Mingyu berkali-kali menghembuskan nafasnya panjang. Ia duduk lalu bangkit dan berjalan mondar-mandir. Kemudian duduk kembali. Menyesap air mineralnya banyak-banyak, kemudian kembali menghembuskan nafasnya. Berulang sampai seorang yang duduk di meja lain merasa terganggu dengan tingkah Mingyu.
Diawali dengan terik matahari dan siang yang panjang, kini musim berganti. Terlalu cepat, pikir Mingyu. Karena selama itu ia bahkan tidak menemukan keberadaan Jeon Wonwoo. Ia pikir lelaki itu akan berkeliaran di malam hari, namun sampai pagi menjelang Mingyu tak menemukan Wonwoo di jalanan manapun.
Jisoo menyarankan agar Mingyu mencari di daerah perumahan pinggiran kota. Tidak terlalu kumuh tapi tidak juga terlalu rapi. Mingyu sudah berkeliling daerah tersebut sebanyak lima kali, tidak, enam kali dengan hari ini. Namun tak kunjung ia menemukan Wonwoo.
Selama ini yang ada di pikiran Mingyu adalah bayangan Wonwoo yang sendirian. Membayangkan Wonwoo yang selalu tersenyum dan bertindak impulsif terkadang menimbulkan perkiraan aneh lainnya. Ia takut jika Wonwoo tak akan kembali padanya. Ia takut jika Wonwoo benar-benar mati.
Lalu sore ini Seungcheol mengirimkan sebuah alamat. Alamat tersebut menuntunnya ke daerah yang tak pernah ia ketahui bahwa kotanya memiliki daerah sesuram itu. Diseberang jalan sana ada sebuah gang yang cukup untuk satu scooter. Berpendar remang dan terlihat sunyi dibandingkan gang sempit lainnya yang selalu nampak hidup.
Setelah melihat jam yang semakin larut, Mingyu memberanikan dirinya untuk menyebrang jalan raya dan berdiri di ambang gang tersebut. Seungcheol berkata bahwa gang tersebut adalah tempat paling berbahaya di kota ini. Jika Wonwoo tidak ada dimana-mana, mungkin dia berada di gang sempit yang menjelma menjadi neraka dunia.
"Ugh!" Mingyu menutup hidungnya ketika bau pesing dan juga busuk bergabung menjadi satu. Menusuk hidungnya hingga ia merasa bahwa matanya berair.
Kakinya melangkah ragu memasuki gang tersebut. Dan bau tak sedap itu tak lagi tercium ketika ia semakin dalam berjalan masuk. Beberapa bar murah dengan wanita yang hanya memakai pakaian dalam menyapanya setelah 10 meter ia berjalan. Lalu pemandangan berganti menjadi daerah yang lebih sepi, namun mencekam.
"Kau tersesat?" tanya seorang perempuan yang mengapit rokok di jemarinya. Ia menelisik tubuh jangkung Mingyu dari atas hingga bawah. "Aku baru melihatmu di daerah ini."
"Aku—" Mingyu terbatuk kecil, "—aku mencari seseorang."
Perempuan itu menyesap rokoknya dalam-dalam, dan membuang asapnya ke arah samping. "Siapa?"
"Jeon Wonwoo," Mingyu mengeja nama Wonwoo dengan kaku, "kau mengenalnya?"
Wajah perempuan itu terlihat datar, namun dengan satu alis yang terangkat kecil Mingyu tahu jika nama Wonwoo tidak asing bagi perempuan itu. Setelah perempuan itu selesai menilai Mingyu, ia kembali menyesap rokok miliknya. "Tidak."
"Kau yakin?" kini Mingyu sedikit mendesak. "Jeon Wonwoo, dia memiliki mata yang terlihat tajam, tingginya tak jauh berbeda denganku—"
"Tidak," perempuan itu menyela penjelasan Mingyu.
"Siapa?" seorang lelaki dengan tattoo di sepanjang tangan kanan dan kirinya berjalan mendekati keduanya. Ia menatap Mingyu sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada perempuan tadi.
"Aku mencari Jeon Wonwoo," ujar Mingyu setengah berseru. Ia menarik perhatian beberapa orang disana, namun tak ia hiraukan. "Kau tahu dimana dia?"
"Kau, masuk," lelaki itu menyuruh perempuan yang mendecih kesal agar masuk ke dalam sebuah gedung di belakang mereka. Setelah tak lagi melihat ujung rambut perempuan tadi, barulah lelaki itu kembali bersuara, "ada apa kau mencarinya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
a man with spring in his smile || meanie || Seventeen
FanfictionPernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang memiliki senyum sehangat musim semi? WARN : BXB; MXM; Minwon; Mature content not just for segg part; M-preg; and other(s). Inspired by "decision to leave"
