinya disaat umurnya 19 tahunan. Kompor adalah sesuatu yang tidak penting. Selama ada minimarket yang menjual makanan siap saji, maka semua permasalahan perutnya sudah tuntas.

Mingyu kembali menyerah untuk meminta pertolongan Wonwoo. Jadi sebelum ia pergi dengan setumpukan pakaian kotor, Mingyu mengecilkan nyala apinya. Melesat setengah berlari menuju laundry yang terletak tak jauh dari gedung apartemen tua miliknya. Berpikir jika lebih baik ia tak menghabiskan waktu berlama-lama diluar rumah. Siapa tahu Wonwoo mencoba memegang kompor namun hasilnya adalah dapur kesayangan Mingyu hangus terbakar.

Tapi beruntung bagi Mingyu, ia bahkan dapat kembali ke apartemennya sebelum air di panci mendidih. Meskipun kini nafasnya tersengal-sengal, ia tak masalah. Selama itu tidak merugikan dirinya.

a man with spring in his smile || meanie || SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang