(SEDANG DIREVISI)
(WARNING!!!
(CERITA INI MEMUAT UNSUR KEKERASAN, PEMBUNUHAN, OBSESI PSIKOLOGIS, CHILD GROOMING, DAN HAL SENSITIVE LAINNYA. HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN. CERITA INI DITUJUKAN UNTUK PEMBACA 17+ DAN MUNGKIN TIDAK COCOK UNTUK SEMUA...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Luciano's House - Las Vegas
Jarum jam sudah menunjuk pada angka delapan. Namun, kedua mata Aely masih terpejam. Gadis itu seolah tak merasa terganggu sedikit pun saat Luciano menggendongnya menuju mobil. Bahkan ketika Luciano membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya untuk pertama kali, netra hitamnya tetap fokus menatap Aely yang sedang terlelap dalam mimpi.
Luciano sengaja membawa Aely masuk ke rumahnya. Lagi pula, mereka kini bertetangga, jadi siapa pun tak akan curiga dengan hal itu. Tangan besar Luciano terus mengelus rambut Aely dan memainkannya. Setiap helai rambut gadis itu terasa sangat halus, terlebih lagi harum. Dia seakan tak pernah bosan dengan apa yang ada pada tubuh Aely.
"Cantik, sangat cantik," gumam Luciano.
Melihat sedikit pergerakan dari Aely membuat Luciano mau tak mau menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Perlahan, dapat dia lihat mata itu terbuka. Luciano berdiri di samping tempat tidurnya. Meski hasrat untuk menjadikan Aely sebagai miliknya sangat kuat, dia tetap berusaha menahannya.
"Sir? Kita dimana?"
Sial, suara khas bangun tidur gadis itu memorak-porandakan pikirannya. Mendengar suara halus nan serak khas bangun tidur Aely membuat Luciano tak kuasa menahan seringainya. Bukan seringai kejam seperti biasa yang dia tunjukkan pada musuh.
Aely mengubah posisinya menjadi duduk. Melihat Luciano yang masih bergeming di depannya membuat gadis itu bingung harus berbuat apa.
"Sir?" panggil Aely lagi.
Ia sedikit canggung dengan suasana saat ini. Gadis itu merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa dia menangis, berakhir tertidur, lalu dibawa pulang oleh wali kelasnya sendiri?
Di dalam rumah itu hanya ada keheningan. Luciano masih sibuk dengan segala fantasi liarnya, sementara Aely canggung dengan gurunya. Ketenangan itu akhirnya sirna ketika suara perut Aely memenuhi ruangan. Luciano yang semula bergeming pun terkekeh geli.
"Astaga, maafkan saya, Aely. Mari ke dapur, saya akan membuatkan makanan untukmu," ucap Luciano.
Demi apa pun di dunia ini, Aely sangat malu! Pipi gadis itu memerah hingga ke telinga. dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menyalurkan rasa malu yang tak terbendung itu. Sekali lagi, Aely merutuki dirinya sendiri dengan berbagai macam kata.
Mendengar suara langkah kaki Luciano membuat Aely bergegas mengekor di belakang laki-laki itu. dia tak tahu bahwa di depannya, Luciano sedang tersenyum lebar. Dari belakang, Aely bisa melihat punggung kokoh milik laki-laki itu. Tubuh Luciano terlalu bagus untuk dilewatkan begitu saja, terlebih saat ini dia hanya mengenakan kaos polos berwarna hijau tua.
"Punggungku bisa berlubang jika kamu terus menatapnya, Aely," celetuk Luciano.
Aely tak sadar bahwa saat ini dia hanya berdua dengan Luciano di dalam rumah laki-laki itu. dia tak memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi padanya. Aely tidak tahu jika Luciano sebenarnya adalah orang yang harus dia hindari di muka bumi ini. Sekali saja Aely masuk ke dalam hidup laki-laki itu, maka tak akan ada jalan keluar untuknya.