Chapter 10

15.8K 618 8
                                        

Aely's House - Las Vegas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aely's House - Las Vegas

Aely bangun dengan rasa lelah di sekujur tubuhnya. Gadis itu tak tahu apa yang terjadi setelah dia makan. Padahal, dia sudah menangis di depan Luciano. Haish! Sangat memalukan!

Dia bergegas menuju kamar mandi, lalu membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Dia sudah tak peduli apakah penguntit itu datang padanya semalam atau tidak. Aely justru berharap penguntit itu benar-benar bosan padanya.

Selesai bersiap, Aely langsung turun ke lantai satu. Dia melihat ayahnya yang sedang meminum kopi dan ibunya yang sedang menyiapkan sarapan. Gadis itu merasa canggung pada orang tuanya sendiri. Entah sejak kapan hubungan mereka menjadi canggung, Aely hanya bisa berharap Metvey dan Geny sedikit lebih perhatian padanya.

Tak tahan dengan keheningan di antara mereka, Aely memutuskan untuk membuka suara. Tak ada salahnya dia mengajak ayahnya sendiri berbicara, bukan?

"Ayah, aku ingin melanjutkan sekolah di Italia," ucap Aely sambil memakan rotinya.

Mendengar perkataan sang anak membuat Metvey membeku. Mereka baru saja pindah empat tahun lalu dari Rusia, tapi Aely meminta untuk bersekolah di negara lain, sedangkan orang tuanya berada di Las Vegas. Apa putrinya itu sudah gila?

"Kamu tahu apa yang sedang kamu minta, Aely? Saya tidak mengizinkannya," balas Metvey tanpa menatap sang anak. Terikat perjanjian dengan pria itu membuat Metvey tak bisa leluasa menunjukkan kasih sayangnya pada Aely. Hanya dengan cara inilah dia bisa berbicara pada putrinya.

Aely terlihat kecewa dengan apa yang baru saja ayahnya katakan. Padahal, dia sudah memikirkan matang-matang tentang sekolahnya nanti. Aely tak ingin terus berada di Las Vegas. Dia ingin pergi dari kota ini. Sebenarnya, tak banyak alasan yang mendukung kepindahan Aely selain penguntit itu. Dia benar-benar muak dengan kehidupannya di sini. Dia rindu dengan negara kelahirannya, tapi ibunya pernah mengatakan bahwa mereka tidak akan bisa kembali lagi ke Rusia.

Gadis cantik itu tampak murung. Roti yang dia pegang pun tak kunjung dia makan, dan itu cukup membuat Geny jengkel. Wanita itu memukul meja dengan keras. Inilah yang Aely benci dari ibunya.

"AELY! Makan makananmu dengan tenang lalu segera pergi ke sekolah!" bentak Geny.

"Evgenia, jangan membuat keributan di meja makan."

Metvey menatap lekat istrinya. Geny yang merasa Metvey akan marah langsung duduk kembali dan makan dengan tenang. Berbeda dengan Aely yang makan dengan perasaan takut. Bahkan tangan mungil gadis itu terlihat gemetar.

Netra hijau milik Metvey memperhatikan gerak-gerik Aely. "Jangan terlalu dekat dengan tetangga baru kita," ucapnya.

Metvey tak tahu bahwa dia baru saja mengatakan hal yang sangat terlarang. Padahal, dia sendiri yang membuat perjanjian dengan pria brengsek itu, tapi dia juga yang sering melanggarnya.

STALKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang