Chapter 17

10.5K 456 11
                                        

Oppulence Junior High School - Las Vegas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Oppulence Junior High School - Las Vegas

Aely melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Jantungnya berdegup kencang memikirkan tentang Shacy dan Amery yang bisa saja masih marah padanya. Meski dalam lubuk hatinya Aely masih tak habis pikir dengan sahabat yang selalu menganggapnya berbohong, namun tak dapat Aely ungkiri jika hanya mereka yang Aely miliki.

Netranya menyapu sudut kelas, melihat apakah Shacy dan Amery sudah datang. Namun nihil, kelas masih kosong. Saat dia melihat jam yang berada di dinding kelasnya, ternyata jarum jam masih menunjuk angka enam lebih lima belas.

Tidurnya benar-benar nyenyak, maka dari itu suasana hatinya pun sangat baik. Penguntit itu datang, namun tak mengganggu tidurnya. Alva hanya memeluknya dari belakang dan mengelus rambutnya. Meskipun itu membuatnya takut karena bisa saja Alva melakukan padanya saat dia tertidur, tapi dia sebisa mungkin bersikap biasa saja selama penguntit sialan itu tak berlebihan melakukan sesuatu padanya.

"Aely!"

Melihat siapa yang memanggilnya membuat Aely tanpa sadar menaikkan satu alisnya. Athala datang menemuinya lagi. Entah apa yang Athala inginkan darinya, padahal Aely sudah dengan tegas mengatakan jika dia tidak memiliki sedikit pun perasaan pada laki-laki itu.

Dia tak ingin dianggap sebagai gadis jahat hanya karena menolak Athala terus-menerus.

"Ya?"

"Ini, aku membuatkannya untukmu pagi tadi." Athala menyodorkan tempat makan berwarna biru dan bunga mawar pada Aely.

Saat hendak menerima bekal yang Athala buatkan untuknya, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya dari belakang. Aely melihat orang itu, lalu tersenyum lebar. "Sir, ada apa?" tanya Aely, mengabaikan jika Athala juga berada di ruangan yang sama dengan mereka.

"Kamu melewatkan sarapanmu, jadi Geny datang padaku dan memintaku untuk membawakan bekal milikmu," jawab Luciano.

Athala yang melihat bekal yang Luciano bawa itu menggenggam erat bekal miliknya. Dia tetap tersenyum pada Aely. Dia mendekat pada Aely dan meraih tangan gadis itu, lalu menyerahkan bekal serta bunga pada tangan Aely, kemudian pergi setelah mengelus rambut gadis itu.

Pipi Aely bersemu merah. Astaga, Athala benar-benar gigih untuk mendapatkan hatinya. Sebagai seorang gadis biasa, Aely tak sanggup menolak pesona Athala, terlebih lagi Athala selalu memperlakukannya dengan baik, tak seperti penguntit itu.

Merasa memikirkan hal yang tidak penting, Aely menggelengkan kepalanya dan kembali menatap Luciano, "Sir?" panggil Aely saat Luciano hanya diam menatap pintu masuk ruang kelasnya dengan tatapan tajam.

Netra hitam milik Luciano bak siap membunuh siapa pun yang terlihat di matanya. Dan untuk sekejap, Aely merasakan aura yang sangat mirip dengan penguntit itu. Alis Luciano yang menukik tajam, bibir yang terkatup, dan rahang tegas itu sangat amat mirip dengan Alva.

STALKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang