. Sekolah .

2.2K 204 2
                                        

Perlu waktu Seminggu untuk Jeno di rawat di Rumah Sakit. Sekarang dia sudah berada di rumah Soobin. Mengapa di rumah Soobin? Karna dirinya belum sempat mencari rumah untuk di tinggali, sedangkan Mark sudah memberikan semua hal yang dia janjikan 4 hari setelah Operasi. Soobin menawarkan untuk tinggal di rumahnya selama sementara, karna memang dia sedang perlu akhirnya Jeno mengangguk menyetujui.

Selama tinggal di rumah Choi bersaudara, keduanya tidur bersama dan tak ada yang menentangnya sama sekali. Lagipula tidak akan ada yang fatal jika terjadi sesuatu. Tetapi Soobin selalu sangat berhati hati saat tidur bersama karna takut mengenai jahitan Jeno. Padahal jahitannya sudah mengering, walaupun Jeno masih belum di perbolehkan mengerjakan banyak hal karna dapat beresiko terjadinya nyeri pada bekas jahitan.

Bagaimana rasanya ginjal hilang sebelah? Jeno tak dapat merasakan perbedaannya dia merasa sama saja seperti biasa. Entah mungkin karna dia tidak peka pada hal hal tersebut atau memang tidak ada perbedaannya dia tidak tau.

Setiap hari Soobin merawatnya sepulang Sekolah, terkadang ada juga Yeonjun dan Beomgyu yang selalu memperingatkan dirinya agar jangan terlalu kelelahan dan sebagainya.

Hari hari berlalu begitu saja sampai akhirnya di minggu ke 2 pasca Operasi, Jeno memilih untuk kembali bersekolah. Bekas operasi sebenarnya sudah sembuh, tapi Jeno merasa harus membiasakan tubuhnya yang kini berubah hanya memiliki satu ginjal karna itu dia meminta cuti 2 minggu. Sekarang dia sedang bersiap untuk bersekolah, ah dia lupa mengatakan semua baju bajunya di ambilkan oleh Soobin dari rumah keluarga Lee. Pemuda itu sungguh sangat perhatian.

"Jeno..."

Pintu terbuka, memperlihatkan sosok tinggi melangkah masuk mengenakan seragam Sekolahnya, terlihat segar dan tampan.

"Aku udah selesai, ayo" Jeno tersenyum menggandeng tangan Soobin dengan alami.

"Kalo gitu ayo" Soobin mengambil tas di atas meja, menggenggam tangan Jeno untuk turun bersama.

Keduanya turun ke bawah kebetulan bertemu dengan Yeonjun dan Beomgyu yang hendak berangkat ke Sekolah juga.

"Pagi Kak Jen!" Seru Beomgyu riang.

"Pagi Gyu..." Jawab Jeno tersenyum tipis.

"Kalian hati hati" peringat Yeonjun. Soobin mengangguk. Keempatnya keluar bersama dan berpisah. Yeonjun bersama Beomgyu menggunakan motor milik Yeonjun karna Beomgyu biasa di antar oleh Kakak tertuanya.

Sedangkan Jeno dan Soobin berjalan kaki karna Dokter berkata jangan terlalu sering mengendarai sepeda motor untuk Jeno.

"Udah lama aku gak keluar" celetuk Jeno menghirup nafas dalam dalam merasakan sejuknya embun pagi. Sosok di sampingnya terkekeh pelan.

"Sekarang udah keluar kan?"

"Hehe iya!" Angguk Jeno tersenyum lebar. Senang rasanya masih berada di dunia karna jika dia meninggal, dia tak yakin dapat masuk surga:v.

(Viel ngerasa nih cerita jdi banyak berisi pakta buset🚶🏻)

Tak perlu waktu lama hingga keduanya tiba di Sekolah, terlihat siswa siswi berlalu lalang di mana mana.

"Widih! Pangerannya udah balik Sekolah nih" sebuah suara membuat keduanya menoleh, sekelompok pemuda berjalan mendekat ke arah mereka.

"Kita bakal di lupain lagi nih abis ini" timpal sosok lain.

Jeno melihat ketiganya, itu adalah teman teman Soobin, rasanya sudah cukup lama dia tak melihat ketiganya.

"Namanya juga bukan Jomblo lagi, makanya cari pasangan" ucap Soobin terkekeh pelan. Ketiganya langsung mencibir, bucin mah beda.

"Lama gak ketemu kita Jen" Eric menatap Jeno dari atas ke bawah dengan mata menyipit.

"Lo makin kurus kayanya" lanjutnya.

"Hahaha, iya nih" angguk Jeno tertawa pelan.

"Gabung kumpul sama kita lah Jen, biar Soobin mau ngumpul bareng kita terus" celetuk Hwall. Jeno menatapnya sejenak, lalu melirik Soobin yang tersenyum tipis ke arahnya.

"Oke oke, geret aja dia kalo gak mau kumpul sama kalian" angguk Jeno dengan senang hati.

"Takutnya ntar lo gak ada temennya kalo kita geret si Soobin buat di ajak main bareng Jen" timpal Jihoon tertawa pelan diikuti tawa yang lainnya.

"Gapapa" Jeno tersenyum tipis.

"Udahlah. Ayo masuk" sela Soobin menarik Jeno untuk kembali berjalan. Yang di tarik hanya mengangguk mengikuti dengan tiga lainnya mengekori di belakang keduanya.

Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Keduanya duduk dengan tertib menunggu guru masuk ke dalam kelas sedangkan yang lain ke kelas mereka masing masing karna Hwaal, Eric dan Jihoo berada di kelas IPS 1.

Kurang dari 10 menit kemudian seorang pria paruh baya mengenakan kacamata masuk dengan buku di tangannya dan mulai mengajar.

Awal belajar semua berjalan dengan lancar, tetapi di pertengahan Jeno merasa sedikit tidak nyaman pada area jahitan membuat wajahnya memucat.

"Jen? Kenapa?"

Soobin yang menyadari keanehan Jeno diam diam bertanya dengan nada khawatir. Tangannya di bawah meja tanpa terlihat menelusup menyentuh perut Jeno, mencoba membelai bekas jahitan yang tertutup oleh seragam tipis.

"Enggak papa, cuma kaya pegel gitu. Tapi bukan pegel" geleng Jeno berbisik pelan, menggenggam tangan Soobin yang berada di perutnya.

"Mau ke Uks? Biar aku antar" wajah Soobin sudah sedikit cemas, dia takut Jeno kenapa napa.

"Jangan, tunggu istirahat aja. Mungkin tubuh aku masih membiasakan diri" tolak Jeno memberikan senyum lembut. Tadinya Soobin hendak protes, tetapi ketika melihat wajah lembut Jeno dia tak mampu menolak. Pada akhirnya dia hanya mengangguk terus mengusap perut Jeno sepanjang pelajaran sembari sesekali mengobrol dengan Jeno apakah dia merasa nyaman atau tidak atau ini dan itu.

Jeno sampai terdiam menghadapi Soobin yang sangat perhatian ini, mengapa ada sosok seperti Soobin di dunia ini? Pria ini terlalu sempurna untuknya yang memiliki banyak kekurangan.

5 menit sebelum bel istirahat, terdengar suara ketukan pintu, menyebabkan kelas yang tadinya bising menjadi hening, semua pandangan tertuju ke arah pintu kelas.

"Masuk" ucap Guru meletakkan bukunya ke atas meja. Pintu kelas langsung terbuka memperlihatkan seorang Siswi berwajah cantik.

"Maaf Pak, ada Siswa bernama Lee Jeno? Dia di panggil ke kantor Kepala Sekolah"

"Ada. Jeno?" Guru menoleh menatap sosok yang di sebutkan. Jeno kaget sejenak, dia melirik Soobin yang mengerutkan alisnya.

"Aku pergi dulu" ucapnya pelan berjalan ke arah pintu kelas. Soobin walaupun ragu tetap mengangguk menatap punggung Jeno yang semakin mengecil hingga akhirnya menghilang di balik pintu.

"Baiklah Sampaj di mana tadi?"

"Sampai di Kata Ganti!" Seru seisi kelas. Guru mengangguk lanjut menjelaskan.

.

Tok tok

"Masuk"

Ceklek

"Pagi Pak?" Sapa Jeno masuk ke dalam ruangan Kepala Sekolah. Di dalam terlihat seorang Pria 50 an duduk berhadapan dengan Pria paruh baya yang sedang duduk memunggunginya.

"Jeno? Silahkan duduk di samping tuan Son" Kepala Sekolah mempersilahkan dengan senyum ramah. Jeno mengangguk duduk di samping Pria paruh baya yang sempat memunggunginya.

















Yoitttt

Hello ges

Ramein dong

See u~

Circle Of Destiny ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang