duabelas

235 34 2
                                        

"Hei, hei. Katakan, bajingan gila, kalian dibayar oleh siapa?" suara seorang pemuda tertangkap jelas oleh dua lelaki dewasa disana. "Dengar, aku tak tahu untuk siapa kau bekerja dan berapa uang yang kalian dapatkan dari pekerjaan ini. Tapi, aku bisa membayar kalian lebih banyak. Dua kali lipat, bagaimana?"

Wonwoo bungkam, bersamaan dengan Minghao yang menghela nafasnya jengah. Semalaman mereka diam di tempat dingin dan berbau lembab seperti ini. Mendengarkan ocehan anak berusia 17 tahun yang terus menerus membicarakan uang. 

"Kalian ini tuli atau memang bodoh? Aku bilang aku bisa membayar kalian dua kali lipat," anak tersebut terus bersuara, "oke, tiga kali lipat. Lepaskan ikatan tanganku dan kalian akan kubayar tiga kali lipat. Masing-masing, jadi kalian tidak perlu berbagi."

"Bisa diam tidak?" Minghao berkata dengan nada ketusnya. "Kau berbicara sepanjang malam, apa mulutmu tidak pegal?"

Wonwoo tak mau membalas ucapan anak lelaki itu. Ia masih betah berjongkok menghadap pintu masuk gudang tersebut. Memainkan ranting kayu yang ia temukan entah darimana. Mengorek-ngorek tanah seperti seorang anak yang kebosanan.

"Aku ingin kencing," anak itu kembali bersuara. "Aku bilang aku ingin kencing! Kau mau aku kencing di celanaku?"

"Ya!" sentak Minghao. "Kencing saja di celanamu, kami tak peduli!"

"Yasudah, kalau begitu aku lapar!" balas sang anak dengan suara yang tak kalah kerasnya. "Belikan aku makanan jika kalian memang ingin menjualku dalam keadaan hidup-hidup!"

Wonwoo bergerak untuk pertama kalinya sejak mereka datang ke tempat itu. Ia menyimpan ranting pohon dengan halus. Ia mendesah karena rasanya kakinya mati rasa. Tangannya menggapai sebotol air mineral dan menyodorkannya tepat di depan wajah sang anak.

"Minum saja," suara rendah Wonwoo memenuhi ruangan kosong tersebut, "manusia bisa bertahan seminggu tanpa makanan, tapi tidak dengan air. Minum dan kau akan tetap hidup selama seminggu."

"Kau berlagak pintar," dengus sang anak. "Monyet sepertimu yang bekerja rendahan seperti ini, darimana kau belajar? Internet?"

"Dari jurnal." Wonwoo tak berbohong. Ia sudah banyak sekali mendengarkan berbagai macam jurnal yang dibacakan oleh Mingyu. Dan salah satunya adalah tentang hal ini.

"Kau bisa membaca?" sang anak mulai berlagak pongah, "ah, itu sebabnya kau menggunakan kacamata? Tunggu, dimana kau mendapatkan kacamata itu? Anjing jalanan—Argh!"

Suara erangan terdengar bersamaan dengan suara bedebam tubuh yang menghantam lantai semen penuh tanah itu. Kelontrang kursi besi menambah semua simfoni aneh disana. Minghao dengan satu kaki masih terangkat menatap tajam pada sang anak yang sudah tersungkur jatuh tepat di depan kaki Wonwoo.

"Kau tak perlu mendangnya sekeras itu," Wonwoo mengomentari kelakuan Minghao dengan satu kakinya yang sudah menginjak kepala anak komisaris polisi tersebut. Sedikit menekan ujung sepatunya dan menggerakkannya seperti tengah mematikan puntung rokok.

"Dia pantas mendapatkannya."

"Bajingan! Pindahkan kakimu dari kepalaku! Kau tidak tahu siapa aku? Berani-beraninya kalian memperlakukanku seperti ini!"

"Anak babi yang tumbuh dengan uang pajak sepertimu tak pantas membanggakan diri," ujar Wonwoo. Ia membuka botol air mineral yang sedaritadi dipegangnya. Membalikkan badan sang anak hingga ia menengadah namun tetap dalam kondisi terbaring. "Minum!"

Dengan perlahan Wonwoo menumpahkan air dan tepat mengenai wajah sang anak. Ekspresinya yang datar membuat Minghao sedikit bergidik ngeri sebelum memilih untuk keluar dari ruangan itu. Tak peduli dengan teriakan frustasi dari sang anak karena air tersebut lebih banyak masuk ke hidungnya.

a man with spring in his smile || meanie || SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang