Chapter 12

12.6K 559 4
                                        

Aely's room - Las Vegas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aely's room - Las Vegas

Luciano membuka pintu kamar Aely pelan-pelan. Netra abu-abunya menatap lekat Aely yang sedang terlelap. Laki-laki itu melangkah mendekat, mengelus rambut Aely. Tak ada respon dari Aely membuat Luciano menghela napas kasar.

Sebenarnya, hari ini dia sudah menyiapkan hadiah untuk Aely karena gadis itu berani berciuman dengan pria lain, dan Luciano membenci hal itu. Aely hanya miliknya seorang. Dia tak rela berbagi dengan orang lain, terlebih lagi jika itu menyangkut gadis kecilnya ini.

Tangannya menyingkap pelan selimut yang membungkus tubuh Aely, lalu membenarkan posisi tidur Aely yang semula miring. Dia duduk di samping Aely dan menyentuh bibir gadis itu yang sedikit terbuka. Hasratnya kembali menggebu-gebu. Tak pernah sehari pun Aely hilang dari pikirannya. Luciano tak masalah menunggu lebih lama agar gadis itu benar-benar tahu bahwa dia sangat mencintainya.

"Wake up, my Aely, please wake up. I'm here," bisik Luciano sambil menyingkap piama yang Aely pakai hingga dada.

Tangannya bergerak bebas di perut gadis itu dan semakin turun. Tapi, belum sempat Luciano menurunkan underwear Aely, tangan gadis itu terlebih dahulu menahannya.

Netra hijau itu terbuka perlahan dan langsung menatap tajam padanya. Bukannya takut, Luciano justru semakin ingin mencium gadis itu dengan kasar.

"Mesum! Cabul! Penguntit sialan!" umpat Aely.

Suara serak khas bangun tidur gadis itu semakin membuat fantasi liarnya tak terkendali. Luciano dengan cepat menindih Aely dan mengunci kedua tangannya agar tidak bisa memberontak.

Wajah panik Aely mengundang tawa Luciano. "Hahaha, you're so cute!" Luciano menggigit bibirnya kuat-kuat, tak tahan melihat mata bulat itu melotot menatapnya.

"Aku takut padamu, Aely, jadi jangan menatapku dengan tatapan mematikan itu lagi," ucapnya.

Bibirnya terus tersenyum lebar meskipun Aely menatap tak suka padanya. Luciano tak mengerti mengapa Aely sangat membencinya. Padahal, dia sangat mencintai gadis itu.

Dia kembali teringat saat Metvey memohon padanya agar membantu pria itu untuk menutup kasus korupsi yang dilakukannya di perusahaannya. Luciano mengajukan syarat pada Metvey untuk memiliki Aely saat gadis itu berusia dua puluh tahun.

Metvey, yang pada awalnya menolak mentah-mentah persyaratan darinya, lambat laun mulai kewalahan karena terus didesak untuk mengganti rugi uang yang diambilnya. Pada saat itu, Geny sedang hamil besar, jadi tentu saja Metvey juga memerlukan uang untuk biaya melahirkan Geny.

Karena tak ada cara lain yang bisa Metvey lakukan pada saat itu, Luciano berhasil mengikat Aely dengannya seumur hidup lewat perjanjian itu. Aely atau siapa pun tak akan bisa membatalkan perjanjian itu karena Metvey juga menawarkan nyawanya sendiri kepadanya.

STALKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang