Minji dan Haerin sudah tiba di gerbang sekolah, dimana adik dari Minji akan pindah dari asrama itu. Bangga yang dirasa oleh Minji ketika mengetahui sang adik mempunyai keahlian khusus, adiknya tampak lebih mandiri dan dewasa dari yang dulu.
"Hyein, pamitan dulu sama temen-temennya itu" tanpa menjawab sang kakak, Hyein berlari kecil lalu memeluk teman-teman nya dan sedikit memberikan kata-kata yang tidak dapat di dengar oleh Minji sendiri.
"dadahhh, jangan lupa chat gue nanti yaaa" Kesunyian menjadi suasana didalam mobil yang dikendarai Minji setelah sesi berpamitan.
"kakak cantik pacar nya ngab Minji, tah?" dikursi penumpang sana, Hyein memegang bungkus jajanan, meminta jawaban dari 'kakak cantik' itu.
"Ya iyalah, Napa? iri lo?" Minji yang menjawab, Hyein melirik sinis Minji dari belakang.
"Iya, nama kakak, Haerin. Hyein kelas berapa sekarang?" Haerin menoleh kebelakang, untuk memudahkan dirinya berkomunikasi dengan Hyein.
"Hyein udah kelas 9, nanti daftar SMA, Kakak SMA dimana? biar kita satu sekolah" jawab Hyein girang, Haerin tersenyum hingga Hyein terpukau.
"Woah, kak Haerin cantik banget. Jadi pacar Hyein aja, yok!"
"Woi! jaga mulut lo, ye" Minji sedikit berteriak,
"apasih loww, kok kak Haerin mau sih sama Minji? lebih baik sama Hyein" tepat sekali lampu lalulintas sedang berwarna merah, Minji menjentikkan jarinya di kening Hyein.
"sakit woi! Kak Haerin, liat tuh si Minji, jahat" adu Hyein menyentuh keningnya, Haerin menggerakkan lengannya untuk mengelus kening Hyein berharap rasa sakit pada kening Hyein berkurang.
"Haerin! jangan dielus dia" Haerin menghiraukan Minji dengan tatapan tajamnya, sedang Hyein tersenyum sombong pada Minji yang sudah melirik Hyein dengan sinis.
"masa cemburu sama adek sendiri" Minji melirik Haerin, tidak ada gairah hidup pada wajah paripurna Minji. Hyein tengah tidur dikamar Minji, mengistirahatkan tubuh dan batin nya yang sudah lelah berada di asrama.
"ya kan kamu punya aku, gak ada yang boleh nyentuh" Minji menjatuhkan wajahnya pada kedua tangan Haerin yang ia satu kan. Haerin mengelus dagu Minji, lalu menarik kedua tangannya untuk mengangkat handphone nya yang berdering.
"aku udah disuruh pulang" Haerin baru saja mematikan sambungan telepon nya dengan orang tua nya, ia berdiri bersiap untuk pulang.
"ayo gue anter" Minji menggenggam tangan Haerin, meninggalkan adik nya yang mungkin akan marah karena meninggalkan dirinya dirumah sendirian.
"ehh, kak Hanni" Minji terfokuskan oleh Hanni yang menunggu dipinggir jalan, Haerin baru saja turun dari motor Minji lalu memeluk Hanni. Haerin masuk ke dalam rumahnya, mengambil sesuatu dan meninggalkan Minji dan Hanni berdua.
"ciee, langgeng sama Haerin" goda Hanni pada Minji,
"hehe, Kakak juga kan?" Hanni hanya mengangguk tersenyum menanggapi Minji,
"kalo misalnya gak langgeng sama bang Dani, sama Minji juga bisa langgeng" Hanni memelototkan matanya kaget, lalu menatap tajam Minji.
"heh! maksudnya apa?" Minji hanya terkekeh,
"santai kak, bercanda" Hanni menaruh keraguan pada Minji, lalu memilih untuk fokus pada handphone nya, menunggu pesanan makanan online nya datang.
"kenapa gak nitip aja sama Minji?" ucap Minji setelah sedikit mengintip obrolan Hanni dengan sang ojek.
"orang gak kepikiran" Danielle menatap tajam Minji dari belakang tubuh Hanni, sengaja tidak mengeluarkan suaranya hingga sekarang.
"Hanni.." refleks Hanni menoleh kebelakang ketika mendengar nama nya disebut, sedikit terkejut dengan Danielle yang datang tiba-tiba.
"Dani!" pekik Hanni senang lantas memeluk erat Danielle.
"gue mau ngomong sama lo, sekarang, bisa?"
"bisa, tapi nunggu pesenan aku datang" jari jemari Hanni masih menyatu erat dengan tangan Danielle
"nitip sama Minji aja" Hanni menatap Minji dan Danielle bergantian, tatapannya seolah bertanya kepada Minji. Hanni berjalan memberikan uang itu setelah senyuman Minji terlihat olehnya.
"oke, eumm. Hanni.." Danielle dan sekarang hanya berdua, berada di taman yang dekat dengan rumah Hanni,
"Lo, ekhm, ada yang mau lo omongin sama gue?" Hanni mengernyit bingung, bukan kah seharusnya dia yang bertanya seperti itu?
"hah? bukan nya-"
"oke, jadi langsung aja ya" Danielle memotong ucapan Hanni, suasana begitu sepi dan tegang.
"kita putus, ya" sontak tubuh Hanni membeku, tidak ada di pikirannya jika kata-kata itu yang akan keluar dari mulutnya.
Danielle dapat merasakan nya, sejujurnya ia juga tidak ingin mengeluarkan kata itu. Bahkan tadi, saat ia dipeluk Hanni, hatinya sedikit tergores. Sekarang hati nya kembali tergores dengan muncul nya air dipelupuk mata Hanni. Ia merasa seperti orang terjahat di dunia.
"kenapa?" Danielle tertunduk lesu, tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan itu.
"kenapa lo mau kita putus?" Hanni terisak, mencengkeram ujung baju nya kuat.
"maaf, jangan benci sama gue" hanya itu yang didapatkan oleh Hanni.
Danielle menatap sendu Hanni, ia mengusap pucuk kepalanya dengan sangat lembut. Ia berjalan menjauhi Hanni, hingga ia berpapasan dengan Minji yang tampak tidak peduli dengan kedatangan nya.
Minji sedikit bingung dengan Danielle yang datang dengan dirinya sendiri tanpa membawa Hanni, pikiran nya sudah macam-macam. Ia berlari kecil, mencari Hanni namun yang ia dapatkan hanyalah suara isakan yang sangat pilu. Dengan ragu, Minji mendekati suara itu hingga netra nya menatap sosok Hanni yang tertunduk menangis.
"kak Hanni.." Minji merengkuh tubuh Hanni, menyalurkan rasa simpati nya.
Tentu saja, Hanni memeluk erat tubuh besar Minji. Yang ia butuhkan adalah sandaran untuk saat ini, walaupun bukan dari sosok yang ia inginkan. Cukup lama posisi mereka seperti itu, tidak berubah hingga dering telepon Hanni berbunyi nyaring ditengah kesunyian. Mama, sosok itu pasti mengkhawatirkan nya.
"Kakak mau pulang" mata yang sembab dengan hidung yang memerah, Minji merasa kasihan.
"Minji temenin"
Haerin sedikit kaget melihat Hanni dengan keadaan seperti itu, ia beralih menatap Minji yang ia kira sudah dirumah nya sedari tadi.
"Kak Hanni kenapa?" Minji tampak bingung,
"gak tau, udah nangis aja pas ketemu"
"oh, eum" sedikit tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Minji, namun ia berusah untuk tidak seperti itu.
"kamu pulang deh"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kakak!
Teen Fiction"Kakak nya cantik. Jadi pacar aku aja, yok!" Minji tau si dia udah jadi pacar orang, dan Minji pun menyukai dan menyayangi teman nya. warn: genderswitch, bahasa kasar
