Chapter 5: Julid dan Tak Mau Kalah

223 24 2
                                        

“Kantin, yuk!” ajak Ningning kepada Karina, Winter, dan Giselle begitu bel istirahat berbunyi.

“Ayo, laper banget gue.” sahut Winter cepat sambil memegangi perutnya.

“Yuk, yuk, ke kantin! Siapa tahu bisa ketemu Kak Yeonjun.” ucap Giselle antusias, yang sedetik kemudian langsung mendapat pelototan tajam dari Ningning.

“Rin, lo ikut, kan?” tanya Winter beralih pada Karina.

Dengan sisa-sisa semangat yang malas, Karina akhirnya mengiyakan. “Ya udah, ayo.”

Karina, Giselle, Winter, dan Ningning pun berjalan beriringan menuju kantin. Namun, begitu melangkah masuk ke area kantin, mereka bertiga—kecuali Giselle—serempak mengembuskan napas malas. Di salah satu sudut strategis, sudah ada Yeonjun dan gengnya yang diagung-agungkan oleh hampir seluruh populasi murid di sekolah.

Keadaan kantin hari ini luar biasa ramai. Sayangnya, satu-satunya tempat yang tersisa hanyalah meja kosong yang letaknya tepat di sebelah Yeonjun dan kawan-kawan. Mau tidak mau, mereka terpaksa duduk di sana. Di saat ketiga temannya merasa canggung, Giselle justru terlihat sangat bersemangat.

“Halo, Kak Yeonjun!” sapa Giselle manis. Ia sengaja mengambil posisi duduk di ujung kursi agar jaraknya bisa lebih dekat dengan cowok itu. Yeonjun hanya merespons dengan anggukan singkat tanpa ekspresi.

Sementara itu, Winter, Ningning, dan Karina hanya melempar senyum tipis, sekadar formalitas demi menjaga sopan santun kepada kakak kelas.

“Gabung di meja kita aja sini.” tawar Soobin ramah sembari mengumbar senyum lesung pipitnya.

Giselle sudah bersiap membuka mulut untuk mengiyakan, tetapi Winter dengan sigap membekap mulut sahabatnya itu. “Nggak usah, Kak. Kita di sini aja.” jawab Winter cepat.

Giselle buru-buru melepaskan tangan Winter dari mulutnya lalu mencebikan bibir kesal, sedangkan Winter hanya menyengir tanpa dosa.

Bagaimana dengan Karina? Gadis itu hanya diam. Lebih tepatnya, ia sedang sekuat tenaga menahan kejengkelan yang mulai membubung.

Mark yang menyadari raut wajah masam sepupunya segera bangkit dari kursi dan menghampiri Karina. “Rin, entar pulang sekolah Kakak ada rapat OSIS dulu. Kamu mau nungguin, kan?”

Karina mendongak, lalu tersenyum manis dan mengangguk. “Iya, Kak. Nanti aku tunggu di lobi aja, ya.”

Sekadar informasi, Karina memang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama Mark. Alasannya, selain karena sang bunda sudah menitipkan dirinya di bawah pengawasan Mark, hal ini juga demi menghemat ongkos. Sebenarnya Karina bisa saja naik sepeda ke sekolah—sama-sama hemat ongkos. Namun, Karina lebih memilih opsi yang nyaman yaitu hemat ongkos sekaligus hemat tenaga.

Mark mengangguk paham lalu dengan gemas mengacak rambut halus Karina.

“Ihh, Kak Mark mah! Rambut aku jadi acak-acakan tuh, kan!” Karina merengut sebal sambil merapikan poninya.

“Ihh, Kik Mirk mih! Rimbit Iki jidi icik-icikin tih kin.” potong Yeonjun tiba-tiba dengan nada mengejek yang tak kalah menyebalkan.

Karina langsung melempar tatapan malas ke arah Yeonjun. “Ini sekolah angker, ya? Aku barusan denger ada suara makhluk astral.” sindir Karina telak.

Mark, Soobin, Beomgyu, Winter, dan Ningning sontak meledakan tawa mendengar balasan menohok dari Karina. Terutama Beomgyu dan Soobin, tawa mereka terdengar paling menggelegar di antara yang lain.

Melihat pujaan hatinya dipojokan, Giselle mencoba pasang badan membela Yeonjun. “Udah dong, kalian kok malah ngetawain Kak Yeonjun? Kasihan tahu Kak Yeonjunnya. Karina nih gara-garanya.”

“Mark, sepupu lo gemes banget, sih.” celetuk Soobin di sela-sela tawanya.

Yeonjun yang tidak terima langsung menyambar ucapan sahabatnya itu. “Buta lo? Gemes dari mana coba?”

“Sensi banget sih lo, Jun!” Soobin tertawa puas melihat wajah kecut Yeonjun.

Di tengah riuhnya suasana, Karina tiba-tiba melontarkan pertanyaan serius, “Nggak ada niatan buat minta maaf ke Giselle?”

Suasana meja mendadak hening. Giselle yang panik segera menyentuh lengan Karina. “Rin, udah. Nggak usah dibahas lagi. Gue nggak apa-apa kok, beneran.”

Yeonjun mendengus remeh lalu menatap Karina dengan pandangan menantang. “Noh, liat sendiri. Yang bersangkutan aja biasa aja, malah lo yang ribet.”

“Dasar manusia berdarah dingin.” desis Karina tajam.

“Lo tuh, manusia minimalis.” balas Yeonjun tak mau kalah, melirik tinggi badan Karina.

Karina yang malas memperpanjang perdebatan unfaedah ini akhirnya memilih diam dan memutar bola matanya malas. Lagipula, jika dipikir-pikir, dia memang kalah tinggi dari seniornya itu. Tapi, bukan berarti Karina yang pendek, melainkan Yeonjun saja yang tingginya mirip Titan.

it's between you and me (end)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang