(SEDANG DIREVISI)
(WARNING!!!
(CERITA INI MEMUAT UNSUR KEKERASAN, PEMBUNUHAN, OBSESI PSIKOLOGIS, CHILD GROOMING, DAN HAL SENSITIVE LAINNYA. HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN. CERITA INI DITUJUKAN UNTUK PEMBACA 17+ DAN MUNGKIN TIDAK COCOK UNTUK SEMUA...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Oppulence School - Las vegas
Tiga hari, Aely merasa sedikit tenang selama tiga hari terakhir. Entah kenapa rasanya penguntit itu tak lagi mendatanginya. Apakah penguntit sialan itu bosan padanya?
Semoga saja iya.
Gadis itu menatap roti yang dia pegang tanpa minat. Siang ini rasanya dia malas makan apa pun, tapi perutnya harus tetap diisi. Kedua sahabat Aely yang melihat sikap gadis itu menghela napas panjang. Bukan sekali dua kali Aely seperti ini. Mereka merasa terkadang Aely terlalu pendiam dan tertutup, tapi di saat yang bersamaan, Aely selalu menceritakan apa pun yang terjadi pada mereka.
Shacy menyenggol pundak gadis itu. "Makan yang benar, Aely. Hari ini Mr. Luciano sudah mulai mengajar lagi," ucapnya.
Kedua alis Aely mengerut. Kenapa timing-nya selalu pas? Aely memang pernah merasa curiga jika penguntitnya adalah Luciano, tapi dia tak memiliki bukti yang kuat. Lagi pula, warna mata kedua laki-laki itu berbeda. Meletakkan rotinya di meja, netra hijaunya menatap Amery dan Shacy bergantian.
Suasana kantin yang sedikit ramai membuat Aely harus meninggikan suaranya. "Laki-laki misterius itu tak mendatangiku lagi tiga hari terakhir," ucapnya.
Aely menggenggam kalung milik laki-laki misterius itu dengan kuat, menyalurkan segala perasaan yang selama ini dia pendam, bukan perasaan cinta atau semacamnya. Gadis itu sangat muak dan jengkel pada pria itu. Aely pastikan akan membuat pria itu jera suatu hari nanti.
"Kenapa memangnya? Tapi, bagaimana caranya kamu tahu, Aely? Bukannya laki-laki itu datang setiap kamu tidur?" cecar Amery sambil terus mengunyah makanannya.
Shacy yang melihat tingkah Amery melemparkan tisu pada gadis itu, disambut dengan sedikit decakan dari Amery. Shacy menatap Aely dengan lekat.
"Aely, imajinasimu sudah terlalu liar. Sudah empat tahun kamu terus membicarakan penguntit itu, tapi kamu masih belum bisa membuktikan jika memang benar-benar ada yang menguntitmu, Aely," ujarnya.
Apa yang Shacy katakan memang benar, tapi dia bukanlah gadis yang gemar berbohong. Dan bukankah sebagai sahabat, mereka seharusnya membantunya mencari bukti dan menangkap orang itu? Meskipun terdengar sulit karena penguntit itu selalu datang pada malam hari, bahkan pagi buta.
"Aku tidak mengarang! Penguntit itu memang benar-benar ada! Kalau kalian tidak percaya, menginaplah di rumahku malam ini!" balas Aely dengan kesal.
Dia selalu berkata apa adanya. Tapi kenapa setiap dia bercerita tentang penguntit itu, mereka justru menganggapnya sedang mengarang? Jujur saja, Aely sudah sangat muak dengan semuanya.
Penguntit yang tidak jelas tujuannya, sahabat yang bahkan tak mempercayainya, dan orang tua yang mengabaikannya. Sebagai orang terdekat, mereka seharusnya membantu, bukan justru menuduhnya berbohong seperti ini.