*Tema : Overdosis
*Genre : Thriller - Action
---
Anak penurut dan ceria disulap menjadi dingin dan emosional sejak kepergian sang ayah yang mendadak dan menyakitkan. Penculikan yang terjadi lima tahun lalu pada agen polisi ternama membuat masyarakat...
Semua sudah dipersiapkan oleh Violy untuk menjalankan rencananya, setelah semua pergi meninggalkan markas untuk misi. Apa yang terjadi padanya kemarin memberikan keberuntungan tersendiri baginya, walau ia kesal pada Lexa.
Kali ini Violy tak ditinggal berdua dengan Lexa, ada anggota lain dan beberapa bodyguard karena misi kali ini tidak begitu besar dan sulit. Setelah satu jam menunggu keadaan aman, gadis itu mencabut selang infus yang terpasang di punggung tangan kanannya.
Kakinya melangkah ke luar kamar secara diam-diam, setelah memastikan keadaan aman. Langkahnya berlanjut menaiki anak tangga secara perlahan menuju ruang baca yang ia masuki beberapa hari lalu. Tak lupa ia mengenakan sarung tangan dan sarung kaki karet yang ia buat khusus agar tak meninggalkan jejak.
Dibukanya pintu ruangan tersebut secara perlahan, setelah berhasil masuk ia langsung menutupnya kembali dan tak lupa menguncinya. Pandangannya tertuju pada rak besar yang dipenuhi buku-buku tersebut, tetapi tujuannya bukan pada rak tersebut, melainkan karpet yang menutupi lantai.
Digesernya bangku baca tersebut dengan hati-hati karena luka tembak kemarin, setelah berhasil memindahkannya ia langsung membuka karpet tersebut. Benar dugaannya, terdapat sebuah tombol hitam. Tanpa menunggu waktu lama ia langsung menekannya hingga terdengar suara rak yang bergeser.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Betapa terkejutnya Violy saat salah satu rak terbuka dan menampakkan sebuah ruangan di baliknya. Dengan penuh takjub ia langsung beranjak dari tempatnya dan memasuki ruangan tersebut. Tempat yang gelap itu menjadi terang begitu ia masuk ke sana dan menampakkan beberapa senjata api dengan berbagai jenis yang terpajang rapi, serta rak kecil yang terdapat beberapa berkas.
Gadis itu tak ingin membuang waktu karena takut ada penjaga yang mencarinya, dibukanya satu persatu berkas tersebut untuk mencari nama-nama tahanan di Markas Roqles. Setiap berkas memiliki tema tersendiri, ada yang mengenai latar belakang berdirinya Eaqles, biodata anggota, sampai musuh-musuh mereka.
Violy langsung mengeluarkan ponselnya dan memotret setiap tulisan yang terdapat di berkas tersebut. Setelah memastikan tak ada yang terlewat, ia langsung beranjak dari tempatnya dan merapikan berkas-berkas tersebut. Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, tak lupa ia memotret ruang rahasia itu lalu pergi.
Ketika gadis itu ke luar, lampu mati secara otomatis. Gadis itu kembali menekan tombol tadi agar rak tertutup, tak lupa merapikan tempat tersebut pada posisi semula. Setelah memastikan semuanya rapi, dengan cepat ia ke luar dari ruang baca untuk menuju kamarnya. Namun, berada di tengah anak tangga, Violy mendapati Lexa yang berjalan menuju kamarnya bersama seorang penjaga.
Gadis itu panik, ia tidak mungkin menemui Lexa dari luar ruangannya karena gadis itu akan curiga, apa lagi selang infus yang dicabutnya secara paksa.
...
Lexa menghela napas berat saat diberi pesan untuk memberikan makan malam pada Violy ditemani salah satu penjaga, untuk memastikan semuanya aman. Diketuknya pintu kamar itu setelah menghela napas berat, tetapi tak ada yang menjawabnya.
"Vio! Makan malam!" tukas Lexa.
Setelah beberapa menit tak ada jawaban, gadis itu memutuskan untuk masuk tanpa izin. Didapatinya Violy yang tertidur lelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Violy!" panggilnya dengan ketus.
Perlahan gadis yang disebut namanya itu membuka mata dan mengerjap beberapa kali karena terpantul cahaya lampu. "Ada apa?"
"Makan malam!" tukas Lexa.
"Letakkan saja di atas nakas, nanti aku makan," sahut Violy dengan suara lemah.
"Ayolah, aku diminta untuk menyaksikanmu makan oleh yang lain!" kata Lexa dengan malas.
Violy beranjak dengan malas, tetapi ada satu hal yang mengalihkan fokus Lexa dan pria bertubuh besar itu.
"Lenganmu berdarah!" pekik Lexa.
Violy menatap lengannya, benar saja perban yang tertutup luka itu mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Hubungi Dokter Gram!" pinta Lexa pada pria itu.
"Tidak bisa! Devga akan marah jika ada orang lain yang datang ke markas tanpa kehadirannya!" tolak pria itu.
Lexa langsung menatap pria itu tajam lalu beralih pada Violy yang terdiam. "Bagaimana bisa berdarah padahal kamu tidur seharian! Apa itu sakit?"
"Aku sempat ke balkon karena bosan tadi," jawab Violy berbohong.
Lexa yang kesal karena tak ada pergerakan dari penjaga yang bersamanya itu, ia ke luar kamar Violy untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter Gram. Ia tidak peduli, jika nantinya akan dimarahi Devga karena melanggar peraturan. Namun, jika terjadi hal buruk pada Violy, maka dirinya juga yang akan dimarahi.
...
Setelah dua jam berlalu, akhirnya Eaqles kembali tepat pukul 01.00 dini hari. Dokter Gram dan Klia pun sudah pergi. Begitu ke luar dari mobil, dengan langkah cepat Devga menuju kamar Violy untuk memastikan kondisi gadis itu setelah mendapat kabar dari penjaga lain.
Temannya yang lain hanya bisa saling bertatapan sambil tersenyum melihat sikap ketua mereka, kecuali Arland yang memilih diam.
Begitu sampai di kamar gadis itu, Devga langsung mendekatinya dan duduk di tepi tempat tidur. Ada Lexa yang menemaninya dengan penjaga tadi, lalu datang temannya yang lain.
"Kenapa kamu melanggar aturan, Lexa?" tanya Devga sambil menatap gadis itu tajam.
Violy langsung menyentuh jemari pemuda itu dengan lembut. "Jangan memarahi Lexa, Dev, dia berusaha menyelamatkanku."
Pemuda itu langsung mengalihkan tatapannya pada Violy. "Apa kamu baik-baik saja?"
Violy mengangguk sambil tersenyum.
Setelah itu mereka terlibat percakapan kecil dengan yang lain untuk menyakan misi yang mereka jalani. Satu jam berlalu, satu persatu dari mereka kembali ke kamar masing-masing, kecuali Devga yang merasa berat meninggalkan gadis itu.
"Kembalilah ke kamarmu, Dev, istirahatlah," pinta Violy.
Pemuda itu menatapnya sebentar lalu mengangguk. Sebelum Devga pergi, tiba-tiba ia mengecup kening Violy dengan lembut. Hal tersebut tentunya membuat gadis itu terkejut, tetapi berusaha ia tutupi dengan senyuman.
Setelah pintu tertutup, akhirnya ia bisa bernapas lega. Diambilnya ponsel yang ia sembunyikan di bawah bantal lalu memastikan bahwa rencananya berhasil.
Bagaimana Violy bisa sampai di kamarnya dengan selamat? Gadis itu mengambil langkah berbahaya dengan melewati balkon kamar Devga, itulah sebab mengapa lukanya mengeluarkan darah. Sebenarnya, Violy juga menahan sakit sejak kehadiran Lexa di kamarnya, untungnya gadis itu tidak melihat infus yang terlepas dan alasan tak masuk akalnya diterima begitu saja.
"Sial! Andai terlambat sedikit saja, semuanya pasti menjadi kacau!" gumam Violy merutuki dirinya sendiri.
Ditatapnya layar ponsel yang menunjukkan hasil potretannya dan membaca setiap tulisan dengan saksama. Ada satu berkas yang menjelaskan musuh-musuh besar Eaqles serta latar belakangnya, ditambah lagi satu nama yang membuatnya terbelalak.
"Nofga Torren adalah sahabat Qarlos Deroga dan yang berkhianat," gumam Violy membaca tulisan tersebut.
Halaman berkas yang ada di foto tersebut hanya tertulis sampai di sana, saat mencoba mencarinya di foto lain, ia tak menemukan apa pun.
"Apa yang telah dilakukan ayah, hingga mereka menganggapnya sebagai pengkhianat?"
***
To be continue
***
Mohon maaf jika ada salah dan kekurangan, Readers! Jangan lupa tinggalkan jejak.