Lantai yang dingin itu menemaninya malamnya yang kelam, kesepian yang dirasakannya kali ini begitu menyedihkan, dan ia membenci kesendirian, lagi. Dinding di sekelilingnya menjadi saksi air mata kesepiannya, gadis itu sudah berada di sini, tetapi belum juga menemui pria yang selama ini dirindukannya.
"Violy!"
Gadis itu tersentak ketika ada yang memanggil namanya, ia langsung beranjak menuju pintu besi tersebut dan membuka jendela kecil di bagian bawahnya.
"Ya!"
"Kamu punya waktu lima belas menit, manfaatkan sebaik mungkin!" kata orang di balik pintu tersebut.
Gadis itu hanya mengerutkan dahinya, kemudian dinding di sebelah kirinya terasa bergetar membuatnya panik. Namun, rasa p[anik itu hilang ketika melihat dinding tersebut bergerak ke bawah, sehingga menampakkan besi-besi yang berjajar rapi di baliknya.
"Luar biasa," gumamnya tanpa sadar.
Begitu pintu turun dengan sempurna, betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat siapa sosok yang ada di ruang sebelah.
"Ayah!"
Matanya terbelalak dan mulai berkaca. Pria tua di ruangan itu pun tak kalah terkejut mendengar sapaan yang telah lama tak menghiasi telinganya dan sosok yang selama ini ia rindukan.
"Mauza!"
Keduanya saling mendekat pada besi tersebut.
"Jangan menyentuh besinya!" pekik pria tua itu ketika jemari anaknya ingin menyentuh besi yang menghalangi mereka tersebut, "ada aliran listrik di besi itu!"
Violy langsung menarik tangannya dan terduduk lemas di lantai, ia sudah bertemu dengan ayahnya, tetapi tidak bisa memeluknya untuk melepas rindu. Air matanya mengalir melihat kondisi sang ayah yang tampak lusuh dengan rambut yang mulai memutih. Wajah pria tua itu masih tampan walau ada beberapa garis yang terlihat jelas, yang menandakan pertambahan usia.
"Ayah," gumamnya dengan nada bergetar dan air mata yang mengalir deras.
Pria tua yang tak lain adalah Detektif Nofga Torren itu ikut menitihkan air mata, sosok ayah mana yang sanggup melihat anak gadisnya berada di tempat yang sama seperti dirinya, ditambah lagi mereka tak pernah bertemu selama lima tahun.
Namun, pria itu langsung mengusap air matanya, ia tak ingin terlihat lemah di depan putrinya.
"Bagaimana kamu bisa ada di sini, Nak?" tanya Nofga membuat gadis itu menatapnya.
Violy langsung mengusap air matanya dan duduk lebih maju, tetapi berusaha untuk tidak menyentuh besi. "Bagaimana kabar, Ayah? Apa Ayah baik-baik saja?"
Nofga mengangguk sambil tersenyum. "Ayah baik, bagaimana kabarmu, ibu, dan Agzar?"
Violy langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Aku baik, kondisi ibu mulai membaik karena sebelumnya selalu sakit-sakitan, sedangkan kakak ada di sini."
Penuturan Violy membuat dahi pria itu berkerut. "Ada di sini? Dia juga tertangkap?"
"Tidak, Ayah. Dia bersama Rogous," jawab Violy yang berusaha berbicara sepelan mungkin.
Tentunya apa yang dikatakan gadis itu membuat Nofga terbelalak. "Bagaimana bisa? Apa yang kalian telah dia lakukan?"
Violy kembali meletakkan telunjuknya di bibir. "Diam, Ayah. Jika kakak ketahuan, tidak ada yang bisa membantu kita pergi dari sini."
Nofga mengangguk sambil menghela napas berat. "Bagaimana kamu bisa tertangkap?"
Violy diam sebentar lalu menghela napas panjang sebelum menceritakan semua yang terjadi padanya dua bulan ini. Selama gadis itu bercerita, Nofga kerap kali terbelalak dan menghela napas berat, tak menyangka bahwa kedua anaknya berani mengambil keputusan yang berbahaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MALIGNITY : Encounter The Traitor (TERBIT)
Mystère / Thriller*Tema : Overdosis *Genre : Thriller - Action --- Anak penurut dan ceria disulap menjadi dingin dan emosional sejak kepergian sang ayah yang mendadak dan menyakitkan. Penculikan yang terjadi lima tahun lalu pada agen polisi ternama membuat masyarakat...
