Dengan setia Violy menjaga Arland dan Devga, keduanya sudah membaik walau terdapat luka ringan di kaki ketuanya tersebut. Walau pun ia datang ke sini dengan maksud membebaskan sang ayah, tak sedikit pun dirinya merasa ingin menghancurkan atau menyakiti anggota Eaqles yang sudah baik dan mengajarkan banyak hal padanya.
Hari ini Gevan dan Daren berniat mengunjungi markas lama mereka untuk mengambil beberapa peralatan dan perlengkapan yang masih bisa digunakan. Violy yang mengetahui hal tersebut meminta untuk ikut bersama Catly dengan alasan membantu kedua pemuda itu. Awalnya permintaannya ditolak oleh Arland dan Devga karena akan berisik, tetapi ia tak menyerah sampai akhirnya diizinkan.
Selama perjalanan, Violy tak henti berharap agar bisa menemukan liontin misterius itu di kamarnya, setidaknya barang bukti itu bisa membantunya menemukan pelaku dengan meminta tolong Zaren atau Gelca,
Tak lama kemudian mobil berhenti di depan pekarangan markas yang sudah hancur sebagian itu. Mereka menatapnya dengan lirih, rumah yang selama ini menjadi tempat berkumpul telah hancur sebagian karena sabotase oleh sosok misterius.
"Ayo, kita tidak boleh membuang waktu!" ajak Gevan.
Keempat anggota inti itu masuk ke markas ditemani beberapa ajudan. Gevan dan Catly menuju ruang bawah tanah, Daren menuju lantai tiga, dan Violy memeriksa lantai dua. Bangunan kokoh itu hancur 50% di bagian depan dan sisi kanan, sedangkan bagian belakang dan sisi kiri hanya terkena imbas ledakan dengan retakan-rentakan besar yang bisa mengakibatkan kerobohan.
Tiga ruang penting Devga, kamar Violy, Arland, Gevan, Catly, dan Estella berada di sisi kiri, sehingga tidak hancur. Violy langsung menuju kamarnya untuk mencari liontin yang ia simpan di lemari kecil di samping tempat tidurnya. Namun sayangnya, gadis itu tak menemukan apa pun di dalam lemari tersebut.
"Penyusup itu tahu mengenai liontin yang kusimpan, tapi kenapa dia masih menghancurkan markas jika hanya ingin mendapatkan barang miliknya yang tertinggal?" tanya Violy.
Setelah beberapa detik berkutat dengan pikirannya, gadis itu beranjak menuju balkon. Violy berdiri di dinding pembatas sambil melihat indahnya lautan yang biasanya menjadi tempatnya menghilangkan penat. Walau markas baru Eaqles juga berada di tepi laut, tetap saja rasa berbeda dari tempat ini.
Gadis itu menatap sekelilingnya, lalu ia mendapati pintu kamar Arland yang terbuka. Ia langsung menuju kamar tersebut dengan hati-hati. Tidak ada orang di sana, tetapi kamar pemuda itu berantakan, bantal dan selimut berjatuhan di lantai, lemari yang terbuka, dan lampu tidur yang pecah.
Dengan perlahan ia melangkah menuju lemari yang terbuka tersebut.
"AAAAA!" teriak Violy membuat ajudan yang menunggu di depan kamarnya tadi langsung berlari mencarinya.
"Ada apa?" tanya pria bertubuh tegap itu.
Violy hanya diam dengan tatapan yang tak terlepas dari dalam lemari tersebut membuat pria itu penasaran. Betapa terkejutnya pria itu ketika mendapati mayat yang mereka ketahui sebagai salah satu ajudan yang berjaga di area belakang rumah.
Darah memenuhi lemari kosong itu, beserta aroma tak sedap. Ajudan tadi langsung mengubungi temannya ajudan lain yang sedang menemani Gevan dan Catly, serta Daren. Tak lama kemudian mereka datang dan tak kalah terkejut dengan apa yang ada di hadapannya.
"Pantas aku tidak menemukan Iram sejak kalian menjalani misi besar hari itu," ujar salah satu ajudan yang dikenal dengan nama Neo.
"Bagaimana kalian bisa mengetahui bahwa ada sabotase di sini?" tanya Daren mewakili teman-temannya karena mereka tak diberi tahu apa yang terjadi oleh Emerald.
"Aku sedang memeriksa kamar Devga sore itu, tiba-tiba alat pendeteksi bom milikku tak sengaja aktif dan berbunyi. Saat kucari, ternyata ada lima bom di ruang baca Devga, tiga bom di ruang kerja, dan dua bom di kamar tidurnya. Aku langsung mengabari yang lain untuk memeriksa setiap kamar yang ada di sisi kiri, tetapi anehnya Iram yang bisa menaklukan bom tidak datang, bahkan menghilang hari itu," jelas Neo.
Penjelasan pemuda itu membuat yang lain diam sambil memikirkan apa yang terjadi, begitu pula dengan Violy yang tak henti berdebat dengan pikirannya.
"Jika memang hanya mencari liontin itu, untuk apa dia sampai membunuh dan meletakkan bom di setiap ruangan? Apa lagi yang diincarnya adalah Devga, tapi kenapa mayat Iram ada di kamar Arland? Apa mereka berdua punya masalah besar dengan orang ini?" batin Violy.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Daren pada Gevan dan Catly.
"Ya, bagaimana dengan berkas-berkas penting di ruangan Devga?" Kali ini giliran Gevan yang bertanya pada Daren.
"Beberapa berkas dan senjata di ruang rahasia hilang, sepertinya pelaku ini bukan orang sembarangan!" tukas Daren.
"Bagaimana denganmu, Vio?" tanya Catly.
"Aku belum memeriksa tiga kamar lain," jawab Violy pelan.
"Ya sudah, biar aku memeriksa kamarku, Daren memeriksa kamar Estella, dan Catly memeriksa kamarnya," kara Gevan lalu ketiga langsung pergi.
Violy hanya bisa duduk di tepi tempat tidur dengan lemas, sedangkan para ajudan mengurus mayat Iram.
...
Setelah beberapa jam, urusan keempat anggota tim inti itu akhirnya kembali ke markas baru Eaqles. Mobil pun berhenti di depan pintu masuk dan mereka langsung ke luar dari mobil, ada Calma, Estella, dan Emerald yang telah menunggu.
"Ada apa? Mayat siapa kamu temukan, Vio?" tanya Calma khawatir.
Violy menatap Catly lalu menghela napas berat. "Iram."
Calma terbelalak kemudian tubuhnya melemas. "Tidak mungkin!"
Violy hanya bisa menunduk, ia tahu bagaimana hubungan gadis itu dengan Iram. Keduanya memiliki hubungan dekat, apa lagi Calma adalah alasan Iram bergabung dengan Eaqles. Ayah Iram adalah seorang ajudan yang bekerja untuk Ayah Devga dan wafat karena ditembak musuh tepat di jantungnya.
Iram yang semula membenci mafia karena pekerjaan sang ayah yang membuatnya jarang pulang, terluka, nyaris mati, akhirnya memutuskan untuk meneruskan pekerjaan ayahnya itu setelah bertemu dengan Calma yang lebih dulu bergabung. Keduanya semakin dekat karena selalu dipasangkan saat menjalani misi besar dan berlatih bersama.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi keduanya, bahkan sebelum pergi menjalani misi penangkapan Yofga, Calma menemui Iram dan meminta doa restu agar para anggota selamat. Namun sekarang, setelah kembali dari misi tersebut dengan selamat, Calma malah mendapatkan kabar kematian pemuda itu dengan cara mengenaskan.
Sore itu, tim Eaqles yang selamat dari misi dan ledakan bom baik di markas utama atau markas kedua, benar-benar dalam kondisi terpuruk karena kehilangan bagian terpenting dalam hidup mereka. Markas, teman, senjata, dokumen, dan barang bukti milik Violy lenyap dalam waktu yang bersamaan. Hal besar yang tak terduga dan belum pernah terjadi sebelumnya, kini harus dirasakan mereka, terutama sang ketua. Devga.
***
To be continue
***
Bagaimana part kali ini? Semoga kalian menyukainya, tapi jangan lupa tinggalkan jejak!
See you next part and LUVUVUL!
KAMU SEDANG MEMBACA
MALIGNITY : Encounter The Traitor (TERBIT)
Mystery / Thriller*Tema : Overdosis *Genre : Thriller - Action --- Anak penurut dan ceria disulap menjadi dingin dan emosional sejak kepergian sang ayah yang mendadak dan menyakitkan. Penculikan yang terjadi lima tahun lalu pada agen polisi ternama membuat masyarakat...
