Selamat siang, semoga ini bisa menjadi penghibur untuk kalian ya love.
I love you!!!!!
❤️💐
*********
Beberapa bulan kemudian....
"Masih kerja?" suara bariton itu berasal dari lelaki berpakaian formal yang baru masuk ke ruangan Arvin.
"Menurutmu?" sahutnya tanpa menjawab.
Devan terkekeh melihat kerutan di dahi Arvin, perusahan pria itu baru saja memenangkan tender besar dan sedang sibuk-sibuknya, tidak ada waktu bagi Arvin untuk pulang ke rumah. Buktinya pria itu tidak juga berganti pakaian sejak kemarin saking sibuknya.
"Bukankah istrimu sebentar lagi melahirkan?" tanya Devan lagi.
Pertanyaan atau mungkin pernyataan yang Devan lontarkan benar adanya dan hal itu membuat Arvin mendesah frustasi, akhir-akhir ini dia sangat sibuk dan hampir tidak pulang kerumah kalau saja istri kecilnya itu tidak mengomel dan menyusulnya ke perusahaan. Arvin pusing memikirkan pekerjaan yang begitu menumpuk dan harus segera diselesaikan sebelum memasuki Hpl sang istri, tentu saja itu sebentar lagi.
"Pulang, biar aku yang menggantikanmu sementara." titah Devan, pria itu datang tepat pukul tujuh malam.
Arvin memandang Devan sebentar. "Ya, kamu benar Devan. Aku memang harus pulang, aku titipkan perusahaan padamu."
Tanpa banyak bicara pria itu bangkit membawa handphone serta tas kantornya keluar dari ruangan, sedangkan pria yang ditinggalkan hanya mendengus kecil melihat tampilan bos besar mereka yang sangat berantakan. Arvin kewalahan selama sekretarisnya cuti satu bulan ini untuk menikah, dan pria itu hampir menghabiskan waktunya sebulan ini didalam perusahaan dan pulang untuk makan dan tidur.
Devan membatin, untung istri Arvin bukan Intan. Kalau istrinya pasti sudah menghancurkan seisi kantor kalau mengetahui dia tidak pulang apalagi koandisinya sedang hamil muda seperti sekarang, Devan jadi merasa harus was-was. Tadi saja dia harus membujuk sedemikian rupa agar istrinya mau ditinggalkan karena bagaimanapun dia berkewajiban membantu Arvin terlebih istri sahabatnya itu sebentar lagi akan melahirkan.
Disisi lain Arvin dengan mata merahnya akibat lelah seharian berperang dengan komputer mulai memasuki mobil dan melajukannya pulang kerumah, tidak butuh waktu lama mungkin sekitar 15 menit dia sampai di rumah besarnya yang masih terang benderang oleh lampu. Ya, Felisa belum tertidur jam segini, biasanya dia pulang saat istrinya sudah tidur dan bangun saat istrinya masih tidur.
"Aku pulang." ucapnya saat memasuki rumah.
Kondisi di dalam rumah itu sepi, tidak ada siapapun yang beraktivitas kecuali suara dentingan wajan dengan spatula dan aroma makanan yang semerbak dihidungnya. Buru-buru Arvin mendatangi dapur tersebut dan melihat kalau istrinya berdiri disana sedang memasak, rambut panjang yang digulung asal itu berjatuhan di tengkuk putih jenjang istrinya, baju tipis dengan motif bunga-bunga pun tidak bisa melindungi Felisa dari bayangan nakal Arvin mengenai tubuh perempuan itu.
Arvin memeluk istrinya dari belakang membuat Felisa terkejut setengah mati karena sejak sore dia memang sendirian. "Astaga mas, aku kaget." sebal Felisa begitu tau tangan kekar yang mengelus perut besarnya itu adalah Arvin.
"Masak apa sayang?" tanya Arvin tanpa mengindahkan gerutuan istrinya.
"Udang asam manis, rencananya mau aku antar ke kantor kamu buat makan malam sekalian aku nginap disana." jelas Felisa.
Arvin mengangguk. "Maaf..." bisiknya kemudian.
Felisa mematikan kompor kemudian berbalik menghadap sang suami, wajah tampan itu serlihat sangat lelah, Felisa tahu seberapa sibuk suaminya saat ini. Dengan senyum tulus dan tatapan genitnya wanita itu menjawil hidung mancung sang suami, berjinjit untuk mengecup bibir seksi yang belakangan ini dia rindukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMOUR (Mr. Pradipta)
General FictionMenikah dengan bapak-bapak? Siapa takut!! Felisa Anindira, gadis berusia 18 tahun itu tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan naksir dengan seorang Arvin Bisma Pradipta yang tak lain adalah sahabat Ayahnya. Awalnya dia hanya merasa kagum pada soso...
