16 - Her Close Friend

16 5 1
                                        

Devga, Arland, Daren, dan Estella sudah pergi sejak pukul 05.00 menuju Markas Roqles untuk eksekusi tahanan bawah tanah, sedangkan di markas baru Eaqles sedang sarapan pagi karena sekarang waktu menunjukkan pukul 07.30. Para anggota merasa lebih senang tinggal di sini karena ada koki handal yang selalu menyajikan masakan-masakan enak.

Setelah selesai makan, mereka memiliki waktu kosong selama dua jam barulah setelah itu latihan. Di markas yang baru ini pun memiliki banyak ruang latihan baru seperti di Markas Roqles, bahkan ada ruang panahan, kolam selam untuk melatih pernapasan, panjat tebing untuk melatih kekuatan otot, dan banyak lainnya.

Violy memilih menghabiskan waktu dua jam untuk memandangi lautan yang indah sambil menikmati jus jeruknya. Sesekali ia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Liany dan menanyakan keberadaan sang kakak. Zaren tidak bisa dihubungi setelah sampai di sana karena tak ingin dicurigai dan harus fokus untuk waktu eksekusi yang dilakukan pukul 08.00.

"Bagaimana kondisi di sana?" tanya Catly yang berdiri di sebelahnya sambil menatap laut yang indah.

Violy menghela napas panjang lalu menggedikkan bahu. "Entahlah, aku belum mendapatkan kabar dari mereka."

Catly mengangguk pelan lalu menatap Violy dari samping. "Bagaimana jika hari itu tiba?"

Mendengar pertanyaan tersebut membuat gadis itu menatap Catly dalam. "Tidak masalah, aku sudah berkorban banyak untuk kalian. Tujuanku datang ke sini untuk hal baik, tanpa menyakiti kalian 'kan? Jika tidak diterima, maka aku siap mati."

Setelah mengatakan hal tersebut Violy kembali mengalihkan pandangannya pada laut lepas yang indah itu. "Setidaknya, aku tidak meninggalkan jejak buruk dan penyesalan."

Catly langsung mengalihkan tatapannya untuk menahan air mata yang sudah membendung.

"Tidak perlu merasa sedih, aku bangga bisa menunjukkan kemampuanku pada kalian, menghabiskan waktu dua bulan bersama, dan mendapatkan sahabat yang setia sepertimu walau harus kecewa dengan kebenaran yang kusembunyikan," sambung Violy dengan senyum tipisnya.

Catly yang tak bisa menahan kesedihannya itu memutuskan untuk beranjak dari sana. Setiap kata terangkai menjadi kalimat yang terucap dari bibir Violy membuat hatinya terasa sakit, kekecewaan yang datang bersama dengan rasa takut kehilangan.

Ya, Catly mengetahui tentang Violy dan Zaren dan identitas asli mereka. Gadis itu tak sengaja mendengar percakapan keduanya bersama Liany saat di Markas Roqles beberapa waktu lalu. Catly yang diminta untuk beristirahat oleh Zaren untuk bergantian menjaga Violy, berniat kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar tersebut. Namun tanpa sengaja, ia mendengar percakapan mereka.

Niat awal untuk mengambil ponsel pun dilupakan dan ia berani menanyakan hal tersebut ketika pagi harinya. Violy yang merasa tak perlu lagi menutupi identitas aslinya kepada sahabatnya sendiri, akhirnya mengakui semuanya. Gadis itu menghargai kemarahan dan kekecewaan Catly karena selama ini telah membohonginya, apa lagi secara tidak langsung, ia adalah musuh mereka.

Sejak hari itu, keduanya tidak saling berbicara sampai hari di mana Violy menemukan mayat Iram, itu pun Catly tak bicara banyak padanya. Mengenai apa yang ditemukan Calma pun ia tidak mengatakannya pada sahabatnya itu. Violy tahu betul di balik kekecewaan itu pasti ada rasa takut kehilangan. Sejak awal kecelakaan sampai sekarang, gadis itulah yang menemaninya dan merawatnya dengan baik.

Violy hanya bisa berharap bahwa suatu hari nanti, ia dan Catly bisa berteman baik dalam situasi yang baik pula. Ia ingin memiliki teman seperti Catly yang belum pernah ditemui sebelumnya. Jika memang harus menghilang, maka Violy rela mempertaruhkan dirinya.

...

Waktu menunjukkan pukul 12.00 dan semua anggota sibuk latihan, Emerald dan Calma latihan di ruang tembak, Lexa dan Gevan latihan di ruang bela diri, sedangkan Violy dan Catly latihan di ruang panahan.

MALIGNITY : Encounter The Traitor (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang