Kim Mingyu muda dibesarkan dengan cara yang kelewat kaku dan ketat. Didikan dari ayahnya terlalu kental, hingga Mingyu menjadi anak muda yang jarang sekali melanggar peraturan. Menjadi anak dari seorang polisi, beban yang ditanggung Mingyu lebih dari sekedar menjadi anak pertama laki-laki di keluarganya.
Ayah Mingyu menanamkan pada Mingyu muda bahwa melanggar satu peraturan sama halnya menjadi seorang penjahat. Dan itu sama saja dengan mengatakan bahwa pelanggaran sekecil apapun tidak bisa ditolelir.
Pernah satu kali Mingyu memakan makanan milik sang adik yang disimpan di lemari pendingin. Sepele, hanya sepotong kue dari kue ulang tahun Mingyu kala itu. Ketika sang adik mengetahui jika kue yang ia simpan dimakan oleh kakak laki-lakinya, anak perempuan itu tak memiliki pilihan lain selain menangis sekuat-kuatnya.
"Kakak yang memakannya," ujar adik Mingyu ketika sang Ibu bertanya siapa yang memakan kue miliknya. Dan Mingyu tak bisa menyangkal.
Maka semalaman itu Mingyu menghabiskan waktunya dengan menangis karena rasa sakit akibat jeweran dari sang ayah bukan main-main. Darisanalah Mingyu menjadi anak yang bahkan tidak pernah berani untuk mengambil potongan pertama dari makanan milik orang lain.
Lalu ketika sang ayah meninggal akibat serangan jantung, secara sepihak dan mendadak Mingyu berubah menjadi kepala keluarga. Usianya baru tujuh belas saat itu, namun beban yang ia pikul semakin berat. Menjadi keluarga dari seorang polisi berpangkat rendah tidak terlalu membuat kondisi ekonomi mereka baik.
Sang Ibu mulai bekerja kembali, begitu pula dengan Mingyu yang mulai mencari pekerjaan sampingan. Sang adik lebih sering bermain sendiri di rumah. Namun kondisi keluarga Mingyu tidak terlalu buruk, mereka masih bisa dengan layak hidup. Bahkan sesekali mereka bertiga pergi untuk berlibur.
Semuanya berubah ketika Ibu Mingyu menyusul sang Ayah. Kecelakaan di tempat Ibu Mingyu bekerja tidak bisa terelakan. Bukan hanya Ibu Mingyu yang menjadi korban, lebih dari 100 orang anak terpaksa menjadi piatu, dan 15 orang terpaksa menjadi yatim. Sedangkan bagi Mingyu dan adiknya mereka berubah menjadi yatim-piatu.
Umurnya dua puluh saat itu, maka Kim Mingyu menolak ketika sang nenek hendak mengajak Mingyu untuk tinggal bersama. Beda halnya dengan sang adik, Mingyu menyuruh adiknya untuk tinggal bersama sang nenek. Alasannya agar neneknya tidak sendirian di rumah, namun tentu saja itu hanya alasan penuh dusta saja.
"Aku akan pergi menyusul Seungcheol hyung dan juga Seokmin." Itulah yang Mingyu katakan ketika para paman dan bibinya bertanya mau kemana dia setelah ini.
Ayah dan Ibu dari Choi Seungcheol—sepupu Mingyu—menyatakan rasa setuju mereka dengan menelpon Seungcheol untuk membantu Mingyu. Sedakan Ibu dari Seokmin berkata bahwa ada baiknya Mingyu tinggal bersama Seokmin sementara waktu. Meskipun begitu, Mingyu lebih memilih mencari hunian sementara daripada harus merepotkan para sepupunya.
Hingga saat ini, Mingyu bersyukur karena hidupnya tidak pernah kekurangan. Sang adik kini menjadi mahasiswi dan masih tinggal bersama sang nenek. Bagi Mingyu sendiri dia memiliki pekerjaan yang cukup baik dengan hasil yang setimpal. Ia memiliki hunian yang nyaman dan juga para sepupu yang meskipun berisik tetapi menyayanginya seperti adik sendiri.
Dan kini, Mingyu semakin bersyukur karena hadirnya orang asing yang meringsek ke dalam hidupnya bagaikan badai. Meskipun begitu, Mingyu tidak masalah. Prinsip hidupnya adalah, selama tidak merugikan dirinya maka semua hal adalah tidak apa-apa.
Namun ketika ia bangun pagi itu dan tak mendapati Wonwoo disampingnya, Mingyu memaksakan dirinya untuk berpikir bahwa Wonwoo pasti akan kembali. Tak peduli sejauh apa, tak peduli berapa lama, Wonwoo pasti akan kembali padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
a man with spring in his smile || meanie || Seventeen
FanfictionPernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang memiliki senyum sehangat musim semi? WARN : BXB; MXM; Minwon; Mature content not just for segg part; M-preg; and other(s). Inspired by "decision to leave"
