*Tema : Overdosis
*Genre : Thriller - Action
---
Anak penurut dan ceria disulap menjadi dingin dan emosional sejak kepergian sang ayah yang mendadak dan menyakitkan. Penculikan yang terjadi lima tahun lalu pada agen polisi ternama membuat masyarakat...
Malam ini semua anggota sibuk berlatih, ada yang melatih tembakannya di ruang tembak, ada yang melatih bela diri dengan bertarung satu sama lain, dan masih banyak aktifitas lainnya. Namun, lain halnya dengan Violy yang termenung di balkon kamarnya memikirkan apa yang terjadi siang tadi. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan wanita yang telah lama tak dijumpainya itu.
"Apakah aku akan dianggap sebagai pengkhianat?" gumamnya.
Pintu kamar di sebelah kanannya terbuka dan menampakkan sosok Arland yang tersenyum padanya sambil membawa dua buah apel.
"Hei, bagaimana kondisi lenganmu?" tanya Arland sambil memberikan salah satu apel tersebut padanya.
Violy menerimanya sambil tersenyum. "Terima kasih. Rasa sakitnya sudah berkurang walau sesekali terasa nyeri."
Pemuda itu berdiri di sebelah Violy sambil menatap lautan yang luas di hadapannya. "Aku tahu bagaimana rasanya, saat pertama kali masuk ke kelompok ini, lenganku juga tergores pisau milik Lexa yang meleset saat dilempar ke musuh."
Violy menatap pemuda itu sambil mengerutkan dahinya. "Bagaimana bisa?"
Arland tertawa kecil sambil menggedikan bahunya. "Itulah mengapa Lexa dianggap tidak punya kemampuan, dia kerap kali melukai anggota lain saat mencoba membantu."
"Mengapa dia dipertahankan?" tanya Violy lalu memakan apel tadi.
Arland menghela napas panjang lalu menatap Violy dalam. "Lexa merupakan teman kecil Devga, kamu tahu itu. Devga merasa berutang nyawa karena Ayah Lexa gugur saat melindungi ayahnya dari musuh besar mereka."
Violy mengangguk-angguk sambil mengunyah apel di mulutnya. Terdengar suara pintu terbuka dari ujung balkon yang menampakkan sosok Catly dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
"Ah, aku sudah mencarimu ke mana-mana, ternyata ada di sini!" tukas gadis itu sambil mengusap keringat di wajahnya menggunakan handuk kecil.
"Ada apa?" tanya Arland.
"Kamu diminta Devga untuk melatih bela diri anggota lain, tidak ada yang bisa selain kalian berdua, tapi tidak mungkin aku meminta Violy 'kan?" jelas Catly disusul tawa oleh Violy dan Arland.
"Baiklah, ayo!" ajak Arland pada Catly.
Keduanya kembali ke kamar masing-masing setelah berpamitan pada gadis itu.
Sepeninggalan kedua temannya itu, Violy sibuk dengan pikirannya dan rencana yang akan ia lakukan tanpa sepengetahuan siapa pun. Banyak hal yang terlintas di pikirannya, sebelumnya ia membutuhkan waktu untuk semua yang telah disusun dengan rapi. Namun sekarang, setelah mendapatkan informasi dan melewati banyak hal, ia tak ingin lagi menundanya.
Setelah beberapa menit berdiam diri, gadis itu melangkah meninggalkan kamar untuk menemui seseorang di lantai atas. Dengan langkah hati-hati ia menaiki anak tangga dan memastikan bahwa keadaan aman.
Di lantai tersebut terdapat ruang pribadi yang hanya digunakan oleh ketua tim, siapa lagi kalau bukan Devga. Ada ruang kerja, kamar tidur, dan ruang baca.
Langkahnya terhenti di depan ruang baca pemuda itu, ia tahu betul apa yang dilakukan ketua timnya itu di waktu seperti ini. Diketuknya pintu berwarna hitam itu lalu terdengar sahutan dari dalam. Gadis itu membuka pintu secara perlahan lalu masuk ke ruangan yang dipenuhi dengan buku yang tersusun rapi di setiap rak tersebut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pemuda itu membelakanginya, sehingga tidak tahu siapa yang datang saat ini.
"Apa aku mengganggumu?"
Mendengar suara lembut miliknya membuat pemuda itu memutar kursi yang di tempati. "Kenapa kamu tidak istirahat?"
Violy menggedikan bahunya lalu mendekati pemuda dengan wajah dingin itu. "Aku bosan, jika hanya di kamar tanpa melakukan apa pun seperti yang lain."
"Duduklah."
Gadis itu duduk di bangku yang berada di sisi kanan pemuda tersebut. "Bagaimana kondisimu? Apa itu sakit?"
Pertanyaan polos itu membuat Devga tersenyum. "Bagaimana dengan lukamu? Apa itu sakit? Jika iya, maka ini jauh lebih sakit untukmu."
Violy menunduk mendengarnya, seketika rasa bersalah menyelimuti perasaannya.
"Ada apa?" tanya Devga.
Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca, hingga membuatnya tersentak. "Maaf."
Devga menghela napas berat lalu bersimpuh di hadapan gadis itu. "Hei, aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir!"
Violy menatap pemuda itu lirih. "Untuk ketiga kalinya kamu terluka karena melindungiku, Dev. Aku tidak bisa seperti ini terus, aku ingin seperti kalian yang memiliki senjata selain pisau."
Devga menggeleng lalu menyentuh jemari gadis itu dengan lembut. "Pisaumu saja bisa melukai lenganmu, bagaimana jika kuizinkan menggunakan pistol? Tidak akan."
Violy menatap pemuda itu kesal. "Aku bisa menggunakannya dengan baik, Dev. Apa yang terjadi siang tadi hanya sebuah insiden kecil. Pisauku terlepas saat sedang berkelahi dengannya, dia mengambilnya dengan cepat dan menusukku, setelah itu pergi entah ke mana."
Devga tertawa mendengar setiap kata yang terucap dari bibir merah gadis itu. Pemuda itu kembali duduk di tempatnya, setelah mengusap rambut Violy dengan lembut. "Aku berterima kasih padamu karena telah memberanikan diri dan menyelamatkanku."
Violy mengangguk lalu beranjak dari duduknya. "Aku penasaran, kenapa kamu selalu menghabiskan waktu di sini selama berjam-jam. Apa ada yang istimewa di ruangan ini?"
Devga tertawa kecil menatap gadis yang berjalan mendekati rak bukunya. "Banyak hal istimewa di ruangan ini untukku. Saat aku masih kecil, ayahku menghabiskan waktu untuk membacakanku buku cerita."
Violy menatap pemuda itu sebentar lalu tersenyum. "Ternyata, ketua mafia juga dibacakan buku cerita semasa kecilnya."
"Aku sama seperti kalian, anak kecil polos yang tidak tahu apa-apa," sahut Devga.
Violy tertawa mendengarnya, sedangkan pemuda itu tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari gadis yang ada di hadapannya tersebut.
"Bagaimana dengan hubunganmu dan Lexa? Kalian begitu dekat, pertama kali aku melihatnya, kukira kalian memiliki hubungan khusus." Gadis itu tak henti memperhatikan satu persatu buku yang berjajar rapi tersebut.
Pemuda itu menggeleng mendengar pernyataan Violy. "Dia hanya teman kecilku, aku berutang nyawa pada keluarganya. Ayahnya gugur saat melindungi ayahku."
Gadis itu menatapnya dengan terbelalak, seakan tak mengetahui cerita itu sebelumnya. "Benarkah? Jadi, kamu mempertahankannya karena hal tersebut?"
Devga mengangguk lalu Violy kembali menyusuri rak-rak berukuran besar yang dipenuhi buku tanpa celah sedikit pun. "Apakah aku perlu mengorbankan nyawaku agar bisa dihormati oleh kelompok ini?"
Devga mengerutkan dahinya lalu mendekati Violy. Diputarnya tubuh gadis itu agar berhadapannya dengannya. "Apa maksudmu?"
Violy menggedikan bahunya sambil tersenyum tipis. "Aku yakin, bukan hanya Lexa yang tak menyukai kehadiranku. Aku anggota baru dengan segala kekurangan yang bisa menyelakai siapa pun, termasuk dirimu."
Devga menggeleng dan mengeratkan lengannya yang melingkar di pinggang gadis itu. "Aku tidak akan membiarkanmu celaka, aku tidak masalah jika harus melindungi sampai terluka seperti ini lagi."
Violy menatap pemuda itu dalam lalu jemarinya bergerak menyentuh luka di balik baju pemuda itu dengan hati-hati.
Tanpa keduanya ketahui, Lexa mendengar setiap pembicaraan mereka. Violy sengaja membuka sedikit pintu tersebut saar melihat Lexa menaiki tangga untuk menemui Devga. Air mata mengalir di pipi gadis itu, hatinya terasa sakit ketika mendengar apa yang dikatakan pemuda itu mengenai dirinya dan apa yang dilakukannya dengan Violy.
"Aku akan membuktikannya padamu, Dev!"
***
To be continue
***
Jangan lupa tinggalkan jejak dan ikuti sampai akhir! Maaf jika ada kekurungan atau kesalahan.