Terkadang hal yang kita kira mustahil malah terjadi realita. Padahal dulu hanya angan-angan kini dalam gengaman kita. Masa depan itu tidak bisa diprediksi tetaplah berprasangkah baik.
Menyukai Raizel itu hanya untuk menjadi penyemangat kuliah tak perna terpikiran untuk bisa disukai balik oleh pemudah itu. Hari-hari Ace hanya yang penuh dengan belajar-belajar ya, hanya itu saja tidak ada yang lain. Tentu saja ini membosakan tapi cukup menjadi hal yang patut dibanggkah. Jika pemuda itu telpon tidak untuk membahas pelajaran ya, Ace kaget tujuh keliling. Seperti dua hari yang lalu Pemudah itu terus menodongkan materi pembelajaran pada perempuan ini terus, terdengar kalimat Ella yang membuka pintu kamar melihat Ace yang tengah fokus pada layar laptop dengan tangan yang menyalin materi terjemahan. "Ko tra makan kah Ace."
"Itu mas Salim ada dibawah?"
Perempuan yang sedang sibuk belajar itu otomatis telah berdiri disamping Ella dengan tatapan yang membuat Ella cengoh dengan sepupunya ini.
"Serius ini masa sih." Perempuan itu menuruni tanggah perlahan mengintip keruang bawah melihat sosok manusia itu, ternyata ada. Antara senang dan bingung demi apa pemudah ini datang dirumah gila kali ya, Ace kembali naik ke atas dan menegok dari jendelah kamarnya kalau memang motor pemuda itu yang KLX putih terpakir rapih dihalaman rumanhya.
"Tra percaya sekali kalau mas Salim ada sana ya, udah turun makan daripada ko tra makan karena nasihnya habis wehhh." Ace dengan jantung yang nyaris copot karena tindakan si Raizel yang bisa dia sebut setengah sinting ya, dosennya ini agak lain. Pemudah itu sering bikin Ace heran dengan tingkahnya yang diluar nalar,
"Aduuuu sa tra mau turun tapi sa lapar sekali ini."Perut erempuan itu yang juga bertikai didalam sana minta asupan gizi dari sore dia belum makan maka sekarang mau bagaimana lagi.
Ketika Ace turun mengambil atensi semua orang termasuk pemudah yang duduk disamping ayahnya yang tengah makan sambil berdiksusi.
...
Perempuan dengan rambut yang diikat diatas leher itu tengah menghapus keringat yang jatuh membahasi dahinya, aroma deterjen daya khas bau mawar mengisih indra penciuman perempuan itu. Ace sedang bertukat dengan pakian kotor yang sedang dia ducuci pada mesin cuci. Punggung anak itu rasanya mau enggcok saja, serius bukan berlebihan tapi kalau mencuci pakian manusia satu rumahnya dimakan 5 atau 6 loyan jika tidak dibantu Ella atau mereka sendiri sadar diri untuk mencuci pakian kotornya. Maka hp perempuan itu tak sempat dia sentuh setelah dia selesai ibadah minggu pagi pukul 9 pagi hingga 11 siang.
"Adooo tuhar ee, terlalu banyak sekali kah." Ace memegan punggunya yang tentu saja sakit luar biasa sudah persis perempuan yang sakit bersalin. Leher pun dia rileskan kiri kanan, sembari mesin berhenti pakian dia sepul pada air bersih. Jangan bilang karena ayahnya termasuk pejabat dikantor bupati dia harus enak-enakan dan terbebas dari urusan rumah tangga, atau pun karena mamanya kerja dikantor kekuangan kabupaten sorong tetap saja perekerjaan begini Acse harus tanggun. "Masih banyak ya cucian ya," suara orang itu membuat leher Ace berputar ke belakang dengan tubuhnya mendapati Raizel dengan celana panjang maron dan kemeja hitam yang bersandar pada pintu dapur.
"Astagah Sir Anda buat kaget, eh ralat mas bikin kaget aja deh." Sebagian pakian perempuan itu masukan pada mesin pengering. "Iya sebagian lagi udah selesai," seloroh Ace untuk pertanyaan Raizel sebenarnya Ace canggung pangil pemudah itu mas kalau Sir sudah biasa jadi bagi dia tidak aneh, tapi kalau pangil depan orangnya itu ganjil sekali.
Pemuda itu masih seperti batu diam saja kalau tidak ada topik yang menarik untuk dibahas, Ace fokus untuk, menyelesaikan pakian kotornya kalau saudaranya dan lain sudah selesai maka mereka tadi memutuskan untuk ke tanjung batu sedangkan Ace dirumah saja bersama tumpukan pakian kotornya, ajakan nongki dari tiga besteinya dia skip, segitu penting pakian yang sedang dia cuci ya tentu saja.
Lima belas menit tepat pukul jam 4 sore perempuan itu telah menyelesaikan segala urusan pakian kotornya, Raizel setia menanti dirumah perempuan itu, niat mengajaknya jalan gagal total, tahulah mereka kalau dating ujungnya belajar jadi kadang Ace menolak, seperti dua hari lalu disatu kafe dekat pasar sore. "Sir katanya mau ajak jalan kenapa saya harus belajar lagi," sungut Ace saat itu kesal bukan main. "Otak saya sakit belajar terus sir saja yang belajar sendiri." Untuk pertama kali perempuan itu kesal karena Raizel terlalu menuntutnya untuk belajar.
"Sir bisa tidak berhenti todong saya dengan tugas dan tetek bengeknya saya capek," teriak Ace mengambil atensi penghuni cafe ya, tak dipungkiri dia jadi semangat belajar tapi jadinya juga toksik, maka perempuan itu mendiamkan Raizel, bahkan dikampus tak sudi untuk melihat wajahnya, namun karena dia telah minta maaf sampai lihat sendiri kan dia datang dirumah perempuan itu.
"Ace kamu masih marah saya soal yang dikafe itu?" Ace duduk dengan soto yang tadi perempuan itu masak, "Udah lewat beberapa hari sir eh ralat mas it's okey."
"Jangan pangil mas deh kalau kamu merasa terbebani." Pemuda itu memasukan miee pada mulutnya, "Pangil Sir aja."
"Gapp kalau ketuaan ya sir."
"Apa sih yang gak untuk Ace." Tangan Ace tertempel dijidat pemudah itu, "Sir gak salah makan kan atau itu soto gak makan sendok kan?" Pemudah itu malah ngakak dengan tingkah perempuan itu akhirnya suasana yang canggung antara mereka cair.
Deretan gigi Ace terlihat ingin tertawa dan senyum lebar lihat reaksi pemudah itu, tindakan Raizel seperti menunggu perempuan itu selesai kuliah antar jemput, bawahkan makanan, bantu buat tugas atau presentasi, tapi tidak perna ada kalimat seperti tadi sangat tidak mungkin.
Serius kalimat Ace senang bukan main, tapi tetap tenang waee padahal dalam hatinya lagi bermekaran bunga-bunga yang tumbuh di sana.
"Serius ini saya pangil sir ini gak pangil mas ya?"
"Kamu lebih nyaman pangil sir atau mas?"
"Mas." Sumpah demi apapun Ace ingin teleportasi kalau dia bisa, lutut perempuan itu lemas tangannya mendadak dingin dan gementaran, gugup cok, oh ayolah mereka memang berpacaran telah sebulan lebih tapi rasanya seperti pokoknya anak itu tidak bisa jabarkan dengan kata-kata dia kehabisan aksara serius.
"Alasanya apa?" Pemudah itu menopang dagu dengan tanganya mengabaikan soto yang Ace hidangkan, perempuan itu gelapan ditatap begitu salting jangan kau ucapkan lagi dia lagi ketar-ketir sekarang.
"Manis akrab sopan dan rasanya nyaman." Ace menunduk karena ungkapanya perempuan ini ingin memotong lidahnya yang terlalu jujur, anjir pasti ini orang besar kepala tapi Ace bisa apa. Bohong kalau Raizel tak baper ayolah laki-laki juga senang dipuji, sederhana seperti ini namun pemudah itu merasa terbang pada langit ketujuh, sumpah Ace sunguh menjungkir balik dunia pemuda itu.
"Gemas banget Ace boleh gak saya bawah kamu pulang aja ke jawa."
KAMU SEDANG MEMBACA
VC [END] ✓
Romance"Goblok goblok!" Seseorang perempuan mengetuk dahinya pelan ketika orang yang kemarin salah dia vc. Ada didepan kelas. Tengah menulis stukur teks news. Dalam hati perempuan itu bersumpah serapa dengan tetap diam dia meneguk ludahnya kasar. Ketika ma...
![VC [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/260823348-64-k427784.jpg)