Chapter 5

20.3K 792 27
                                        

Las Vegas, Nevada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Las Vegas, Nevada

Weekend sudah berakhir. Aely harus kembali ke sekolah dan berkutat dengan semua tugas yang diberikan gurunya. Gadis itu sudah siap dengan seragam berwarna cokelat khas sekolahnya. Dia keluar dari kamar dan berjalan santai menuju meja makan.

Tidak ada siapa pun di bawah, bahkan pembantu mereka entah ke mana. Aely bingung karena tidak ada yang menyiapkan makanan. Padahal biasanya, meskipun pembantu dan orang tuanya tidak ada, mereka pasti meninggalkan makanan untuknya.

Gadis itu berlalu dari meja makan dan berjalan menuju dapur– nihil. Aely bahkan tidak dapat menemukan sepotong roti yang biasanya tersusun rapi di rak atas. Dia menghela napas lalu melangkah keluar dari rumah.

Perutnya keroncongan, meminta untuk diisi. "Aku lapar," gumamnya dengan cemberut.

Sebuah mobil berhenti di depannya, dan Aely menebak mobil itu akan mengantarnya ke sekolah seperti biasa. Jika ayahnya tidak berada di rumah, prdia itu biasanya memerintahkan bawahannya untuk mengantar Aely.

Tidak ada sopir di kediaman mereka, dan Aely tidak tahu alasannya. Padahal mereka bisa saja menggaji beberapa sopir untuknya. Gadis itu tidak sadar, orang yang ayahnya suruh kali ini bukanlah bawahan seperti biasanya.

"Cepatlah, Aely. Saya tidak ingin terlambat hanya karena gadis sepertimu," ucap seseorang dengan nada pedas.

Mendengar suara yang familiar di telinganya, Aely menatap tak percaya pada laki-laki di kursi kemudi. Luciano menatap malas padanya. Sialan, pikir Aely. Dia mencebik pelan saat melihat wajah tegas gurunya itu. Untung saja dia akan segera lulus, jadi tak perlu lagi bertemu guru menjengkelkan seperti Luciano.

Gadis itu membuka pintu belakang mobil Luciano. Namun belum sempat masuk, ucapan Luciano membuatnya mengurungkan niat.

"Saya bukan supirmu, Aely. Duduklah di depan."

Dengan berat hati, Aely menutup pintu belakang lalu membuka pintu depan dan duduk di samping Luciano yang masih menatapnya.

"Sorry, Sir. Apa ada yang aneh di wajah saya?" tanya Aely karena Luciano tak kunjung berhenti menatap.

"Tidak ada. Hanya saja seragam itu terlihat sangat kecil untukmu," komentar Luciano.

Aely menatap tak percaya, lalu memeriksa seragamnya. Sial, Luciano benar. "Ah, benar. Sorry, Sir. Apa anda mau menunggu saya mengganti seragam sebentar?"

Satu alis Luciano terangkat. "Kita akan terlambat jika kamu mengganti seragam, Aely. Jangan membuang waktu saya."

Mobil Luciano melaju tanpa menunggu balasan dari Aely yang masih sibuk menarik-narik roknya yang terlalu pendek. Kenapa baru sadar setelah Luciano mengatakannya?! Dia meletakkan tas di atas paha untuk menutupi roknya, berharap bisa lolos dari komite kedisiplinan nanti.

STALKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang