(SEDANG DIREVISI)
(WARNING!!!
(CERITA INI MEMUAT UNSUR KEKERASAN, PEMBUNUHAN, OBSESI PSIKOLOGIS, CHILD GROOMING, DAN HAL SENSITIVE LAINNYA. HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN. CERITA INI DITUJUKAN UNTUK PEMBACA 17+ DAN MUNGKIN TIDAK COCOK UNTUK SEMUA...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Oppulence school - Las Vegas, Nevada
Tak terasa, semua kelas hari ini sudah selesai. Dan Aely harus menemui guru baru itu di ruangannya. Entah kesialan macam apa yang menimpanya hari ini karena kelas baru selesai setelah pukul lima sore, padahal sebelumnya Aely tak pernah pulang selambat ini.
Gadis itu membuka pintu ruangan Luciano dengan ragu-ragu namun tak urung tetap membuka ruangan itu, dia melangkah masuk ke dalam. Ruangan itu terpisah dari ruangan guru lainnya. Aely tidak sadar jika ruangan itu berada di pojok koridor dan lampu depannya mati.
Aely tak melihat siapa pun di dalam. Apakah gurunya itu sedang keluar? Jika iya, Aely harus segera keluar ruangan dan pulang, lalu kembali lagi besok pagi dengan alasan tidak ada siapa pun di ruangan saat dia datang.
Senyum gadis itu luntur saat mendengar pintu yang baru saja terbuka, ternyata dugaannya benar. Jika sebelumnya tidak ada orang di ruangan ini. Andai saja Aely keluar dari ruangan ini lebih cepat, mungkin Aely dapat pulang dan menonton film kesukaannya
Luciano duduk di kursinya."Duduklah."
Dia menatap tajam pada Aely yang masih bergeming di tempatnya, tanpa Aely sadari jika Luciano kembali tersenyum tipis padanya. Netra hitam itu seakan diselimuti kabut yang tebal saat melihat Aely. "Aely Eleuthera Brown, saya ingin berbicara padamu, jadi silakan duduk." ucap Luciano sekali lagi.
Tak ingin membuat Luciano kembali kesal, Aely dengan cepat duduk di depan meja pria itu. Jemarinya mulai memilin ujung roknya, kebiasaan Aely yang sulit diubah jika sedang takut atau gugup. Namun, di mata Luciano, tindakan Aely justru seperti sedang memancingnya untuk melakukan sesuatu.
Jika saja mereka berada di luar, mungkin Luciano akan menunjukkan sikap berbeda pada Aely. Tapi sekarang, dia harus fokus untuk membimbing gadis kecil ini agar patuh padanya.
"Kamu tahu apa kesalahanmu pagi ini, Aely?" tanya Luciano sambil mengetukkan jarinya pada meja, menimbulkan suara di ruangan yang hening itu.
Kedua sudut bibir Luciano terus berkedut melihat Aely yang seperti kelinci buruannya. "Aely!" panggil Luciano dengan tegas.
"Y-yes, Sir?" Aely menatap takut-takut pada Luciano.
Gurunya itu terlihat sangat marah sekarang. Terlebih lagi, tatapan mengintimidasi yang selalu membuat siapa pun takut itu kini sedang menatapnya.
Helaan nafas Luciano terdengar jelas di telinga Aely. Aely menatap sekilas pada Luciano sebelum kembali menunduk. Luciano yang melihat itu pun memijat pelipisnya.
"Katakan apa kesalahanmu hingga membuatku memanggilmu ke ruanganku, Aely," ucap Luciano.
Mereka bilang jika Aely merupakan siswi yang cerdas dan populer, tapi bagi Luciano, Aely tidak lebih dari siswi populer saja. Karena sepanjang kelasnya berlangsung, gadis itu justru melamun dan tak memperhatikan dengan serius.