Soobin merasa mulutnya keeing saat selesai menjelaskan seluruh hubungannya dengan Jeno kepada dua saudaranya, akhirnya dia menenggak segelas air putih di atas nampan untuk menghilangkan dahaganya.
"Jadi ini Jeno temen lo yang dulu itu?" Soobin mengangguk.
"Wow, ternyata Kak Jeno jadi cantik plus imut gini!" Seru Beomgyu berbinar binar, terlalu imut! Terlalu cantik! Terlalu manis!
"Um, dia memang lebih cantik juga jadi makin imut" angguk Yeonjun setuju.
"Bang Yeon boleh suka, buat lo bocil jauh jauh!" Peringat Soobin memelototi Beomgyu yang terus menatap pacarnya membuat Beomgyu langsung kempes.
"Hah? Maksud lo apa Bin?" Yeonjun yang bingung dengan kata kata adiknya kau tak kau bertanya dengan heran.
"Kita berdua satu istri gapapa, asal Jeno mau aja" kata kata tersebut sangat lancar keluar dari bibir Soobin tanpa beban sedikitpun.
Yeonjun : "..."
Beomgyu : "..."
"Bin, lo gak bermaksud hidup tanpa keluarga cuma sama Jeno aja kan?" Yeonjun merasa sedikit khawatir, apa maksudnya istri?! Apakah adiknya berniat menikahi pemuda manis di pangkuannya itu? Tapi... Pemuda ini memang benar benar manis...
"Iya gue mau Jeno jadi istri gue, nikah sama gue, bisa punya anak maupun enggak!" Ucap Soobin tegas terdengar tak ada celah bagi orang lain untuk mengomentari ucapannya.
"Tapi Bin..."
"Bang, gue udah mutusin hal ini. Perusahaan Ayah lo yang urus, jadi kedepannya bakalan milik anak Lo, lo bisa cari cewe buat di nikahin, dan punya keturunan. tapi gue gamau, gue cuma mau Jeno" wajah Soobin terlihat sangat serius sampai sampai Yeonjun tak dapat berkata kata lagi.
"Oke... Gue ngerti..." Akhirnya Yeonjun hanya dapat menuruti ucapan adiknya itu. Sedangkan untuk berbagi istri dia mungkin harus memikirkannya ulang.
Soobin diam, dia membangunkan Jeno dengan lembut, bubur yang dia bawa pasti sudah hangat sekarang tidak panas seperti tadi.
"Jeno... Bangun..." Tangannya mengelus pipi Jeno dengan sayang.
Yeonjun berjalan mendekat, ikut duduk di pinggir tempat tidur menatap wajah Jeno. Sedangkan Beomgyu tetap berdiri di posisinya.
"Bangun" tepukan pelan mendarat di pipi Jeno. Jeno yang merasa terganggu akhirnya bulu matanya bergetar tak lama perlahan terbuka memperlihatkan sepasang mata bulat yang linglung.
Dia mengerjap kerjapkan matanya mencoba memahami daerah sekitarnya, namun dia langsung tertegun saat melihat wajah orang lain selain Soobin, membuatnya buru buru untuk duduk menatap sekitar dan langsung kaku. Mengapa ada para saudara Soobin? Dia masih ingat jelas wajah kedua Saudara Soobin tapi pertanyaannya mengapa mereka ada di sini?
"Gapapa, jangan kaget. Mereka cuma mau lihat kamu" suara Soobin memasuki pendengaran Jeno membuat Jeno yang tadinya cemas menjadi tenang secara tak terduga, dia memoleh menatap sosok tinggi tersebut lalu menyembunyikan wajahnya di dadanya karna terlalu malu.
"Gak perlu malu, ayo makan bubur dulu" kekeh Soobin mengelus kepala Jeno. Jeno hanya mengangguk menjauhkan dirinya secara perlahan tak berani menatap kedua saudara Soobin bahkan berusaha mengecilkan lehernya yang memiliki banyak tanda ungu dengan malu.
"Gak perlu malu, gapapa..." Sebuah tangan menepuk pelan kepala Jeno, suaranya yang lembut dan penuh kasih membuat Jeno tertegun sejenak hingga dia akhirnya mendongak menatap sang pelaku. Ternyata Yeonjun tengah tersenyum lembut ke arahnya. Dia tau Kakaknya Soobin orangnya memang lembut dan penyayang, tapi dia tak pernah tau dia sehangat ini.
"U-um... Iya Kak..." gugupnya meremas ujung hoodie yang dia kenakan.
"Kalo gitu kalian makan aja, gue sama Beomgyu harus mandi" Yeonjun menggeret kerah belakang Beomgyu untuk mengikutinya keluar.
"Ck! Gak asik!" Keluh Beomgyu cemberut.
Keduanya dengan cepat menghilang di balik pintu kamar yang telah di tutup kembali. Kini hanya tersisa Jeno dan Soobin di dalam kamar, Soobin mengambil mangkuk bubur menyuapi Jeno sesendok demi sesendok dengan sabar.
"Maaf, seharusnya aku bisa nahan diri..." Ucapnya lirih. Jeno menggeleng.
"Gak perlu, aku sendiri yang bilang buat lakuin sepuas kamu"
"Tapi sekarang kamu kaya gini, sedangkan besok harus operasi" bantah Soobin dengan bibir berkerut jelas dia marah pada dirinya sendiri yang tak dapat menahan nafsunya.
"Okey... Semua udah terjadi, gak perlu di sesali" Jeno menghibur Soobin, akhirnya Soobin diam terus menyuapi pihak lain.
"Siniin mangkuk satunya, aku juga mau nyuapin kamu"
"Hum?" Alis Soobin naik dengan heran tapi tetap memberikan mangkuk bubur miliknya pada Jeno, siapa yang tak mau di suapi sang pacar? hehe.
"Aaaa!" Sebuah sendok menuju bibir Soobin di temani suara Jeno yang terlohat seperti tengah membujuk anak kecil untuk makan.
"Dasar, sini Aaaa am!" Soobin dengan senang hati meladeninya hingga membuat Jeno terkekeh senang, Soobin pun ikut terkekeh melihatnya. Keduanya makan diiringi tawa yang menyebabkan suasana harmonis di antara keduanya.
Di sisi lain, Mark mengerutkan alisnya ketika menyadari Jeno belum kunjung pulang ke rumah, padahal besok sudah harus waktunya Operasi. Orang tuanya bahkan hari ini sudah sibuk memindahkan kartu keluarga Jeno serta menyiapkan berapa nominal yang harus di berikan pada Jeno.
"Bang? Kenapa di sini?"
Mark menoleh melihat Jaemin datang mengenakan baju tidur, alisnya terlihat naik karna heran mendapatinya berada di balkon malam malam begini, padahal cuacanya sangat dingin sekarang.
"Gapapa, gue cuma kepikiran kenapa Jeno belom pulang, padahal besok dia harus operasi" geleng Mark menghela nafas panjang.
"Kali ini apa yang dia minta?" Jaemin bersandar di pembatas menikmati angin dingin yang menerpa wajahnya.
"Dia minta keluar dari keluarga terus di kasih biaya buat hidup sendiri"
"Oh? Sekarang minta buat dirinya sendiri rupanya" Jaemin menaikkan satu alisnya tampak tertarik.
"Hm" Mark mengangguk.
Dulu saat terjadi kecelakaan pada Jaemin saat usianya 8 tahun, hatinya sempat memiliki gangguan, membutuhkan donor hati sesegera mungkin tetapi tak ada pendonor hati yang cocok sama sekali. Akhirnya orang tuanya mendorong Jeno yang masih berusia 8 tahun untuk melakukan pendonoran, awalnya Dokter menolak dan marah karna usianya terlalu muda. Tapi Nyonya Lee marah marah dan memaksa Dokter untuk melakukannya.
Jeno sempat menolak dan memberontak saat itu sampai akhirnya dia menyatakan satu syarat yaitu Jeno ingin orang tuanya merawatnya dengan baik setelah operasi hingga hatinya kembali utuh lagi juga Jeno ingin menyelamatkan temannya yang mata kanannya buta akibat terluka karna kecelakaan minggu lalu. Karna Orang tua Jeno ingin Jaemin cepat mendapat donor, akhirnya dia setuju.
Dia melakukan pendonoran hati dengan resiko kematian yang sangat tinggi, tetapi sepertinya tuhan tak membiarkannya mati. Orang tuanya menyuruh pengasuh untuk benar benar merawat Jeno dengan baik selama dua bulan penuh hingga hatinya kembali utuh. Saat melakukan pendonorna hati, dia meminta untuk langsung melakukan pendonoran kornea mata juga jadi mata kanannya buta, sampai sekarang Jeno melihat hanya dengan mengandalkan mata kirinya. Semenjak melakukan pendonoran hati, Jeno keluar dari sekolah karna tak dapat mengikuti pelajaran selama dua bulan lebih. Dia bahkan sempat terkena berbagai gangguan pasca pendonoran hati terkadang juga merasa stres.
Tepat setelah satu tahun belajar privat di rumah dia melanjutkan Sekolah Dasarnya di Sekolah lain, dia bahkan tak sempat menemui teman yang sempat dia donorkan matanya. Sedangkan Jaemin sendiri dia selalu bersekolah di rumah hingga saat menginjak bangku SMP barulah dia mulai bersekolah di sekolah umum biasa.
Yoitttt!
Duar! Nguengggg!
See u~
KAMU SEDANG MEMBACA
Circle Of Destiny ✓
De TodoJeno dan Jaemin adalah saudara kembar, tetapi mengapa kehidupan mereka sangat berbeda? Bxb Soobjen Hyuckno Jeno x all
