1 - She

40 10 0
                                        

Gadis itu terbangun dengan tubuh yang dibasahi oleh keringat akibat mimpi buruk yang belakangan ini selalu hadir dalam tidurnya. Ditatapnya jam kecil yang ada di atas meja kecil tepat di samping tempat tidurnya, waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari.

Setelah mengatur napasnya yang tersenggal, ia beranjak dari tempat tidur menuju dan membuka pintu balkon kamarnya. Tubuhnya bersandar pada pagar yang terasa dingin karena angin malam ini cukup kencang dengan mata tertuju pada pemandangan air laut di hadapannya.

Sudah dua bulan ia berada di sini, tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kejadian dua bulan lalu mengantarkannya pada kehidupan yang lebih berbahaya dan mengancam nyawa. Seperti apa yang terjadi padanya tiga jam lalu, hingga membuat punggung tangan kirinya diperban.

"Tidak bisa tidur?"

Gadis itu terjingkat mendengar suara khas nan berat dari kamar di sebelahnya.

"Hei, kenapa kamu belum tidur?" sahutnya membuat pemuda itu tertawa kecil lalu berdiri di sebelahnya.

Pemuda itu menghela napas berat sambil menatap langit yang dihiasi oleh bulan. "Aku baru selesai bicara dengan anggota inti."

Gadis itu menatap pemuda tersebut dengan lirih. "Apa kalian membicarakanku?"

Pemuda itu menggedikan bahunya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. "Ya, kamu tahu bagaimana si cerewet itu tak memnyukaimu 'kan?"

Gadis itu mengangguk sambil menghela napas berat.

Pemuda itu langsung menatapnya iba, tak tega dengan sosok yang selalu direndahkan di hadapannya tersebut. "Bagaimana kondisi tanganmu, apa masih sakit?"

Gadis itu menatap perban tadi lalu menggeleng. "Tidak begitu, aku berterima kasih padamu karena telah menyelamatkanku, lagi."

"Vi, kita dalam kelompok yang sama dan harus saling menolong. Aku tidak mungkin membiarkan siapa pun terluka saat menjalani misi, jika itu terjadi maka aku merasa gagal menjadi wakil ketua," tutur pemuda itu dengan tulus.

Gadis bernama Violy itu tersenyum mendengarnya. "Terima kasih, Arland. Kamu, Emer, dan Catly sudah merawatku sejak dua bulan lalu, itulah mengapa aku bertahan sampai saat ini."

Pemuda bernama Arland itu tersenyum manis sambil mengangguk.

"Walau Emer adalah pemuda terdingin yang pernah kutemui, dia tetap perhatian pada anggota lain yang sedang dalam masalah," ujar Violy membuat Arland terbelalak.

"Tunggu, kamu yakin bicara seperti ini mengenai Emerald? Really?" tanya Arland memasrikan bahwa tidak salah dengar.

Violy mengangguk pasti membuat Arland tertawa.

"Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini di depan yang lain, Vio? Untuk pertama kalinya aku mendengar seseorang memuji Emer," kata Arland yang tak bisa menahan tawanya.

Violy tertawa kecil mendengar penuturan Arland.

"Ya sudah, aku ingin istirahat. Bye," pamit pemuda itu lalu memasuki kamarnya.

Walau Arland sudah masuk ke kamarnya dengan pintu tertutup, Violy tetap bisa mendengar tawa pemuda itu.

Setelah memastikan tidak ada orang yang datang, Violy langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka galeri foto yang telah ia simpan sejak lama. Tertulis di sana, 'Penemuan Bangkai Mobil Milik Detektif Nofga Torren dan Menghilangnya Sang Putri'.

Entah perasaan apa yang merasuki Violy, sehingga ia berakhir di tempat ini. Kejadian dua bulan lalu, bertepatan dengan munculnya artikel tersebut tanpa diketahui oleh kelompoknya. Satu hal yang diketahui olehnya adalah Nofga Torren adalah musuh besar dua kelompok mafia yang berjaya di kotanya, yakni Eaqles dan Rogous.

Meski sudah dua bulan berada di Eaqles, tak ada satu pun yang mengatakan padanya tentang hubungan kedua kelompok itu dan sang detektif. Di dalam artikel itu tertulis dengan jelas bahwa Nofga diculik oleh kedua kelompok tersebut saat dalam misi besar untuk pemimpin kedua kelompok mafia itu.

Setiap kali Violy bertanya mengenai detektif tersebut dan bagaimana bisa menjadi musuh, pasti tidak ada yang mau menjelaskannya tanpa alasan. Ia berusaha mencari tahu sendiri, tetapi hasilnya nihil. Gadis itu pun tahu bahwa Eaqles dan Rogous memang menculik detektif itu dan dikurung di penjara bawah tanah khusus untuk musuh keduanya. Namun sayangnya, ia tidak tahu di mana tempat tersebut.

Tak lama kemudian, gadis itu beranjak memasuki kamarnya dan tak lupa menutup pintu balkon untuk kembali tidur. Namun, tanpa ia sadari ada orang lain yang memperhatikannya sejak tadi dari kamar lain.

"Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan rahasiaku terbongkar. Jika harus mengorbankan orang lain, maka kamu yang akan kukorbankan, Violy."

Balkon yang luas itu menghubungkan lima kamar di lantai atas, khusus untuk anggota inti Eaqles. Walau masih baru dan cenderung lemah, Violy dipercaya sebagai asisten anggota inti karena kepiawaiannya dalam menembak dan bela diri.

Mengapa ia disebut lemah? Hal itu terjadi karena insiden yang menimpanya dua bulan lalu, kala ia mengalami kecelakaan dan kekurangan banyak darah, menurut cerita yang disampaikan oleh Arland padanya. Bukan hanya itu, benturan keras di kaki dan kepalanya memberikan efek tersendiri pada dirinya. Kakinya tak mampu untuk melakukan aktifitas berat, sedangkan kepalanya kerap kali terasa pusing jika terlalu lelah atau banyak pikiran.

Walau dengan kekurangannya, Violy tidak ingin dikasihani dan berusaha membuktikan bahwa ia bisa memberikan yang terbaik. Dengan kedua keahliannya itu, ia sempat mendapatkan posisi terpenting dalam kelompoknya, yakni menjadi penembak jitu atau snipper kedua setelah Emerald. Namun, mengingat kondisinya yang memburuk tiap kali mendengar dentuman keras, posisi itu terpaksa dikembalikan pada Calma yang lebih dulu berada di posisi tersebut.

Violy berusaha melatih kekurangannya, tetapi semakin ia memaksakan diri, maka semakin buruk pula kondisinya. Ia merasa tak berdaya ketika menjalani misi karena selalu dilindungi oleh teman-temannya, tiap ada kesempatan dan gadis itu berusaha mengambilnya, hal buruklah yang terjadi. Entah itu terluka atau kaki dan kepalanya akan terasa sakit hingga membuatnya gagal.

Hal tersebut tentunya membuat Violy frustasi dan sedih, ia ingin seperti teman-temannya yang berani dan mampu menjalaninya tanpa harus merasa sakit. Namun, semua itu hanya harapan yang terlalu sulit untuk ia gapai. Hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan, yaitu mengorbankan dirinya agar tak dipandang sebelah mata.

***

To be continue

***

Hallo, akhirnya kembali lagi dengan cerita baruku, Readers! Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak! Ikuti terus!

See you next part! LUVU!

MALIGNITY : Encounter The Traitor (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang