Maap kalo ada typo!
Brak!
Ruang ganti yang sepi terbanting dengan cukup keras, dapat di pihat sosok pemuda terengah engah di pintu dan mendongak menatap seisi ruangan ketika melihat sosok yang di carinya, dia menghela nafas lega. Untungnya dia ada di sini!
Soobin tak menghiraukan suara bantingan pintu dan terus mengancingkan kemeja seragamnya dengan tenang. Jeno sedikit takut melihat Soobin yang pendiam ini, dia dengan perlahan menutup pintu ganti agar tak menganggu pihak lain lalu berjalan mendekat.
"B-Bin..." Panggilnya takut.
Hening... Pihak lain sepertinya tak mendengarnya sama sekali.
"Soobin..." Jeno kembali memanggilnya. Soobin menutup lokernya tanpa menoleh.
"Hm?" Gumamnya diam di tempat. Ini tandanya dia masih memberi Jeno kesempatan untuk menjelaskan. Jeno yang menyadarinya menghela nafas lega.
"J-Jangan salah paham! Aku... Aku tadi cuma mau lihat luka di punggung aku, tapi tiba tiba Haechan muncul gitu aja dan aku kaget gak sempat bereaksi sa-"
"Siapa? Haechan? Kamu kenal dia?" Kini Soobin menoleh, wajahnya terlihat semakin dingin saat mengetahui bahwa Jeno ternyata mengenal pihak lain. Jeno tanpa sadar mundur selangkah melihatnya.
"A-a-aku..." Tenggorokan Jeno tercekat, mengapa Soobin terlihat menakutkan? Soobin tidak seperti ini, dia takut.
"Jawab Lee Jeno!" Suara pihak lain penuh dengan penekanan membuat Jeno menggigil.
"I-Iya, aku... Aku kenal dia waktu hujan deras itu di Sekolah, wa-"
"Jadi kamu nolak ajakan aku karna kamu mau berduaan sama dia?" Potong Soobin tajam.
"A-apa?" Jeno tertegun, apa? Apa maksud Soobin? Apakah maksudnya dia terus mencari alasan untuk berduaan dengan Haechan? Tapi dia dan Haechan hanya saling kenal! Itu saja tidak lebih!
"Iya Lee Jeno?" Suara Soobin kembali menyadarkan fikiran Jeno yang berkecamuk di kepalanya.
"Enggak!" Dia buru buru menggeleng.
"Itu awal aku kenal dia gak sengaja, dia di ajak temennya pulang tapi nolak juga karna beda arah. Terus kita ngobrol sebentar, abis itu pulang bareng karna rumah emang tetanggaan, dia baru pindah waktu itu. Terus karna bosen siangnya aku mau ajak dia keluar cari angin tapi dia mau pergi kumpul sama temennya, akhirnya dia ngajak aku, aku nolak karna gak enak, tapi akhirnya aku ikut karna dia ngajak aku keluar sebagai balasan ajakan aku. Udah itu aja aku kenal dia sama tiga temannya, dia juga udah punya pacar! Tadi itu gak sengaja!" Jeno dengan cemas menjelaskan dalam satu tarikan nafas, dia takut Soobin akan menyelanya lagi, jadi dia buru buru mengatakan semuanya.
Badannya bergetar, kedua tangannya mengepal erat, kepalanya menunduk terlihat menyedihkan. Jeno menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak menangis, Soobin kali ini sangat menyeramkan, membuatnya takut, rasanya dia jadi memiliki banyak keluhan juga amarah di hatinya karna Soobin tak percaya padanya. Padahal mereka sudah pernah berteman cukup lama.
Melihat Jeno yang menangis dalam diam di hadapannya, hatinya terasa nyeri, tidak seharusnya dia bersikap seperti ini pada Jeno, harusnya dia mempercayai Jeno. Tapi rasa cemburu membuatnya kehilangan akal sehatnya hingga membuat kekasihnya ketakutan seperti ini. Dengan perlahan dia melangkah mendekati Jeno lalu merengkuhnya ke dalam dekapannya.
"Maaf... Aku egois, harusnya aku tetep tenang dan tanya ke kamu secara baik baik. Maaf... Aku cuma takut kehilangan kamu" ucap Soobin menelusupkan wajahnya di leher Jeno dengan erat mengucapkan kata katanya dengan penuh rasa bersalah.
Mata Jeno memerah, balik memeluk Soobin dengan erat memejamkan matanya untuk menumpahkan semua rasa keluhannya.
Suara tangisan Jeno terdengar sangat keras, untung saja itu di blokir dengan mulut Jeno yang tertutup bahu Soobin. Itu lebih tepat seperti raungan menyedihkan.
"Ssttt... Maaf... Maafin Soobin... Sakit punggungnya?" Bisik Soobin mencoba menenangkan Jeno, jujur mendengar tangisan penuh keluhan Jeno membuatnya sakit. Tangannya dengan lembut mengelus punggung Jeno.
"Aku di sini... Aku gak akan egois lagi..."
"Aku bakalan percaya sama kamu... Sssttt..."
"Sayang... Sayangnya Tuan Choi Soobin... Udah ya, jangan nangis lagi..."
Semua kata penenang Soobin keluarkan. Jeno yang awalnya menjadi menangis semakin keras lama kelamaan mereda hanya menyisakan sesenggukan yang sesekali masih muncul.
"Cup... Cup..." Soobin menepuk nepuk lembut punggung Jeno.
"J-Jangan gitu lagi hiks... Aku... Aku takut..." Ucap Jeno sesenggukan. Soobin buru buru mengangguk.
"Iya Sayang, aku gak akan kaya gitu lagi, aku janji"
"Um" gumam Jeno mengangguk samar, tetap diam di pelukan Soobin, Soobin pun dengan nyaman mendekap Jeno di pelukannya.
"Ganti baju dulu ya, takut ntar bel masuk kamu keburu buru" bujuk Soobin ingin melepaskan pelukannya, namun Jeno menggeleng tak ingin melepaskannya sama sekali.
"Oke aku peluk sambil ganti ya? Aku ambil seragamnya dulu gimana?" Kali ini Jeno tampak terdiam sejenak hingga akhirnya dia mengangguk enggan melepaskan pelukannya. Soobin menunduk melihat wajah Jeno yang sembab juga matanya yang sedikit bengkak memerah.
"Maaf... Lain kali jangan nangis lagi, Hati aku sakit liat kamu kaya gini..." Jemari Pemuda tersebut dengan lembut menghapus sisa sisa air mata di pipi Jeno, Jeno mengangguk dalam diam. Soobin tersenyum penuh kasih berjalan menuju loker Jeno dan mengambil setelan seragamnya lalu mengajak Jeno untuk duduk di bangku panjang saling berhadapan, untung saja bangkunya lebar.
Jeno duduk dengan melipat kedua lututnya, beringsut mendekat ke arah Soobin dengan mata yang masih berkaca kaca juga hidung memerah terlihat menyedihkan seperti anak kucing kecil.
Gemas melihat kekasihnya, Soobin mengusak surai hitam Jeno lembut, memberi isyarat untuk mengangkat kedua tangannya. Jeno dengan patuh mengangkat kedua tangannya membiarkan Soobin membuka atasan olahraganya. Mata boba nya terus menatapi wajah lembut kekasihnya. Ini baru Soobin yang dia kenal, tidak seperti tadi.
Melihat bagian atas Jeno yang naked, Mata Soobin menggelap kembali, namun dia mencoba menahannya terus mempertahankan senyum lembutnya agar Jeno tidak takut padanya lagi. Dia meraih kemeja seragam Jeno memakaikannya dengan teliti lalu mengancingkan kancingnya satu persatu. Setelah selesai dia menatap celana olahraga Jeno.
Dia tidak yakin dapat menahannya jika terus berhadapan secara langsung begini, namun yang di khawatirkan malas terus berkedip polos menghunakan sepasang mata menyedihkan miliknya membuat Soobin frustasi di dalam hatinya.
"Celananya bisa pake sendiri?" Soobin dengan lembut mencoba membujuk anak kucing kecil di hadapannya, namun yang terakhir langsung menggeleng dengan tegas mengatakan tidak mau! Tak pahamkah Jeno bahwa dia sedang dalan bahaya?!
"Sayang... Pake sendiri mau?" Suara Soobin semakin melembut, Jeno ragu sejenak mengintip ekspresi pemuda di hadapannya yang tampak masih tersenyum lembut lalu kembali menggeleng.
"Hahhh... Oke berdiri kalo gitu" Soobin diam diam menggertakkan giginya, doakan saja agar dia tak gelap mata gelap pikiran.
Yoittt
1 4 3 I Love You 💅🏻
See u~
KAMU SEDANG MEMBACA
Circle Of Destiny ✓
De TodoJeno dan Jaemin adalah saudara kembar, tetapi mengapa kehidupan mereka sangat berbeda? Bxb Soobjen Hyuckno Jeno x all
