Nasi dan papeda

12 2 0
                                        

Tidak selamanya waktu itu berpihak pada kita jadi gunakanlah dengan bijak. Karena dia sangat berharga dan tak bisa dibeli dengan apapun atau ditukar.

Jangan perna memandang rendah seorang atau budayanya karena kita tak perna tahu dengan siapa kita berhadapan oke.


Perempuan itu memandang jalan dengan lajuh motor yang perlahan telah pelan karena memasuki area gedung ACC. Raizel kenapa sekarang jadi lebih menyebalkan ketimbang mereka masih sebagai dosen dan mahasiswa biasa tanpa ada ikatan seperti ini.

"Ace kamu itu kebanyakan melamun mau saya cium." Tangan Ace otomasi membekap bibir pemudah itu saat dia mermarkirkan motor dilahan parkir. "Sir kenapa sir jadi cerewet sekali mohon pengertiannya saya lagi sibuk karena semester ini dosen rata-rata tidak punya hati sama sekali." Raizel biarkan saja tangan itu berada dimulutnya tak peduli beberapa orang menyorot mereka untung manusia yang Ace kenal disini belum ada yang tampak batang hidungnya jadi bisa dipastikan nyawa anak itu aman, tapi bukan berarti dia selamat dari amukan gosip yang tak penting.

"Ayo masuk," ujar pemudah itu sembari mengandeng tangan Ace. Perempuan itu tak menolak atau berdebat dengan tingkah pemudah ini makin hari makin aneh.

"Kalian sudah UTS mk apa saja ini." Ketika pantat dua sejoli itu menempati kursi, Ace mengaruk keningnya minggu ini perempuan itu yang uts dan dia malah belum belajar buku-buku malah jadi bantal dirumah dan circlenya terlalu lupa untuk belajar karena butuh healing.

"Kamu bawah buku-buku dari perpus itu belajar kan?" Pemudah itu melihat sekitar ruangan itu kembali menatap perempuanya lagi. "Cuma karena Ferla ya udah embat tugas ketua tingkat, dengan jaminan kamu bebas dari saya sebagai asisten." Ace ingat betul Raizel perna mengatakan ini ketika dia balik dari PMM-2 di universitas IKIP budi utomo janji jika Ferla yang diangkat jadi ketua tingkat maka beban Ace lepas dari pemuda ini sebagai aistesi.

Saat itu Ace tengah keluar dari lobi gedung lantai 2 malak perempuan itu jalan sendiri karena akan bertemu Raizel jadi 3 temannya katanya akan turut tentu saja tapi mereka malas jadi obat nyamuk.

Karena akan bertemu dengan Raizel maka tiga temannya pergi dari hadapan perempuan itu, Eta, Haya dan Madhu tiga perempuan itu tentu tidak mau jadi obat nyamuk untuk Ace dan dosen itu apalagi. Ketiga perempuan itu telah enyah dari hadapan Ace depan lobi. Kejadian pukul 2 siang nah sekarang pemuda itu berdiri depan lobi menghampiri perempuan itu. Langsung mengadeng tangan Ace disaat udara siang terik, ketika tanggung jawab sebagai asisten terlepas maka, sebenarnya Ace meresa legah sekali.

"Ikut saya." Ace menatap pemudah itu pasrah ditarik seperti begitu. "Apa sir, gak ada tugas di prodi gitu?"

"Gak ada."

"Rapat gitu gak ada Sir? Atau menguji gitu Sir." Pemudah itu menatap mata Ace serius, angin berhembus meniup beberapa anak rambut Ace terbawah angin yang tenang tangan kanan laki-laki itu memperbaiki rambut Ace di gedung malak. "Gak ada sayang ayo pulang."

"Njirrr pulang." Ace otomatis menutup bibirnya karena perempuan itu kelepasan mengumpat,

Retina Raizel menilik Ace. "Ya maksudnya serius sir kita pulang ini, gak ada niat kemana gitu lapar sir, okelah saya juga capek sir."

"Okelah mau kemana kamu?"

"Gak tahu mau ke mana ini pulang ajalah," ujar perempuan itu dengan kesal lantaran Raizel terlambat menyadari itu. Buru-buru dua tangan Ace digengam pemuda itu. "Kita makan di kafe saja." Sudahlah tubuh perempuan itu terikut ditarik saat dosennya pergi kearah motor yang terparkir didepan prodi. Josua saat itu melitas hanya termanguh dengan pemandangan ini, Ace hanya sekilas menyapa sebagai mestinya. Motor Raizel undurkan keluar motor itu keluar lahan parkir depan prodi, pemudah itu peka tapi dia tak terlalu peduli karena Ace pun tak merespon laki-laki itu. Motor sudah melajuh keluar jalur kampus dengan Ace yang dibonceng pemudah itu. Masih ingat dulu kalimat Ace saat dia terpaksa pergi bersama laki-laki ini karena tidak sengajah menumpangkan air pada kemeja rapat pemudah itu kalimat Ace adalah pertama dan terahkir dia naik motor bersama orang ini, tapi sekarang justru dia malah semakin lengket dengan Raizel. Kadang kita tak perna sadar dengan apa yang kita katakan justru sebaliknya.

Motor KLX putih yang pemudah itu kendarai dengan normal tak seperti yang biasanya tentu dengan balap dan salip-salip dijalanan umum. Suasana siang yang terik dengan durasi matahari yang panas melebihi bara api unggun. Lalu lalang mobilitas dari penghuni kabupaten Sorong yang ramai setara dengan kota sorong. "Tadi gimana Utsnya sama Ma'am Raisah aman gak?" Laki-laki itu berbelok pada tempat yang akan mereka tuju, Ace yang sibuk melihat sekitar fokus pada pemuda yang masuk lahan pakir motor itu. "Aman sir, meskipun minggu kemarin saya tidak masuk, tapi dapat materinnya dari teman-teman yang lain sir."

"Ace ini diluar kampus kamu tidak harus pangil saya Sir terus ini rasanya saya terlalu tua sekali."

Perempuan itu turun dari jok motor saat laki-laki itu telah melepas helm dari kepalanya. "Ya saya sudah terbiasa memangil sir dan ini juga bagi saya terasa sopan sir, gak tua-tua amat juga sih dan ini tentu keharusa, kan dibalik hubungan kita kan?" Raizel berhenti jalan masuk kafe. Juga memandang muka Ace sebentar. "Kamu pangil saya Mas Salim saja atau Mas Raizel, saya merasa terlalu tua dipangil sir, sir sar, sir sir sar terus paham kamu Ace?" Ace otomatis menganguk tanpa ada perintah untuk menganguk lagi dari pemudah itu.

Sembari dilangit siang itu percakapan tadi mengundang rasa penasaran dari manusia dengan berbaju cokelat yang baru keluar dari bank BNI. Pemudah itu menatap kaget juga berlapis emosi. "Oh jadi ini alasannya sa, ditolak terus? Mas jawa tra laku itu kah, memang mampu bayar mahar perempuan moii berapa banyak?" Thomas mengepal tangan kesal nah sekarang pemudah itu sadar alasannya Ace menjauhinya. Sudah jelasnya semuanya.

"Sa kan, su perna bilang ko melawan, bilang nanti saja, nanti saja tunggu waktu yang tepat makan tuh ko pu waktu yang tepat." Tepukan dipundak membuat kepala Thomas menoleh ke belakang dan tentu itu Rio yang tengah mengunyak somai dalam plastik yang pemudah itu beli dari tukang somai yang sering berdagang di belakang alun-alun Aimas.

"Memang belum waktunya bro, sa tra mau buruh-buruh, pelan saja toh."

"Iyo pelan saja, lihat hasil pelan-pelanmu itu, andalan sekali sekarang cari perempuan lain saja daripada ko sibuk berjuang untuk perempuan yang sudah milik orang lain."

"Milik orang lain? Baru pacaran kali, sa peluang untuk dapat Ace masih ada, dan ko kira mas jawa satu itu de mampu bayar maharnya orang moi itu ko kira murah kah?" Pemudah itu menganguk dengan topi hitam yang menutupi kepalanya, kembali memandang Thomas dengan mengejek, "Ehh, tra boleh anggap remeh gitu demi cinta saja, apa yang tra bisa wehh, de kalau nekat ko bisa apa Thom?"

"Dasar ya ko itu tra kasih semangat untuk sa, malah kasih semnagat untuk manusia itu lagi, iblis ini." Thomas mengeplek kepala laki-laki itu.

Riooo mengindar dari tindakan yang membuat tingkat ketampannya menurun ini. "Soalnya sa kasih semangat juga ko kaya babingun jadi percuma saja kah, tinggal bilang sabar sajalah, tungguh waktu yang tepatlah ya, salahlah ko yang iblis baru," komentar pemudah itu sementara menilik jam tanganya. "Btw balik ke kantor sudah tra usah gangu orang pacaran, ko mau jadi perusak kah?"

"Yaaa, tidaklah daripada sa mencintai dalam diam sampai golblok sendiri." Riooo berbalik dengan mengangkat jari tengah pada kawannya karena dia telah jalan menujuh arah lampu merah meningalkan kawannya yang menyusul dibelakang dengan muka yang kesal luar biasa. Tapi kini dia tahu Thomas sedang mengejek nasib cintanya, mereka malah seperti sebelas dua belas.

"Makanya tra usah kasih nasihat kalau goblok juga." Pemudah itu merangkul bahu Rioo. "Btw bukannya kam dua juga akrab ya weeh?"

"Itu dulu jauh sebelum dengan lanjut sekolah untuk jadi guru."

"Ibu guru ee, sa kira ko niatnya sama perawat lagi, kaya aparat yang lainnya."

"Ya, gaklah sa tetap setia sama ibu guru saja, yang lain trada terima kasih."

"Iyaaaa-iya yang paling ibu guru eeh." Pemudah itu makin niat untuk mengejek kawannya. Riooo melirik Thomas agak jengkel pemudah itu bego atau apa. "Ehhh udik Ace itu kuliah calon guru sendiri udik ibu guru unimad baru sadar kah." Thomas mati kutu dan hanya nyengir saja karena ternyata senjata makan tuan. "Bicara tra sadar diri dasar eehhh bapa tua satu ini."

"AAh ko diam mas jawa tra laku ee."

"Eh anjir mas jawa tra laku tapi kalau sa lewat perempuan dong nekat datang minta nomor eee."

"Anjir ko Rioooo." Percakapan kedua pemuda itu terpaksa terjedah karena.

VC [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang