.... Rencana .

2.2K 198 7
                                        

"Makasih udah mau jemput aku dari rumah Son"

Jeno tersenyum tipis begitu keluar dari Rumah Sakit bersama Soobin. Setelah keluar dari rumah Son, keduanya pergi ke Rumah Sakit untuk mengobati luka tembakan Soobin juga memeriksakan jahitannya apakah baik baik saja.

"Itu udah kewajiban aku buat jemput kamu. Aku juga harus bilang makasih, berkat kamu tembakan Eric meleset" Soobin menepuk kepala Jeno dengan sayang sedangkan yang di tepuk hanya tersenyum manis, sangat berbeda dengan saat dia memukuli Eric. Omong omong keduanya membiarkan Eric tak sadarkan diri tanpa membantunya sama sekali. Biarlah, jika selamat itu berkah pemuda tersebut, jika tidak ya salahnya sendiri.

Lagipula jika mereka menuntut maka tentang Tuan Son yang mengurungnya juga Eric yang menodongkan pistol akan terbongkar, mereka pasti tak akan berani.

"Pulang?" Ucap Soobin menatap Jeno. Jeno mengangguk dengan senyumnya.

"Um! Mampir ke minimarket ya, mau beli banyak hal dulu"

"Oke, ayo"
L
Soobin hendak mengenakan helm nya, namun langsung di cegah oleh Jeno.

"Tunggu!"

"Kenapa?" Bingung Soobin.

"Aku aja yang bawa motornya. Tangan kamu sakit" tak membiarkan Soobin menolak, Jeno merebut helm di tangan pemuda tersebut dan langsung memakainya.

"Ha? Emang kamu bisa bawa motor?" Tanya Soobin khawatir. Jika dia ingat dengan benar Jeno tak pernah mengendarai motor.

"Gampang! Aku pernah belajar sama Kak Mark sekali" Jeno dengan percaya diri naik ke atas motor. Dia tak berbohong sama sekali, suatu kali Mark pernah mengajarinya mengendarai motor sport milik pria itu karna desakannya dan sedikit mengancam sebenarnya.

Walau ragu Soobin akhirnya naik di jok belakang, mencoba menenangkan hatinya dan percaya bahwa Jeno pasti bisa.

Tapi kenyataannya zonk! Jeno memang bisa mengendarainya! Tapi tak bisa berbelok ataupun manaik turunkan gigi!

Di jalan raya motornya berjalan sangat cepat! Dan kadang hampir menabrak pengendara lain membuat jantung Soobin naik turun.

Jeno sendiri mencoba untuk fokus, dia sedikit kaku karna pertama kali berkendara di jalan raya. Saat muncul tikungan dia mencoba berbelok tetapi motor lurus menuju selokan membuat wajahnya pucat. Untung saja Soobin yang duduk di belakang memiliki kaki dan lengan panjang mengambil alih setir.

"Kalo gak bisa jangan di paksa" ucap Soobin terkekeh pelan, Jeno menghela nafas lega mendengar ucapan Soobin matanya melirik sisi wajah pihak lain yang sangat dekat dengannya dari balik helm fullface milik Soobin yang dia kenakan.

Sebenarnya agak aneh berkendara dalam posisi seperti ini menggunakan motor sport, tetapi sepertinya Soobin nyaman nyaman saja? Herannya dalam hati.

"Berhenti dulu, aku pindah aja kalo gitu" ucap Jeno pada akhirnya dengan nada sedikit khawatir.

"Oke, berhenti di minimarket" angguk Soobin berbelok memasuki pekarangan minimarket yang untungnya tidak terlalu ramai. Jeno turun dengan lega melpas helm di kepalanya.

"Fyuhhh... Deg deg-an" dia tertawa pelan mengingat perjalanan di jalan tadi.

"Kalo gak bisa jangan sok bisa makanya" tegur Soobin mengetuk lembut hidung bangir Jeno sembari tersenyum simpul. Jeno mendongak menatapnya melihat sepasang mata yang penuh kasih dan memanjakan itu membuatnya selalu merasa perasaan hangat mengalir di hatinya.

"Aku percaya bisa karna kamu ada" Celetuk Jeno tersenyum lembut.

Mendengar kata kata Jeno, Soobin tertegun sejenak, apakah Jeno sepercaya ini pada dirinya? Dan dia selalu merasa kata kata Jeno memiliki makna yang lebih dalam dari kedengarannya.

Circle Of Destiny ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang