Chapter 22: Serangan Balik?

171 23 2
                                        

“Lo serius itu ngerjain Kak Yeonjun?” tanya Ningning pada Karina. Karina mengangguk bangga melihat motor Yeonjun yang kedua bannya sudah kempes.

Ya, benar sekali. Karina berniat membalas perbuatan Yeonjun dengan mengempiskan ban motornya.

“Tapi kasihan Kak Yeonjun, dia pasti nanti nggak bisa pulang karena ban motornya kempes.” ucap Giselle.

“Sebenarnya emang kasihan, tapi aku udah kesel banget sama Kak Nujnoey yang seenaknya aja ke aku. Jadi, untuk kali ini, aku mohon jangan halangin aku buat kasih balasan ke Kak Nujnoey ya, Gi.” ucap Karina.

“Lagian gue nggak mau ngehalangin lo, kok. Makin ke sini, lo sama Kak Yeonjun makin serem. Jadi takut gue.” kata Giselle bergidik ngeri. Ningning dan Winter tertawa mendengarnya.

Karina ikut tertawa. “Yaudah, yuk pulang.” ajaknya. Keempatnya pun beranjak pergi, meninggalkan motor Yeonjun yang terparkir dalam kondisi ban kempes.

•••

Karina yang sedang asyik scrolling media sosial tiba-tiba merasa asing dengan notifikasi yang masuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Karina yang sedang asyik scrolling media sosial tiba-tiba merasa asing dengan notifikasi yang masuk. Ia pun segera membalas pesan tersebut.

Tak berselang lama, nomor tak dikenal itu pun membalas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tak berselang lama, nomor tak dikenal itu pun membalas.

Tak berselang lama, nomor tak dikenal itu pun membalas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Oops, ternyata Kak Nujnoey. Serem ih.” monolog Karina sambil cekikikan. Meskipun sebenarnya enggan, ia tetap menyimpan kontak Yeonjun.

Entah kenapa, tiba-tiba ada perasaan tidak enak sekaligus bersalah karena sudah menjahili Yeonjun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Entah kenapa, tiba-tiba ada perasaan tidak enak sekaligus bersalah karena sudah menjahili Yeonjun. Padahal, sebelumnya Karina sudah memantapkan hati untuk tidak merasa kasihan, tapi nuraninya tetap saja terusik.

•••

“Lo beneran dateng?” tanya Yeonjun terperangah. Ia tidak percaya Karina akan datang menemuinya, apalagi anak itu datang menggunakan sepeda andalannya.

“Yaudah, aku pulang lagi kalau gitu.” ucap Karina bersiap mengayuh sepedanya, berniat untuk pergi.

“Gue nggak nyangka aja. Tapi, jangan pergi dulu. Lo harus tanggung jawab.” ucap Yeonjun sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana.

“Kak Nujnoey sekesel itu apa ban motor kakak kempes?” tanya Karina.

“Ya lo pikir aja sendiri!” ucap Yeonjun ketus.

“Yaudah, aku bantu panggilin tukang bengkel.” jawab Karina.

“Bukannya manggil tukang bengkel, yang ada lo malah kabur, kan? Jangan-jangan bener, kan, tebakan gue kalau lo yang jahilin gue?” Yeonjun memicingkan mata curiga.

“Ya iya, makanya aku mau bantuin Kak Nujnoey. Aku mau tanggung jawab.” jawab Karina sambil memainkan jari-jarinya.

Karina celingak-celinguk memastikan ada bengkel terdekat, sementara Yeonjun hanya memperhatikan dengan saksama.

“Kak Yeonjun.” panggil Karina.

“Hm?”

Karina menoleh sejenak. “M-maksud aku, Kak Nujnoey.”

Mendengar itu, ujung bibir Yeonjun membentuk seringai. “Kenapa, Rin?”

“Itu ban motor kakak kempes emang kerjaan aku. Eh, tapi bukan sepenuhnya kerjaan aku sih. Terus gimana motor kakak? Kayaknya enggak ada bengkel dekat sini.” ucap Karina gugup.

“Ngempesinnya aja lo bisa, tapi cari solusi nggak bisa?” tanya Yeonjun terkekeh.

“Tadi kan Ningning yang ngempesin, kalau aku ya bagian nyuruh doang.” jawab Karina jujur.

Yeonjun tertawa. “Kalau gitu, lo anterin gue pulang, oke?”

“Lah, gimana caranya? Terus nanti motor kakak gimana?” tanya Karina bingung.

“Lo anterin gue pulang pakai sepeda lo lah. Masalah motor gue mah gampang. Yang gue perluin sekarang itu tanggung jawab dari lo.”

Semuanya berjalan begitu cepat. Yeonjun sudah duduk di boncengan belakang sepeda Karina, sementara Karina merasa semakin bingung.

“Kak Nujnoey ngapain? Mana kuat aku bonceng kakak! Harusnya kakak dong yang bawa sepedanya.” teriak Karina kesal.

“Banyak omong. Udah, buruan gowes. Lemah amat jadi cewek.” ucap Yeonjun.

Karina mencebikan bibir dan bersiap mengayuh sepedanya. Namun, baru beberapa saat dikayuh, sepeda itu oleng. Karina tidak kuat.

Yeonjun tertawa. Lucu juga mengerjai bocah ini.

“Sini, gue yang boncengin lo.” Yeonjun segera mengambil alih sepeda, dan Karina langsung duduk di boncengan.

“Ya, emang harusnya gitu, kan. Harus Kak Nujnoey yang bawa sepedanya.” ucap Karina dengan wajah tengil.

Tanpa aba-aba, Yeonjun langsung mengayuh sepeda dengan kencang sehingga membuat Karina hampir terjungkal.

“A-aww, pinggang gue jangan dicubit, Rin!” teriak Yeonjun mengaduh.

“Habisnya Kak Nujnoey gowes sepeda nggak bilang-bilang!” protes Karina.

Akhirnya, Yeonjun mengayuh dengan normal. Keduanya terdiam, menikmati angin sore menjelang malam yang menerpa.

“Ini mah sama aja gue yang nganterin lo pulang.” ucap Yeonjun memecah keheningan.

“Kalau aku yang bawa sepedanya, yang ada kita nggak sampai-sampai ke rumah. Tapi, Kak Nujnoey tuh harusnya bersyukur aku izinin kakak naik sepeda aku. Bilang apa?” ucap Karina sambil memiringkan kepala untuk melihat wajah Yeonjun.

“Lo ngeselin.” ucap Yeonjun.

“Udah dibantuin bukannya bilang makasih.” Karina mencebikan bibir.

“Bukan bantuin, tapi itu keharusan. Itu bentuk tanggung jawab lo karena udah jahilin gue.” ucap Yeonjun.

“Tinggal bilang makasih aja susah!” Karina menepuk punggung Yeonjun.

“Iya, iya, makasih manusia minimalis.” ucap Yeonjun sambil tertawa.

“Nama aku Karina.” jawab Karina tidak terima.

“Lo juga nggak pernah bener nyebut nama gue tuh.” balas Yeonjun.

Secara tiba-tiba, Yeonjun mengayuh sepeda dengan cepat yang refleks membuat Karina berteriak.

“KAK, JANGAN NGEBUT-NGEBUT! AKU TAKUT JATUH, SEPEDA AKU UDAH TUA SOALNYA!” teriak Karina sambil memeluk pinggang Yeonjun.

Yeonjun tertawa, namun setelahnya terdiam. Ia merasa kaget karena pelukan tiba-tiba dari Karina. Pipi dan telinganya entah mengapa jadi merona.

it's between you and me (end)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang