Dua minggu. Tidak. Enam belas hari lebih 3 jam. Mingyu menunggu kabar dari Jeon Wonwoo yang menurut kabar dari Vernon dan juga Seungkwan—orang yang membersihkan genangan darah Wonwoo—akan segera sembuh. Namun hingga hari ini pun, Mingyu tak lagi mendapati keberadaan Wonwoo di depan rumahnya atau dimanapun.
Berkatnya Mingyu hampir saja merampungkan satu ceritanya. Ia yang awalnya hanya menganggap menulis cerita sebagai penguras tenaga saja, kini lebih menekuni hal tersebut. Banyak kisah yang sudah ia rampungkan, namun kisah ini lebih menarik daripada 10 lainnya.
Sayangnya kisah tersebut terhenti setelah kalimat,
dan si bodoh mengatakan bahwa lebih baik si misterius mati saja.
Ia tak sanggup membayangkan kelanjutan kisahnya sendiri. Hatinya menginginkan akhir yang bahagia seperti di banyak film yang ia tonton belakangan ini. Namun logikanya terus menerus mengatakan kemungkinan terburuk. Entah itu Jeon Wonwoo yang memilih untuk melupakannya atau mungkin Wonwoo yang memilih untuk menuruti kata-kata Mingyu.
Seungcheol dan Jeonghan mengatakan bahwa ada baiknya ia mulai menjalani kehidupan baru. Lagipula Wonwoo dan juga dirinya memiliki dunia yang berbeda. Seokmin mendukung perkataan orang tua Sunwoo itu, namun Jisoo berkata lain. Orang yang tengah mengandung itu mengatakan jika Wonwoo pasti akan kembali. Seberapa lama pun itu dan entah nanti kondisi Wonwoo akan serusak apa, Wonwoo pasti akan kembali pada Mingyu.
Mingyu tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan lebih memilih untuk mendengarkan seruan Chan tentang teman-temannya yang bahkan tidak bisa diingat oleh Mingyu. Sunwoo sendiri lebih banyak diam setelah empat hari dirawat di rumah sakit karena tak sengaja meminum sekotak susu kadaluarsa di lemari es.
Lagi-lagi Mingyu menatap layar laptopnya dengan tatapan kosong. Garis hitam yang terus berkedip di akhir kalimat membuat Mingyu gemas. Namun ketika jemarinya akan kembali mengetik, serasa ada sesuatu beban yang menarik jantungnya ke dasar. Ia tak sanggup.
Kisah tentang si bodoh dan si misterius yang berusaha ia rampungkan diberi nama "A man with spring in his smile" Sesuai dengan kondisi Mingyu tiap kali melihat senyum Wonwoo. Senyuman setipis apapun itu berhasil membuat dirinya menghangat. Kini ia seolah terperangkap dalam musim dingin yang tiada akhir.
Suara ketukan ribut di pintunya membuat Mingyu menoleh dengan cepat. Jantungnya berpacu bersamaan dengan matanya yang mengerjap. Harapan itu kembali datang padanya. Meskipun ia tahu jika bodoh untuk terus menerus hidup dalam kurungan harapan palsu, namun Mingyu memilih untuk menjadi bodoh daripada menjadi seorang pengecut.
Ketukan itu kembali terdengar, kini lebih cepat dan lebih kuat dibanding sebelumnya. Dan tak perlu 10 detik bagi Mingyu untuk bangkit dari duduknya hingga kini ia menarik knop pintu. Senyum yang ia persiapkan sejak lama harus perlahan luntur ketika melihat bukanlah Wonwoo yang berada di balik pintu tersebut, namun Seungkwan.
"Apa Wonwoo hyung ada disini?" tanyanya panik. Wajahnya basah oleh keringat, rambut yang selalu tertata rapi kini sudah mencuat kesana kemari.
Mingyu menggeleng, "dia sudah sembuh?"
Seungkwan tidak menjawab. Ia sedikit berlari menuju tangga dan menghiraukan eksistensi Mingyu disana. Suaranya begitu bulat dan kencang, kentara bahwa ia tengah diselimuti oleh rasa panik.
"Dia tidak ada disini!"
Dan ketika Mingyu sadar, Seungkwan datang kemari bersama dengan Vernon. Lelaki berdarah campuran itu mengangguk dan segera mengeluarkan ponselnya. Menelpon seseorang dengan sama terburunya seperti Seungkwan.
"Dia sudah sembuh? Apa Wonwoo sudah sembuh?" Mingyu sekarang mengekori Seungkwan yang menuruni tangga dengan langkahnya yang rapat.
"Dia sudah sembuh seminggu yang lalu," jawab Seungkwan.
KAMU SEDANG MEMBACA
a man with spring in his smile || meanie || Seventeen
FanfictionPernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang memiliki senyum sehangat musim semi? WARN : BXB; MXM; Minwon; Mature content not just for segg part; M-preg; and other(s). Inspired by "decision to leave"
