Part 19 "Two red lines"

27.2K 1.3K 295
                                        

Hello, kangen sama huru hara rumah tangga Pak Arvin, gak?
Yang kangen komen sini!!!

Btw makasi ya 200+ vote di chap sebelumnya, konsisten yuk yg vote dan semoga bisa lebih dari target♡

Happy reading^^

******

"MAS ARVINNNN!!!!!" jerit Felisa histeris dari kamar mandi.

Arvin yang baru saja duduk hendak memakan jagung harus dikejutkan dengan teriakan sang istri, pria itu meletakkan jagungnya dan segera menghampiri Felisa di kamar mandi. Dengan wajah panik pria itu membuka pintu kamar mandi guna melihat apa yang terjadi.

"Ada apa?" tanyanya khawatir.

"Ada ulat bulu!!!" seru Felisa menunjuk lantai yang terdapat tiga ulat bulu sekaligus.

Arvin menghela napas, dia kira istrinya dalam bahaya ternyata hanya karena ulat bulu. "Sudah saya buang." katanya.

Pria itu keluar dari kamar mandi dengan wajah datar, kemudian kembali pada kegiatan santainya memakan jagung. Dia berdecak, sepertinya dia harus menghindari penginapan yang kamar mandinya berdekatan atau berbatasan langsung dengan tanaman, gudang atau bahkan pohon. Rasanya Felisa akan selalu berteriak karena bertemu hewan-hewan yang cukup menjijikan bagi perempuan itu, ini adalah kali kedua Felisa berteriak di dalam kamar mandi setelah yang pertama menemukan kaki seribu kemudian yang kedua menemukan ulat bulu.

Sedangkan di dalam kamar mandi Felisa tengah dagdigdug menunggu hasil tesnya, beberapa menit menunggu dengan cemas akhirnya Felisa dapat melihat dengan jelas kalau terdapat dua garis berwarna merah disana. Yang membuat matanya melotot adalah garis itu benar-benar terlihat jelas membuat dia pun tidak yakin, review orang-orang mengatakan kalau garisnya samar sebelah, tapi miliknya terlihat jelas.

"G-gue hamil beneran?" monolognya syok.

Felisa men-search lewat google tentang hal ini, perempuan itu membaca kalau test kehamilan sebaiknya dilakukan pagi hari untuk mengetahui ke akuratannya. Felisa memutuskan untuk mencoba lagi besok pagi dan tidak memberitahukan yang ini kepada Arvin, bahkan suaminya saja tidak tahu kalau dia membeli alat tes kehamilan.

Gue jadi gak karuan gini, semoga beneran deh. Semoga bibit unggul beneran tumbuh di perut gue, aamiin.

Felisa menatap dirinya lewat cermin, kemudian tersenyum geli melihat wajahnya sendiri. Dulu menikah dengan Arvin seolah terasa mustahil baginya, selain perbedaan usia ada status dan perasaan yang menjadi tembok tertinggi antaranya dan Arvin. Tapi siapa sangka kalau ternyata pria itu yang akan menjadi suaminya, bahkan kejadian-kejadian yang tidak pernah Felisa bayangkan malah terjadi.

Dulu dia hanya suka menggombali Arvin karena iseng, tapi lama kelamaan keisengan nya berubah menjadi rasa suka. Dia hanya membayangkan kalau punya hubungan spesial dengan pria seperti Arvin, saat mengajak lelaki dewasa itu menikah pun itu hanya murni kalimat spontan yang keluar dari mulutnya. Sekarang, dia tidak perlu pria seperti Arvin untuk menjadi suaminya karena dia sudah mendapatkan Arvin sepenuhnya.

Gue dulu najis banget ya ngejar-ngejar om Arvin.

Mana gak tahu malu lagi, sekarang malah jadi suami gue, mana gue cinta banget...

Ya Allah terima kasih sudah bikin om Arvin jadi punya Felisa, panjangkan umurnya, tetap jaga kegantengannya buat Felisa yang masih kecil ya Allah...

Ya Allah kalau ada cewek yang lirik sama genit ke suami Felisa, copotin aja matanya Ya Allah, demi apapun Felisa nggak ikhlas. Aamiin.

Felisa merapikan rambutnya sebentar, perempuan itu keluar dari kamar mandi dengan test pack yang dia sembunyikan di kantong baju. Sementara hasilnya belum pasti dia tidak akan memberi tahu suaminya, takut mengecewakan pria tampan itu.

AMOUR (Mr. Pradipta)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang