"Rumah kita sebelahan"
Jeno menatap rumah dimana Haechan berhenti dengan senyum kecil, mungkin dia sekarang bisa mendapat teman untuk berangkat ke Sekolah?
"Hm" angguk Haechan membuka kunci gerbang halaman rumahnya.
"Kalo gitu gue pulang juga" Jeno melambai melangkah ke arah rumah mewah di samping rumah minimalis milik Haechan. Rumah Haechan memang terlihat sedikit besar juga, tapi terlihat lebih sederhana dari luar daripada rumah milik keluarganya.
Haechan menatap punggung Jeno sejenak, lalu beralih menatap rumah mewah tersebut tanpa mengatakan apapun dia berjalan masuk ke halamannya sendiri.
Ketika Jeno memasuki rumah, dapat dia dengar suara tawa dari arah dapur. Sepertinya yang lain tengah makan siang bersama tanpa dirinya dengan gembira. Langkahnya bahkan tak memelan sedikitpun dan terus menuju kamarnya.
Sudah biasa hal seperti ini terjadi, bertahun tahun hidup bersama keluarga dia selalu merasa hidup sebatang kara. Bedanya anak sebatang kara bebas, sedangkan dirinya tak bisa sebebas itu.
Ngomong ngomong mengatakan tentang anak sebatang kara, Jeno tiba tiba saja teringat Haechan, pemuda tersebut tampan dan... Tunggu, mengapa dia selalu memuji pemuda tersebut terus menerus sejak tadi? Jeno menggelengkan kepalanya buru buru membersihkan diri lalu berganti menjadi celana jeans panjang, kaos putih pendek yang di tutupi dengan hoodie.
Dia berniat untuk pergi keluar, awalnya ingin mengunjungi Soobin tapi rumah pemuda tinggi tersebut terlalu jauh, mengingat ada tetangga baru bagaimana jika mengajaknya keluar?
Jeno berlari kecil keluar dari rumah menuju pekarangan sebelah. Pagarnya di kunci? Alis Jeno berkerut apakah akan berteriak memanggil? Tapi mereka baru kenal tadi.
Kebetulan ketika Jeno ragu, sosok pemilik rumah terlihat keluar dari rumah dan menutup pintu.
"H-" dia mengatupkan bibirnya, apakah Haechan akan pergi? Melihat dari penampilannya sepertinya pemuda itu akan keluar.
Benar saja, dapat dia lihat Haechan berjalan menuju bagasi dan mengeluarkan motor sport miliknya. Berbeda dengan penampilan kasual anak Sekolahan tadi siang, sekarang dia terlihat lebih keren dan modis menggunakan setelan serba hitam.
Suara motor terdengar mendekat, Haechan yang berkendara menuju pagar rumahnya menyipitkan sepasang mata elang miliknya saat melihat sosok yang dia kenal berdiri di depan pagar.
"Jeno?" Ucap Haechan menghentikan motornya, berjalan untuk membuka pagar. Melihat Haechan Jeno buru buru menyapa.
"Haechan, mau pergi?" Haechan mengangguk, mendorong motornya keluar pagar dan menutup pagar kembali.
"Lo ngapain di sini?" Tanya nya ragu. Jeno menjadi canggung mendengar pertanyaan ini, dia tadinya berniat mengajak Haechan keluar tapi yang ingin di ajak sudah punya rencana sendiri.
"Tadinya gue mau ngajak lo keluar tapi kayanya gak perlu lagi" ucap Jeno canggung. Haechan terdiam sejenak, dia berniat untuk berkumpul dengan teman temannya tak menyangka bahwa Jeno akan mengajaknya pergi bersama.
"Sorry, gue mau kumpul bareng temen" Haechan menjadi sedikit tidak enak melihat Jeno yang canggung.
"Um, gapapa. Mungkin lain kali aja" angguk Jeno mengerti. Haechan diam selama beberapa detik, sedang menimbang apakah lebih baik mengajak Jeno? Tapi dia takut Jeno merasa tak nyaman. Teman temannya sedikit er.
"Atau lo mau ikut gue?" Akhirnya dia memutuskan untuk mengajaknya saja, lagipula pihak lain sudah mengajaknya, dia juga bisa mengajaknya keluar.
"Ha? Gak usah, gue gak enak sama temen temen lo ntar" tolak Jeno cepat. Yang benar saja dia nanti apakah hanya akan plonga plongo?
KAMU SEDANG MEMBACA
Circle Of Destiny ✓
De TodoJeno dan Jaemin adalah saudara kembar, tetapi mengapa kehidupan mereka sangat berbeda? Bxb Soobjen Hyuckno Jeno x all
