6 - Her Dark Side

14 5 1
                                        

Sudah dua hari sejak insiden itu membawa anggota inti Rogous hadir untuk memastikan kondisi Devga, Emerald, dan Violy baik-baik saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sudah dua hari sejak insiden itu membawa anggota inti Rogous hadir untuk memastikan kondisi Devga, Emerald, dan Violy baik-baik saja. Sepuluh anggota itu berada di ruang tengah yang tengah berbincang santai. Violy dan Zaren tak melepas pandangan sejak pertama bertemu, tentunya hal tersebut menarik perhatian seseorang yang memperhatikan mereka sejak awal.

"Bagaimana kabarmu, Lexa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Geyan menatap remeh Lexa.

Gadis itu menatap Geyan sebentar sambil memutar matanya malas, tak sedikit pun kata terucap dari bibirnya. Emerald yang memperhatikan hal tersebut bersorak dalam hati, untuk pertama kalinya ia melihat gadis itu terdiam.

"Bagaimana dengan diskusi kita mengenai eksekusi tahanan selanjutnya?" tanya Devga.

"Sudah dipersiapkan oleh penjaga di Markas Rogles tidak perlu khawatir," jawab Geyan sambil menghisap rokoknya.

Sesekali Violy menatap pemuda itu tak suka dan memikirkan bagaimana Zaren bisa bergabung dengan mereka selama dua tahun.

"Kuingatkan padamu, Dev, jangan terlalu lemah ketika bersama wanita! Pikirkan keselamatanmu!" tukas Geyan sambil melirik ke arah Violy.

Devga hanya diam membuat gadis itu kesal. Mereka tidak menginginkan insiden itu terjadi, lagi pula pemuda itu yang melarangnya memiliki pistol untuk berjaga.

...

Setelah dua jam pertemuan, akhirnya Rogous pamit pergi dan masing-masing anggota dipersilakan untuk istirahat. Namun, Violy sama sekali tidak berniat kembali ke kamarnya dan memilih ke ruang bawah tanah menuju ruang latihan bela diri.

 Namun, Violy sama sekali tidak berniat kembali ke kamarnya dan memilih ke ruang bawah tanah menuju ruang latihan bela diri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Begitu memasuki ruangan tersebut, dinyalakannya lampu dan tak lupa menutup pintu. Ia melepas jaketnya lalu berjalan mendekati samsak besar yang bergelatung di tepi ruangan. Gadis itu berdiri di hadapan benda tersebut dengan tatapan tajam. Sebelum ia memulainya, diliriknya bekas luka yang terdapat di beberapa tangannya.

Pukulan keras pertama diselimuti dengan kemarahan atas apa yang dikatakan Geyan mengenainya. Pukulan kedua dengan rasa kesal karena Devga yang melarangnya dan tak membelanya begitu ada orang lain merendahkannya. Pukulan ketiga ia layangkan dengan emosi yang besar atas apa yang terjadi pada kehidupannya. Setelah itu pukulan terakhir ia luapkan sebagai ganti atas luka-luka di tubuhnya.

"Berengsek!" teriaknya sambil memukul benda besar nan berat itu berkali-kali.

Gadis itu mengatur napasnya yang tersenggal, luapan emosi pada setiap pukulan itu tak berarti bisa membayar segala hal yang terjadi dalam hidupnya.

"Sudah kukorbankan semuanya untuk membantu mereka, tapi apa balasan mereka?!" pekiknya sambil memukul samsak itu, lagi.

Bayang-bayang hitam di dalam pikirannya membuat emosi gadis itu memuncak, samsak itulah yang menjadi tempatnya meluapkan kemarahan. Jika ada orang yang bisa ia sakiti, maka orang pertama itu adalah Geyan, kemudian Lexa. Tidak ada yang berani merendahkannya di hadapannya langsung selain kedua orang itu.

Pukulan yang keras itu dilayangkannya berkali-kali, tanpa memedulikan rasa sakit di lengannya. Suara bising di dalam ruangan itu membuatnya tak mendengar suara pintu yang terbuka dengan menampakkan sosok tegap yang sejak tadi mencarinya.

"Sialan!" teriaknya dengan pukulan terakhir.

"Cukup!"

Gadis itu terjingkat mendengar teriakan dari suara berat di belakangnya, ia tahu siapa pemilik suara tersebut tanpa melihatnya.

"Aku memintamu untuk istirahat dan latihan besok pagi! Kenapa kamu malah di sini?" tanya pemuda yang tak lain adalah Devga.

Violy membalik tubuhnya sambil tersenyum skeptis. "Peduli apa kamu?"

Pertanyaan itu membuat dahi Devga berkerut. "Apa maksudmu, Vio?"

"Kenapa kamu hanya diam ketika sepupumu itu merendahkanku? Apakah aku memintamu untuk melindungiku dan selalu menjadi yang terlemah?" tanya gadis itu penuh emosi.

Devga menghela napas berat, ia tahu bagaimana perasaan gadis itu. "Aku diam karena tidak ingin membuatnya semakin besar, kamu tahu bagaimana sifat Geyan."

Violy tertawa skeptis sambil bertolak pinggang. "Dia orang yang keras dan tak punya hati, sama seperti kamu yang tidak pernah menghargaiku! Andai Lexa yang ada di posisiku, apa kamu tetap diam?!"

Pemuda itu langsung melayangkan tatapan tajam. "Cukup, Vio!"

Gadis itu semakin kesal karena tak mendapatkan jawaban yang pasti. Diambilnya jaket yang tergeletak di lantai lalu beranjak meninggalkan pemuda itu. Namun, saat melewati Devga, lengannya ditarik hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh di pelukan pemuda itu.

"Jangan bicara yang aneh-aneh! Aku berusaha melindungimu," ucap Devga dengan lembut.

Violy hanya diam dan tersenyum skeptis di dalam dekapan itu karena salah satu rencananya berhasil. Ia berhasil merebut hati ketua timnya itu.

Namun, untuk kesekian kali, Lexa mendapati keduanya yang sedang bermesraan. Saat gadis itu hendak masuk ke kamarnya, ia melihat Devga keluar dari kamar Violy dengan perasaan cemas. Lexa memutuskan untuk mengikutinya dan mendengar pemuda itu berdebat dengan seseorang di dalam ruangan tersebut. Sampai akhirnya, di dekat pintu yang terbuka itu ia melihat Devga menarik seseorang ke dalam pelukannya.

Lexa menyesal karena telah memilih keputusan yang salah, hingga berujung pada perasaannya yang terluka. Sebelum Violy masuk ke dalam kelompok mereka karena insiden yang dilakukannya, hanya ia yang berani bicara dan dekat dengan pemuda itu. Seiring berjalannya waktu, Devga yang sempat mengabaikan Violy akhirnya memandang gadis itu penuh kagum.

Lexa, Devga, dan Geyan saling mengenal sejak kecil. Kebaikan ketua timnya itu membuatnya jatuh cinta, tetapi perasaannya tak terbalas karena malah Geyan yang menyukai gadis itu. Awalnya Geyan yang meminta Lexa bergabung dengannya dan di posisikan sebagai wakil ketua, tetapi gadis itu tidak mau dan memilih Eaqles dengan alasan untuk melanjutkan perjuangan ayahnya, padahal ia ingin terus berada di dekat Devga.

Walau teman kecil, Devga sama sekali tidak memiliki perasaan pada Lexa. Pemuda itu menjadi cuek saat terjun ke dunia gelap tersebut, ditambah lagi dengan segala kekurangan gadis itu dalam bertarung dan hal sejenisnya. Namun, semua berubah ketika sang ayah meminta Devga untuk menjaga Lexa karena ayah gadis itu gugur di medan perang saat melindungi ayahnya.

Pemuda itu hanya bisa mengikuti permintaan sang ayah, sedangkan Geyan merasa beruntung karena Lexa tidak menjadi anggotanya setelah mendengar keluhan dari sang sepupu. Itulah alasan mengapa Geyan selalu menyindir gadis itu ketika bertemu dan mengapa Lexa tak pernah mau ikut ketika ada pertemuan dengan Rogous.

Semakin gadis itu direndahkan, semakin ia sadar bahwa keberadaannya di sini karena kepergian sang ayah, tetapi hal tersebut juga dimanfaatkannya agar Devga terus berbuat baik padanya dan tidak melupakan jasa sang ayah.

Tanpa Lexa sadari, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya sambil tersenyum skeptis. Orang yang sama dalam mengikuti setiap gerak-gerik Violy. Orang yang sama pula untuk menyaksikan kehancuran dua kelompok bersaudara itu. Eaqles dan Rogous.

"Sepertinya ini akan semakin seru, jika ada campur tangan anggota lain!"

***

To be continue

***

Bagaimana part kali ini? Jangan lupa tinggalkan jejak! Mohon maaf untuk kesalahan dan kekurangannya.

See you next part! LUVU!

MALIGNITY : Encounter The Traitor (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang