tigabelas

228 33 0
                                        

Untuk pertama kalinya dalam hidup Mingyu, semalaman ia menahan kantuknya. Pada kondisi biasa Mingyu selalu menantikan si kantuk. Namun ketika hal tersebut datang, Mingyu malah menjaga matanya agar tetap terbuka dengan cara mengulang-ulang potongan ingatan tentang bagaimana sekelabat sosok Wonwoo yang memakai coatnya berlari setelah seorang pemuda yang babak belur menunjuknya dan mengatakan bahwa Wonwoo berusaha membunuhnya.

Lucu. Karena hal terakhir yang Mingyu ingat tentang Wonwoo adalah bagaimana caranya untuk tidak melupakan pria itu. Namun sekarang ketika ia berusaha mengingat Wownoo yang terjadi malah Mingyu mengingat bagaimana paniknya wajah Wonwoo dan tubuhnya yang terseret oleh pria jangkung lainnya.

Suara deret besi tua terdengar lebih menyebalkan hari ini. Suara ribut dari kantong plastik yang ia jinjing membuatnya hilang kesabaran. Suara tawa anak-anak yang tertawa dan berlarian hampir membuatnya melemparkan batu pada kumpulan anak-anak itu. 

Pada akhirnya Mingyu dipulangkan lebih awal dari tempat kerjanya. Seharian ini Mingyu seolah berusaha membuat dirinya sendiri terluka. Dan dengan sisa amarah yang ada, Mingyu berjalan dengan langkah yang terhentak-hentak.

Amarah yang hampir tandas, kini tumbuh kembali tatkala matanya menangkap sosok Jeon Wonwoo yang bersandar pada pinggiran pagar. Menyesap rokoknya tanpa mau peduli dan masih menggunakan pakaian seperti kemarin. Yang berbeda adalah wajahnya yang penuh luka dan satu tas besar yang sama-sama ia sandarkan pada pinggiran pagar.

Wonwoo yang belum menyadari hadirnya Mingyu di lantai bawah masih asyik menyesap rokoknya dengan wajah stoic. Mingyu mengira-ngira, seperti inilah wajah Wonwoo jika ia tidak ada di dekatnya. Dingin dan bahkan seolah tanpa jiwa. 

Ketika Wonwoo menunduk sembari mengeluarkan asap dari mulutnya, pria Jeon itu tersentak menyadari hadirnya Mingyu yang tengah menatapnya tajam. Buru-buru Wonwoo mematikan rokoknya dan melambai riang. Senyum langsung terukir di wajahnya yang tadi sekaku batu. 

"Kau pulang cepat?" tanyanya dengan suara riang. Terdengar begitu asli. 

Mingyu tidak menjawab dan hanya berjalan menaiki tangga yang berderit. Ia mengabaikan hadirnya Wonwoo dan langsung membuka pintu apartemennya. Namun sedikit hati nuraninya membiarkan pintu terbuka hingga Wonwoo bisa masuk.

Sikap Wonwoo yang bertindak seolah tak terjadi apa-apa, membuat Mingyu semakin geram. Ia menatap kompor lamat-lamat. Bergulat dengan pemikirannya sendiri, sekaligus dengan rasa mual yang muncul tiba-tiba. Suara Wonwoo yang terdengar riang membuat semuanya terasa buruk.

"Tutup mulutmu," desis Mingyu tanpa mau mengalihkan pandangannya dari kompor. Kedua tangannya semakin kuat meremat pinggiran konter dapur hingga ia merasakan sakit pada buku-buku jarinya.

Wonwoo yang mendapati desisan itu menghentikan ocehannya tentang rasa sakit dan perih yang ia rasakan kini. Mulutnya sedikit terbuka dan langkahnya terhenti. Rasa takutnya menjadi nyata. Mingyu mengetahui siapa dirinya.

"Siapa kau sebenarnya?" Mingyu kembali bersuara, masih tak mau menatap Wonwoo secara langsung. 

"Aku Jeon Won—"

"Sekali saja—" suara bentakkan Mingyu membuat Wonwoo sedikit tersentak, "—kumohon, untuk sekali saja jujur padaku. Siapa dirimu? Apa kau benar-benar orang yang membuat seorang anak berusia 17 tahun hampir mati?"

"Darimana—darimana kau tahu?" Wonwoo rasa nyawanya sudah berada di pangkal tenggorokkan. Ia tak lagi bisa merasakan kakinya. Semuanya terasa begitu dingin. Hanya suara detak jantungnya yang bagai badailah satu-satunya tanda ia masih hidup.

Benar kata Jun, sebaiknya Wonwoo ikut dengan Soonyoung pergi ke rumah Jihoon di Busan. Daripada pulang ke Mingyu, ada baiknya Wonwoo bersembunyi bersama pasangan itu sampai keadaan menjadi lebih baik.

a man with spring in his smile || meanie || SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang