"Aku ingin meminta nomor teleponmu," suara Mingyu begitu lantang terdengar.
Wonwoo yang tengah memainkan ponsel lipat—benar-benar ponsel lipat keluaran tahun '90-an—langsung menatap Mingyu dan tersenyum. "Aku tidak punya ponsel."
"Kau sedang memainkannya," matanya memincing jengah ketika mendengar jawaban Wonwoo. "Aku tidak keberatan harus menelponmu atau mengirim pesan singkat."
Disimpannya ponsel bermerk motorola dengan warna yang terlalu mencolok itu, Wonwoo kemudian tersenyum dan menunjukkan kedua telapak tangannya yang kosong. "Sudah tidak ada."
"Ayolah," Mingyu mulai pandai merajuk dan Wonwoo semakin kebingungan karenanya.
"Ponselku tidak memiliki internet. Itu ponsel ditemukan sebelum internet ada," canda Wonwoo. Namun itu kenyataan.
Selama ia bekerja pada Soonyoung, Wonwoo tak pernah memiliki ponsel pribadi. Semua ponsel yang ia miliki hanyalah ponsel keluaran lama. Tidak ada internet dan hanya bisa digunakan untuk menerima telepon atau pesan singkat. Dan semua ponsel itu harus dibuang tiap kali mereka menyelesaikan satu pekerjaan.
Soonyoung orang yang rapi, ditambah rapi dengan kehadiran Jihoon dalam hidupnya. Maka mereka berdua selalu mengingatkan untuk membersihkan hasil pekerjaan. Karena itulah, Wonwoo tak bisa memberikan nomornya pada Mingyu. Karena ponsel itu bersifat sementara. Sedangkan dirinya tak bisa menggunakan ponsel pribadi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan karena terlalu bahaya.
Bahkan Jun dan Minghao pun harus menggunakan gaya lama untuk mengabari keluarga mereka di China sana. Surat atau mungkin menitipkan kabar pada sesama pekerja ilegal di Korea.
"Aku bisa menelponmu 'kan?" Mingyu masih bersikeras untuk meminta nomor dari pria Jeon itu. Ia tak tahu kapan Wonwoo akan pergi darinya. Maka dari itu, saat inilah yang tepat baginya untuk meminta nomor dari Wonwoo.
"Tidak boleh," tolak Wonwoo tegas. "Untuk apa kau menelponku?"
"Kau selalu pergi jauh dan lama, aku tidak tahan," jelas Mingyu dengan nada yang menggebu-gebu.
"Kau merindukanku?" Niat hati ingin menggoda dan membuat pria Kim itu tersipu malu, tetapi yang Wonwoo dapatkan justru sebaliknya.
Ketika Mingyu menjawab, "aku sangat merindukanmu." Disana lah yang tersipu malu justru Wonwoo.
"Kau harus percaya padaku," Wonwoo menangkup wajah Mingyu kuat-kuat, "aku akan selalu kembali padamu. Kau rumahku, jangan lupakan itu."
Kemudian Wonwoo mencuri ciuman singkat dari bibir Mingyu. Tersenyum semanis mungkin tanpa meninggalkan sisa rasa yang berlebihan.
"Sebenarnya pekerjaan apa yang lakukan sampai kau mendapat luka separah itu?" Mingyu mengusap sisi kiri tubuh Wonwoo perlahan. Tepat diatas perban yang seharusnya diganti hari ini.
"Aku pekerja harian lepas," lagi, Wonwoo menjawab sembari menutup-nutupi. "Aku melakukan pekerjaan yang diminta para klien. Hanya saja, pekerjaan terakhirku salah briefing, jadi aku dan temanku sampai terluka seperti ini."
Pada dasarnya Wonwoo tak berbohong. Ia hanya menutup-nutupi dan sedikit menggunakan kata ganti agar tak menimbulkan tanya yang berlebihan pada Mingyu. Manusia senormal Mingyu pasti akan terkejut ketika Wonwoo menjelaskan bahwa pekerjaan terakhirnya adalah membantu penyelundupan barang-barang ilegal dan luka yang di dapatkan itu adalah akibat dari dua kali tusukan belati.
Rasanya Mingyu ingin menekan Wonwoo untuk mengatakan selengkapnya. Menceritakan dari awal kepergiannya hingga bagaimana bisa Wonwoo tiba-tiba berada di restoran Jisoo. Namun hal itu pasti akan menimbulkan ketidak nyamanan. Maka Mingyu lebih memilih menelan kembali semua tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
a man with spring in his smile || meanie || Seventeen
FanfictionPernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang memiliki senyum sehangat musim semi? WARN : BXB; MXM; Minwon; Mature content not just for segg part; M-preg; and other(s). Inspired by "decision to leave"
