Chapter 16

11.5K 509 9
                                        

Glory Cafe - Las Vegas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Glory Cafe - Las Vegas

Aely membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Netra gadis itu menyapu tempatnya tertidur. Ternyata dia masih berada di dalam cafe tempatnya menenangkan diri setelah dari taman. Bibir gadis itu tampak memucat dengan mata yang menatap tak percaya pada sekitarnya.

Tangannya dengan cepat mencegat pelayan yang lewat di depan mejanya, "Permisi, siapa yang membantuku kembali ke dalam cafe?" tanya Aely.

"Pardon? Anda tertidur saat membaca novel, Nona," jawab pelayan itu.

"Huh? Bukankah aku keluar cafe bersama pria yang menggunakan topeng? Anda pasti melihatnya, kan?" cecar Aely tak percaya.

Yang benar saja! Dia bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana Alva menyeretnya keluar dari cafe dan memasukkannya ke dalam mobil laki-laki itu, kemudian menguncinya agar dia tidak kabur. Aely bahkan masih ingat apa yang Alva katakan padanya, jadi bagaimana bisa pelayan itu tak melihatnya?

"Nona, saya tidak berbohong. Anda tertidur saat membaca novel, bahkan rekan kerja saya sempat ingin membangunkan Anda," balas pelayan itu.

Mendengar itu, Aely menggelengkan kepalanya tak percaya. Gadis itu memukul meja dengan kuat hingga menimbulkan kegaduhan. Orang-orang yang berada dalam cafe itu menatap aneh pada Aely, bahkan beberapa di antara mereka secara terang-terangan mengatakan hal buruk pada Aely.

Aely menunjuk pada parkiran depan cafe itu, "Aku diseret menuju parkiran oleh laki-laki asing! Dan kalian bahkan tidak tahu?!" teriak Aely.

"Nona, tidak ada yang menyeret Anda menuju parkiran. Mungkin Nona hanya bermimpi. Jika sudah tidak ada kepentingan, silakan pulang. Anda mengganggu pelanggan yang lain," ucap pelayan itu dengan sopan, lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Aely.

Kedua mata gadis itu masih menatap tak percaya pada pelayan yang baru saja meninggalkannya. Jelas-jelas Alva mendatanginya, bahkan laki-laki itu mencium paksa dirinya dalam mobil. Tapi, bagaimana bisa tak ada seorang pun yang tahu atau menolongnya saat dia diseret keluar oleh Alva?

Melihat pelayan lain yang lewat di depannya, Aely dengan cepat menarik tangan pelayan itu hingga membuat nampan yang pelayan itu pegang terjatuh, "Tuan, Anda melihatku diseret keluar oleh seorang laki-laki, kan? Katakan jika Anda melihatnya!" ujar Aely.

"Nona, saya tidak melihat siapa pun diseret keluar dari cafe ini sejak pagi. Mungkin Anda hanya berhalusinasi," ucap pelayan itu.

Aely menatap tak percaya pada pelayan itu, bahkan kedua tangannya memegang bahu pelayan itu dengan kuat. "AKU TIDAK BERHALUSINASI! Apa yang aku katakan itu kenyataan! Kalian bahkan tidak tahu jika ada yang meminta bantuan kalian, tempat macam apa in–"

Seseorang menarik Aely menjauh dari pelayan pria itu. "Aely, jangan membuat keributan di tempat umum."

Netra hijau Aely melihat siapa yang mengatakan itu, dan saat melihat orang itu adalah Luciano, tanpa sadar dia langsung memeluk laki-laki itu dengan erat. Luciano yang dipeluk oleh Aely hanya mematung, dia tak percaya Aely memeluknya seperti saat ini. Padahal beberapa saat yang lalu Aely berusaha mati-matian mendorongnya untuk menjauh.

STALKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang