(SEDANG DIREVISI)
(WARNING!!!
(CERITA INI MEMUAT UNSUR KEKERASAN, PEMBUNUHAN, OBSESI PSIKOLOGIS, CHILD GROOMING, DAN HAL SENSITIVE LAINNYA. HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN. CERITA INI DITUJUKAN UNTUK PEMBACA 17+ DAN MUNGKIN TIDAK COCOK UNTUK SEMUA...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Las Vegas, Nevada
Netra hijau itu mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk sebelum melirik jarum jam. Setelah berhasil mengumpulkan niat untuk mandi, gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Siap dengan seragam sekolah berwarna cokelatnya, Aely langsung melangkah turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan orang tuanya sarapan bersama.
"Morning," sapa Aely, meskipun tahu orang tuanya mungkin tidak akan membalas.
Suasana dapur dan meja makan yang hening membuat Aely kembali teringat pada kejadian beberapa hari lalu, saat dia bertatap muka langsung dengan penguntitnya. Rasanya Aely ingin menceritakan semua yang dialaminya kepada orang tuanya, tapi dia takut mereka tidak akan percaya.
"Jangan melamun, Aely. Cepat habiskan sarapanmu," tegur Metvey pada putrinya.
Mendengar teguran sang ayah membuat Aely mau tak mau menghabiskan sarapannya, meskipun sedikit enggan dan tidak bersemangat. Lehernya terasa sakit dan tubuhnya juga sangat lelah, padahal semalam dia tidur begitu nyenyak sampai tak merasakan kehadiran penguntit sialan itu seperti biasanya.
"Aku sudah selesai makan," ucap Aely sambil mendorong piring bekasnya.
Melihat sang putri yang sudah siap berangkat sekolah, Metvey langsung beranjak dari kursinya, memberi kecupan singkat pada Geny, lalu keluar rumah begitu saja. Aely segera mengekori ayahnya setelah berpamitan pada Geny, langsung masuk ke mobil yang sama dengan Metvey.
Meskipun Metvey terkesan dingin dan tidak peduli, Aely yakin ayahnya itu sangat menyayanginya. "Ayah, ayo berangkat," ujar Aely pada Metvey setelah memasang seatbelt.
Mobil yang Metvey kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada perbincangan di antara ayah dan anak itu. Entah karena Aely yang sedikit takut pada ayahnya, atau Metvey yang justru enggan menanggapi putrinya.
Setelah lima belas menit, Aely dan Metvey sampai di gerbang Opulence School, tempat Aely menimba ilmu. Aely turun begitu saja dari mobil ayahnya seperti biasa. Meskipun interaksinya dengan sang ayah cenderung sangat sedikit, Aely tetap bersyukur memiliki sosok ayah.
"AELY!" Mendengar seseorang meneriakkan namanya, Aely langsung mencari sumber suara itu dan menatapnya nyalang.
Kedua bola mata Aely berputar malas melihat dua gadis di depannya. "Hei!" sapa Aely pada kedua sahabatnya.
"Hehe, ini masih pagi, Aely. Tidak baik memasang wajah muram di pagi hari," ledek Amery, Zephyr Amery.
"Pagi seperti ini kita harus semangat, Aely!" timpal Shacy dengan membara, Shacy Evgenia.
Netra Aely menatap malas kedua gadis itu. Tanpa membalas perkataan mereka, Aely langsung melangkah memasuki area sekolah, disusul oleh Amery dan Shacy.
Ketiga gadis itu berjalan bersampingan sepanjang koridor sekolah. Gadis bernetra hijau dan berparas cantik itu menyapa beberapa orang yang dikenalnya dengan senyum manis yang menawan.