Karina sedang asik rebahan. Maklum saja, dia baru pulang sekolah dan merasa sangat lelah. Jam pulang sekolah SM SHS adalah pukul 17.00 KST, dan sekarang Karina sedang menikmati sisa waktu sorenya sebelum menjelang malam.
Namun, baru saja ingin menikmati waktu santainya, sang sepupu tiba-tiba datang menghampiri.
“Rin, Kakak mau minta tolong lagi ke kamu, boleh nggak?” tanya Mark yang langsung duduk di kursi belajar Karina.
“Jangan yang aneh-aneh, ya?” ucap Karina curiga. Mark hanya tertawa menanggapi sepupunya itu.
“Kakak mau minta tolong, tolong kasihin buku Fisika ini ke temen Kakak. Besok ada ulangan Fisika, kasihan kalau nggak dikasihin. Nanti malem dia belajarnya gimana?” Mark menyerahkan buku paket Fisika kepada Karina, dan Karina pun menerimanya.
“Siapa? Kak Soobin? Kak Beomgyu? Atau si itu?” tanya Karina. “Jangan bilang si itu, ya?” Karina melotot galak pada Mark.
Mark tertawa. “Iya, Yeonjun.”
“Ah, Kak Mark mah, pake disebut namanya segala. Bentar, aku mau berak dulu.” ketus Karina. Ia pun langsung berlalu menuju kamar mandi.
“Demi apa sih, Rin! Kamu denger nama Yeonjun aja langsung mau berak!” teriak Mark sedikit keras karena Karina sudah berada di dalam kamar mandi.
Asli, Mark tidak habis pikir dengan kelakuan sepupunya yang satu ini.
Setelah dua puluh menit berlalu, akhirnya Karina kembali.
“Ihh, males banget. Kenapa Kakak nggak kasih sendiri aja sih ke Kak Nujnoey?” Karina merengut sebal.
“Kakak sekeluarga mau pergi ke rumah nenek. Nenek sakit katanya. Kakak juga udah izin tiga hari ke pihak sekolah.” Mark menjelaskan situasi mereka.
“Kan Kakak bisa anterin sekarang, sebelum pergi ke rumah nenek.” ucap Karina, masih berusaha membujuk agar Mark mengantarkannya sendiri.
“Nah, justru itu, Kakak berangkatnya sekarang juga. Tuh, Mama sama Papa udah nunggu di mobil.” ucap Mark.
“Kamu mau, kan, bantu Kakak? Sekalian ambil sepeda kesayangan kamu, Rin. Kan masih ada di rumah Nujnoey.” Mark mengingatkan. Entah mengapa Mark jadi ikut terdoktrin untuk tidak memanggil nama Yeonjun dengan benar di depan Karina. Semua ini gara-gara sepupunya itu.
Karina diam, tampak sedang menimbang-nimbang.
“Sebenarnya aku males banget berurusan sama Kak Nujnoey. Tapi demi Kak Mark, yaudah nanti malem aku anterin ke rumahnya.” kata Karina akhirnya mengalah.
“Makasih, sayangku.” ucap Mark sambil memeluk Karina.
“Ihh, Kakak mah... Udah sana, Tante sama Om udah nungguin tuh.” Karina memberikan gestur mengusir. Mark hanya tertawa gemas melihat kelakuan sepupu cantiknya ini.
“Yaudah, kamu hati-hati di rumah, ya. Sendirian, kan? Ayah sama Bunda pulangnya kapan?” tanya Mark.
Ayah dan bunda Karina sedang dinas ke Daegu dan baru pulang lusa. Jadi, Karina memang sendirian di rumah. Namun tenang saja, Karina adalah anak yang pemberani.
“Lusa baru pulang, Kak.” jawab Karina.
“Yaudah, kamu hati-hati di rumah. Jangan lupa makan. Selama Kakak izin, kamu berangkat dan pulang sekolahnya nebeng sama Winter, Giselle, atau Ningning aja. Kalau nggak, kamu minta tolong sama temen Kakak juga nggak apa-apa. Asal jangan naik bus, ya.” ucap Mark panjang lebar penuh perhatian.
Karina cemberut. “Padahal aku naik bus aja gapapa loh, Kak.”
“No, Rin.” sambar Mark cepat. “Kamu baru pindah dan belum pernah naik bus di sini.” tegas Mark.
“Cih... Kalau gitu aku naik sepeda aja, ya? Aku udah tau rutenya kok. Kan pernah Kak Mark kasih unjuk.” ucap Karina dengan senyum cerahnya.
Melihat senyum itu, pertahanan Mark akhirnya runtuh. “Yaudah iya, naik sepeda aja nggak apa-apa.”
“Yeay! Makasih, Kak!” Karina ganti memeluk Mark. “Eh, yaudah sana, Kak. Om sama Tante udah nunggu dari tadi. Salam juga buat Nenek, ya.” lanjut Karina setelah sadar kalau mereka sudah mengobrol terlalu lama.
“Iya, Kakak berangkat, ya. Kamu baik-baik di rumah.” Mark mengusap surai halus Karina, setelah itu berlalu pergi meninggalkan rumah.
•••
Sementara itu, Yeonjun sedang bersantai sambil mengusap layar ponselnya, melihat-lihat aplikasi X di ruang tamu. Tiba-tiba saja, kegiatannya dikejutkan oleh ketukan pintu yang sangat tidak santai. Yeonjun sudah bersiap ingin memaki siapa pun tamu tidak tahu sopan santun itu.
Namun, saat ia membuka pintu, rahangnya seketika jatuh.
“NGAPAIN LO DI RUMAH GUE?!” teriak Yeonjun refleks.
Kini di hadapannya berdiri seorang gadis yang hanya dengan melihat tampangnya saja sudah sukses membuat Yeonjun sakit kepala.
Gadis itu adalah Karina. Dia berdiri di depan pintu rumah Yeonjun dengan setelan santai—celana pendek selutut dan kaus lengan pendek warna putih bergambar Shinchan—sambil memeluk sebuah buku paket.
“Jawab, woy! Lo ngapain di rumah gue?!” tanya Yeonjun lagi karena tidak mendapat jawaban.
Karina menghela napas lelah sambil menyodorkan buku paket Fisika ke arah Yeonjun.
“KOK BUKU PAKET FISIKA GUE ADA DI LO SIH?! LO SENGAJA YA NYOLONG BUKU PAKET GUE BIAR GUE NGGAK BISA BELAJAR?!” teriak Yeonjun tidak terima. Ia sudah terlalu lelah jika harus berurusan dengan Karina, si cewek rese ini.
(Astaghfirullah, suuzan banget kamu, Jun. Dosa tau! 😭)
“Jelek banget pikiran Kak Nujnoey.” Karina menatap Yeonjun malas. “Siang tadi kan Kak Nujnoey main ke rumah Kak Mark. Nah, buku Kak Nujnoey tuh ketinggalan di sana. Masih untung aku anterin, jadi Kak Nujnoey bisa belajar. Kalau bukan karena Kak Mark sih, aku juga nggak bakal mau.” ucap Karina panjang lebar membela diri.
Yeonjun mengangkat sebelah alisnya. “Emangnya Mark ke mana? Kok lo yang nganterin?”
“Banyak nanya. Mana sini sepeda aku? Mau aku ambil.” ucap Karina enteng, mengalihkan pembicaraan.
“Shit! Nyusahin lo.” umpat Yeonjun pelan. Ia pun berlalu menuju garasi rumahnya untuk mengambil sepeda Karina.
Idih, dia yang salah, dia yang lebih galak. Nggak nyadar banget lagi, bukannya dia yang nyusahin? batin Karina kesal.
“Noh, sepeda lo.” ucap Yeonjun sekembalinya dari garasi. “Btw, lo kesini tadi naik apa?” tanya Yeonjun baru menyadari kalau Karina tampaknya tidak membawa kendaraan apa pun tadi.
“Ojol.” jawab Karina singkat. “Aku udah bisa pulang, kan? Waktu aku bisa habis cuma buat pembicaraan nggak berguna ini.” Karina sudah menaiki sepedanya, bersiap untuk mengayuh pedal.
Yeonjun semakin sebal melihat tingkat kesombongan gadis di depannya ini. Ia pun tersenyum meremehkan. “Yeee, sana lo pulang aja. Gua nggak butuh ya!”
“Cih, nggak ada terima kasihnya.” Karina mendecih sebal. Ia langsung mengayuh sepedanya dengan cepat meninggalkan halaman rumah Yeonjun.
“IDIH, DASAR CEWEK RESE!” teriak Yeonjun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku sepupu Mark tersebut.
Namun, setelah gadis itu hilang dari pandangan, Yeonjun terdiam. “Eh, bentar. Kok dia mau ya capek-capek nganterin buku paket ini ke rumah gue? Terus bisa-bisanya dia nggak marah ke gue? Padahal kan kutipan gue di postingan Mark udah keterlaluan banget.” monolog Yeonjun seraya berpikir keras.
“Ah, bodo amatlah. Ngapain juga gue peduliin itu cewek.” pungkasnya seraya menutup pintu rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
it's between you and me (end)
RomancePada awalnya ini merupakan hubungan yang tegang antara Yeonjun dan Karina. Namun, pertemuan yang terus menerus membuat perubahan untuk hubungan keduanya yang lebih intens. Started: Jum'at, 24 November 2023 End: Jum'at, 29 Maret 2024
