Pada awalnya ini merupakan hubungan yang tegang antara Yeonjun dan Karina. Namun, pertemuan yang terus menerus membuat perubahan untuk hubungan keduanya yang lebih intens.
Started: Jum'at, 24 November 2023
End: Jum'at, 29 Maret 2024
Yeonjun memasuki kelasnya. Baru ada beberapa siswa yang datang. Ini gue yang terlalu cepet dateng, atau temen-temen gue yang emang terlalu lama?
Saat hendak duduk, Yeonjun terkejut. Ada sebuah amplop beserta sticky note di atas mejanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“KARINA?!?!?!?!?!?!?! WHAT THE FUCK!!!” teriak Yeonjun refleks tanpa memedulikan siswa lain di kelasnya.
Yeonjun hanya bisa memelototi amplop berisi uang tersebut. Ia benar-benar tak habis pikir Karina akan melakukan hal ini.
•••
Yeonjun bersiap keluar kelas untuk pulang, tapi ponsel di saku celananya bergetar. Ada pesan masuk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Oalah, dari Mark ternyata. Tapi, firasat gue kok nggak enak?!?!” monolog Yeonjun. “Bales aja dulu, deh. Siapa tahu penting.”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Firasat gue kok makin nggak enak, ya? Tapi ya udahlah, bales aja lagi.” monolog Yeonjun setelah melihat balasan Mark.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waduh… Kan, kan, kan. Apa kata gue juga, batin Yeonjun.
Yeonjun sebenarnya malas berurusan dengan ‘manusia minimalis’ itu, apalagi Karina secara tidak langsung sudah menyakiti harga dirinya. Sudah dibantu, tapi tidak diterima. Namun, ia tidak mungkin menolak permintaan Mark yang sudah seperti saudara baginya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasanya Yeonjun ingin memaki Soobin dan Beomgyu. Kenapa mereka sok-sokan nggak bisa, sih?
Tak ada pilihan lain. Yeonjun segera melangkahkan kakinya menuju parkiran. Ia menyalakan motornya dan segera meluncur ke parkiran khusus sepeda.
Sesampainya di sana, Yeonjun dengan mudah menemukan Karina. Ia menghentikan motor tepat di depan gadis itu dan tertawa melihat Karina yang duduk pasrah di samping sepedanya yang bannya kempes. Gadis itu terlihat seperti anak hilang—sangat menyedihkan sekaligus lucu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Heh, anak ilang.” panggil Yeonjun.
Karina mendongak, melihat Yeonjun yang sedang duduk di atas motornya. “Ngapain Kak Nujnoey ke sini?” tanya Karina bingung.
“Mau mungut anak ilang, nih.” jawab Yeonjun. Karina hanya mencebikan bibir kesal.
Yeonjun menunjuk jok belakang dengan dagunya. Karina tidak mengerti. “Apaan sih?”
“Gue anter lo pulang. Sepeda lo bannya kempes, kan?”
Karina mengangkat sebelah alisnya. “Tahu dari mana kamu?”
“HEH! Kama-kamu-kama-kamu! Emangnya gue teman lo? Nggak sopan ya lo sama kakak kelas!” omel Yeonjun.
Karina memutar bola matanya jengah. “Suka-suka aku lah.”
“Udah, buruan. Sini naik, gue anterin lo pulang. Mau pulang nggak? Udah mau malem nih.” ucap Yeonjun.
Karina tampak berpikir, memikirkan nasib sepedanya. Masa ditinggal begitu aja? Ini kan sepeda kesayangan aku.
“Mikirin sepeda, kan? Tenang aja, gue punya temen yang kerja di bengkel. Gue udah minta tolong ke dia buat benerin sepeda lo. Nanti sepedanya bakal dianter ke rumah lo, nggak usah khawatir.” ucap Yeonjun seakan bisa membaca pikiran Karina.
Karina jadi heran. Mereka kan sedang bermusuhan, tapi kenapa Yeonjun jadi baik begini? Bukannya malah aneh?
Setelah bergulat dengan batin, akhirnya Karina memutuskan untuk ikut.
“Nih, helmnya dipakai dulu.” Yeonjun memberikan helm cadangan yang kebetulan ia bawa karena tadi pagi sempat mengantar mamanya ke kantor.
Karina menerima helm tersebut dan memakainya. Setelahnya, ia segera menaiki jok belakang motor Yeonjun saat mendapat kode dari laki-laki itu yang menunjuk jok belakang menggunakan dagunya—pertanda Karina harus segera naik. Yeonjun pun langsung menjalankan motornya.
•••
Sesampainya di rumah Karina.
“Makasih ya, Kak, udah nganterin aku pulang.” ucap Karina sambil menyerahkan helm. Yeonjun mengangguk.
“Maafin gue.” ucap Yeonjun tiba-tiba.
Karina mengernyitkan alis. “Maaf buat apa?”
“Maaf karena gara-gara gue, lo jadi dimarahin Bu Boa.” Yeonjun memalingkan wajah, menatap ke arah lain agar tidak berkontak mata. Gengsi.
“Kan aku udah bilang, aku udah maafin Kak Nujnoey.” jawab Karina.
Namun, tiba-tiba Yeonjun teringat soal amplop tadi dan merasa kesal. “Maksud lo apa ngasih duit gitu?” tanya Yeonjun ketus.
Karina jadi heran dengan kakak kelasnya ini. Sebegitu mudahkah suasana hatinya berubah? Barusan bersikap hangat, sekarang malah menyebalkan. Baru saja minta maaf, sudah ketus lagi.
“Ini kan masalah aku, jadi aku lebih nyaman kalo aku yang selesaiin sendiri. Kak Nujnoey nggak perlu ikutan. Lagian aku nggak mau punya utang apa pun ke Kak Nujnoey.”
“Lo nggak ngehargain gue!” kata Yeonjun setengah berteriak.
“Loh, kok Kak Nujnoey jadi marah?”
“Asal lo tahu, gue tuh ngerasa bersalah ke lo! Eh, lo malah gini ke gue. Dasar nggak tahu terima kasih, niat baik gue malah ditolak. Udah lah, gue pulang!” Yeonjun segera menyalakan motor dan melaju kencang, meninggalkan Karina yang terdiam kebingungan.
“Idih, nggak jelas banget. Dasar childish.” gumam Karina sambil menggelengkan kepala tak habis pikir.