'Mau jalan jalan? Atau mau lanjut ngerjain tugasnya aja'
"Emang kalo jalan kamu mau jemput?"
Jeno merapikan buku bukunya karna memang tugasnya sudah selesai. Dia melirik jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Jam segini ingin jalan jalan?
'Aku lupa bilang, minggu lalu Aku beli Motor biar enak kalo mau kemana mana' suara Soobin terdengar dari speaker hp, terlihat di layar bahwa pemuda tersebut sudah sibuk mengambil jaket lalu meletakkan ponsel menghadap langit langit kamarnya. Sepertinya tengah berganti baju.
Jeno tau Soobin sejak kecil adalah seorang Yatim Piatu 3 bersaudara, dia pernah melihat Kakak tertuanya waktu pertama kali kenal dengannya saat Smp kelas 1, juga pernah melihat adiknya ketika dia berada di kelas 3 Smp. Walau ketiganya hidup hanya mengandalkan satu sama lain, tapi Kakak nya Soobin yang sekarang duduk di SMA kelas 3 sudah mengurus perusahaan peninggalan orang tuanya.
Dari yang dia dengar dari Soobin sendiri, Ibu nya meninggal ketika melahirkan adiknya, sedangkan Ayah nya meninggal karna memang sudah lama stres atas kematian istrinya saat Soobin berusia 12 tahun. Karna dulu ketiganya belum cukup umur, Sekretaris Ayahnya membantu mengurus perusahaan, tapi semenjak Kakak tertua menginjak usia 17 tahun, perusahaan di serahkan pada Kakak tertua nya.
Pasti Soobin diizinkan mengendarai motor karna sudah SMA, dia masih ingat bahwa Kakak tertua itu sangat menyayangi Soobin dan pasti menyayangi adik bungsunya juga.
'Sayang?'
Suara lembut dari seberang panggilan menyadarkan Jeno, dia buru buru menjawab.
"Iya?"
'Kok diem? Gamau jalan ya?' wajah pemuda tersebut masih belum terlihat, tapi Soobin sebenarnya di balik kamera tengah mengepalkan tangannya dengan cemas.
"Apaan? Enggak mungkin lah!" Sanggah Jeno melotot.
"Aku... Aku cuma kepikiran kamu..." Cicit Jeno lirih. Entah itu hanya ilusinya atau memang pihak lain terdengar menghela nafas lega. Barulah wajah tampan Soobin kembali terlihat.
'Aku jemput ya, tunggu gak akan lebih dari 10 menit. Kamu siap siap pake hoodie, celana panjang biar gak dingin'
"Um, kamu... Hati hati..." Jeno mengangguk melambaikan tangannya ke kamera. Terlihat Soobin mengangguk pula setelah itu panggilan berakhir.
Jeno buru buru mengganti baju tidurnya menjadi Hoodie kebesaran dan celana longgar panjang, dia mengambil dompet juga ponselnya lalu turun namun saat dia baru saja sampai di ujung tangga, sebuah suara menghentikannya.
"Mau kemana lo?"
Jeno menoleh, rupanya Mark lagi. Mengapa lagi orang ini muncul?
"Bukan urusan lo" ucap Jeno acuh. Mark yang melihat sikap acuh Jeno mengerutkan keningnya tak senang.
"Jaga kesehatan lo! Inget! Lusa lo harus operasi!" Seru Mark mengingatkan.
"Gue tau" jawab Jeno menghilang dari pandangan.
Seperti ucapan Soobin, Pemuda itu datang dengan cepat mengendarai motor sport hitam yang masih terlihat berkilau berhenti di depannya.
"Malam Tuan Lee, boleh saya ajak anda jalan jalan?" Sapa Soobin mengangkat kaca helm nya dengan senyum di matanya. Jeno terkekeh pelan.
"Tentu Tuan Choi" angguk Jeno tersenyum geli. Soobin ikut terkekeh mendengarnya, mengambil helm yang memang sengaja dia bawa lalu membantu Jeno untuk mengenakannya, Jeno sendiri hanya menurut.
"Cantik" Soobin menyelipkan anak rambut Jeno yang masih terlihat.
"Makasih" mata Jeno membentuk bulan sabit.
"Ayo naik!" Jeno mengangguk naik ke jok belakang langsung melingkarkan tangannya di perut pemuda tersebut dengan erat.
"Leggo!" Serunya riang. Soobin tertawa pelan menarik gas motornya menuju jalanan yang ramai dengan berbagai macam kendaraan.
Angin dingin terasa menusuk di kulit, bangunan bangunan tinggi berjejer di sepanjang jalan, lampu lampu yang tamaram menyinari jalan terasa sangat menyenangkan mata.
Jeno yang hanya memperlihatkan sepasang mata di balik helm fullface yang di kenakannya terus menatap pemandangan sepanjang jalan. Ini pertama kali baginya keluar seperti ini, apalagi di temani oleh mantan sahabat yang kini telah menjadi kekasihnya. Dia mulai sadar, mungkin mereka tidak merasa canggung sedikitpun karna sudah lama bersama, sifat baik dan sifat buruk satu sama lain sudah terpapar di hari hari mereka berteman.
Dia tau mungkin hal seperti ini tak akan bertahan lama, bagaimanapun bukankah Soobin ingin membangun keluarganya sendiri di masa depan? Dirinya hanya seorang pemuda yang tak mungkin dapat memberikan keturunan, walau dia sering mendengar ada pria yang istimewa yang dapat hamil, tapi itu hanya satu perseribu.
Tapi untuk sekarang bisakah dia egois sejenak? Biarkan dia menikmati perasaan hangat ini sepuasnya. Pelukannya tanpa sadar mengerat. Soobin yang merasakannya berfikir bahwa Jeno kedinginan jadi dia menurunkan angka speed nya.
"Dingin?" Ucap Soobin sedikit keras. Jeno yang masih dapat mendengarnya mengangguk.
"Dingin!" Jawabnya dengan suara yang dapat di dengar oleh sang pengemudi. Mendengar bahwa Jeno kedinginan, Soobin menatap toko di pinggir jalan mencoba mencari tempat untuk menghangatkan diri.
Tak jauh terlihat sebuah Cafe, mungkin tidak apa apa jika mereka minum sejenak? Akhirnya Soobin membelokkan motornya ke Cafe tersebut.
"Eh?" Merasa kendaraan berhenti, Jeno bingung.
"Minum yang hangat hangat dulu biar gak dingin" Soobin menjelaskan. Mata hitam Jeno langsung membulat, menatap Cafe yang ramai lalu menatap bajunya yang berwarna pastel terlihat lembut dan rumahan bercampur dengan para pria di dalam cafe yang mengenakan setelan gelap dirinya seperti itik di kumpulan beruang.
"Tapi baju aku..." Dia malu! Sadar mungkin Jeno malu, Soobin membantu melepaskan helm nya lalu turun dari motor.
"Gapapa, yang penting hangat" dia membelai surai hitam Jeno dengan lembut. Entah mengapa melihat wajah lembut Soobin Jeno tiba tiba merasa tenang dan tak malu lagi. Ya! Benar! Yang penting adalah kenyamanannya bukan!
"Soobin... Jangan gitu, banyak orang di sini" lirih Jeno turun dari motor melirik sekitar. Soobin menatap sekitar yah memang banyak orang, bahkan ada yang diam diam menatap mereka ataupun secara terang terangan. Tapi apa? Dia tidak takut, asal Jeno mau bahkan sekarangpun dia dapat menciumnya di depan umum.
"Kamu malu?" Tanya nya menatap mata hitam Jeno. Jeno yang di tatap merasa linglung sejenak, apa maksudnya? Dia hanya takut Soobin akan di hujat karna Dominan dan Submassive pasti yang di salahkan adalah Submassive nya karna Dominan tanpa Male sub masih dapat bersama wanita, sedangkan Male sub sering di katakan banci dan tak mampu.
Dirinya baik baik saja jika memang ada yang ingin menghujatnya, tapi dia tak rela jika Soobin akan di hujat juga.
"Aku gak malu, aku takut kamu di hujat karna mau mau nya pacaran sama aku" geleng Jeno tersenyum tipis. Dia tau hubungan seperti ini yang paling di rugikan adalah Submassive, tapi dia.... Menyukainya.
"Aku gak perduli omongan orang, jadi kita gak perlu pikirin orang lain, karna aku cuma perduli sama kamu" Soobin menarik Jeno kedalam dekapannya tanpa persiapan membuat Jeno langsung menabrak dada bidang pria tersebut. Matanya melirik sekitar, benar saja banyak yang menatap mereka, tapi... Dia tidak perduli pada orang lain, dia hanya perduli pada dirinya...
Jeno tersenyum dengan nyaman memeluk erat tubuh hangat Soobin.
"Yuk masuk"
"Um!"
Yoitttt
Duh, kok uwu uwuan sih bg? Gue obrak abrik juga ntar nih alam semesta 😔☝🏻
See u~
KAMU SEDANG MEMBACA
Circle Of Destiny ✓
De TodoJeno dan Jaemin adalah saudara kembar, tetapi mengapa kehidupan mereka sangat berbeda? Bxb Soobjen Hyuckno Jeno x all
