duapuluh

275 31 1
                                        

"Kau yakin tidak ingin pulang bersamaku?" tanya Mingyu ketika dirinya dan Wonwoo berdiri di sisi jalan sembari menunggu taksi kosong. Ia mengantar Wonwoo yang sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit tadi siang. Namun saat akan membawanya pulang ke rumah petakan milik Mingyu, Wonwoo menolak.

"Masih ada yang harus aku lakukan," Wonwoo tersenyum kecil. "Aku akan segera menemuimu kembali. Jangan datang ke markas lagi, jangan mencariku."

"Kau selalu mengatakan itu sebelum nantinya kau menghilang dan hampir membuatku gila," Mingyu dengan rengekannya.

Tak kuasa menahan gemasnya, Wonwoo hanya bisa tertawa mendengar rengekkan bayi besar ini. "Aku berjanji, aku akan kembali. Ada yang harus aku bereskan terlebih dulu."

Mingyu tak ingin lagi percaya pada omong kosong Wonwoo. Itu terlalu membuatnya risih. Seperti berjudi dengan seorang tazza. Wonwoo adalah seorang pemain yang curang. Ia akan menyebar janji bahkan ungkapan manis sebelum nantinya menyakiti dengan sangat dalam.

Saat pikirannya penuh dengan kemungkinan jelek, tubuh Mingyu limbung ke depan karena Wonwoo menarik pelan tubuhnya. Memeluknya singkat seolah pelukan normal orang yang akan berpisah. Mingyu tidak menyukainya.

"Aku akan segera kembali. Jangan mencariku, jangan juga datang ke tempatku," Wonwoo menyampirkan tas ransel berisi pakaian dan juga obat-obatan yang ia anggap sebagai vitamin penambah nafsu makan. 

Sebuah taksi berhenti di depannya, dan tanpa menunggu lama Wonwoo masuk dengan sedikit tergesa. Meninggalkan Mingyu yang harus mengumpat dalam hati. Bahkan Wonwoo tak mengucapkan salam perpisahan seperti sampai jumpa atau semacamnya. 

Lagi-lagi Mingyu ditinggalkan tanpa kepastian yang jelas. Meskipun Wonwoo berkata bahwa ia akan kembali, namun tak ada jaminan yang membuatnya bisa percaya. Jeon Wonwoo beserta dengan pikiran rumitnya, berpamitan padanya seolah menghilang berbulan-bulan adalah hal yang wajar.

Lama Wonwoo dirawat karena keracunan obat-obatan dan juga malnutrisi, terlepas dari kondisinya yang hampir mati tenggelam, dua keadaan itu lebih membuat tubuh Wonwoo rentan. Dokter yang menangani Wonwoo berkata bahkan jika Wonwoo tidak menenggelamkan dirinya di pantai pun, Jeon Wonwoo paling akan hidup selama satu minggu lagi. Penyebabnya adalah keracunan obat-obatan yang tercampur tanpa takaran dalam tubuhnya.

Selama itu, rekan kerja Wonwoo tidak pernah absen untuk datang setiap harinya. Jun, pria yang selalu datang dan bercerita kesana-kemari. Minghao, lelaki berwajah lembut itu selalu membawakan makanan untuknya. Jihoon, si pucat yang ternyata tengah mengandung. Lalu pasangan muda Vernon dan Seungkwan yang akan membuat Wonwoo tertawa.

Sekali pun Soonyoung tak pernah datang untuk menjenguk. Meskipun Jihoon berkata bahwa Soonyoung sering datang ke rumah sakit untuk mengurus segala hal tentang Wonwoo, tetapi pria itu enggan untuk datang dan bertemu dengannya. Wonwoo paham betul kenapa kakaknya itu tak pernah datang. Bagaimanapun juga, dibandingkan Wonwoo, Soonyoung memiliki kenangan yang buruk dengan rumah sakit.

Jika saja dulu Soonyoung lebih bisa mengekspresikan emosinya, maka pribadi Soonyoung yang sekarang mungkin tidak akan ada. Karena dulu Soonyoung adalah orang yang dipaksa untuk menjadi dewasa, maka sekarang ia tak pandai untuk melakukan sesuatu yang agak kekanakan

Wonwoo merasa bersalah karenanya. Ia mengingat dengan betul bagaimana dulu Soonyoung akan membangunkannya di tengah malam. Berkata bahwa mereka harus kabur dari panti tersebut. Meskipun Wonwoo sudah merasa nyaman, tetapi Soonyoung berkata bahwa mereka tidak bisa lama-lama berada disitu.

Wonwoo masih mengingat beberapa nama palsu yang diberikan Soonyoung sebagai penyamaran tiap kali mereka hendak mengetuk pintu panti. Min-Soo, Tae-Yang, Han, Han-Eul dan masih banyak lagi. Namun benar-benar, nama Jeon Wonwoo adalah yang paling ia senangi dan sukai. 

a man with spring in his smile || meanie || SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang