02. Cavity Nine is His World

2.2K 179 56
                                        

Disclaimer!

• Narasi harap dibaca juga, agar paham alur dan karakter tiap tokoh.
• Abaikan time stamp
• Komentar sesuai alur cerita, jangan bawa cerita lain.

Cerita ini diketik 8923 kata.

Happy Reading!

***

Hari ini, Dara terlihat sudah rapi karena hari pertamanya bekerja di Clandestine. Ghea bilang, ini suatu keberuntungan. Entah apa yang wanita itu maksud, tapi Dara sama sekali tidak penasaran. Hari ini, Leon terpaksa dijemput oleh Rama, karena Dara dan Ghea harus menuju Clandestine siang ini.

“Ran? Rania?”

“Ya, Bu? Ada apa?”

“Nanti siang saya gak bisa jemput Leon. Tolong kamu kasih tau Rama ya,” titah Dara.

Mba Rania mengangguk, “Iya, Bu. Nanti saya sampaikan ke Pak Rama. Oh iya, Mba Ghea sudah datang, Bu.”

Dara mengangguk lalu menepuk pelan bahu Rania sambil tersenyum dan meninggalkan wanita itu untuk menemui Ghea di ruang tamu.

“Lama lo,” gerutu Ghea.

“Sabar dong, kerjaan gue gak cuma satu.” Balas Dara.

Ghea beranjak dari sofa sambil memutar bola matanya jengah. “Ibu Dara yang terhormat, lo tuh istrinya Mas Bos alias Bapak Alvaro Derovano, konglomerat nomor satu di Indonesia, kenapa masih harus sibuk sama pekerjaan rumah?”

“Ghe, lebay deh, yang kaya itu Alvaro dan keluarganya, bukan gue. Terus status gue itu sebagai istrinya, wajar kalo ikut sibuk juga ngurusin pekerjaan rumah. Udah ah ayo, nanti yang ada Pak Mevin ngamuk, ini kan hari pertama.”

Ghea mengangguk dan langsung keluar dari rumah megah milik Dara. Mobil Ghea melaju meninggalkan pekarangan rumah yang sudah seperti lapangan bola ini. Ghea menggelengkan kepalanya.

“Gue kalo jadi lo, udah tinggal duduk manis aja sih di rumah.” Kata Ghea seraya menyalakan musik pada audio mobilnya.

“Itu mindset lo, ya. Bukan gue.” Balas Dara yang membuat Ghea terkekeh pelan. “Fero gimana? Masih gak kontakan sama dia?”

“Gak tau deh, pusing gue. Lagian tinggal nikahin gue apa susahnya coba? Duit, ada. Rumah, ada. Mobil, ada. Terus apalagi yang harus dia pertimbangin buat nikahin gue coba?” gerutu Ghea.

“Mungkin aja bertentangan dengan orang tuanya? Bisa jadi, kan? Tapi lo jangan mikir aneh-aneh dulu.” Kata Dara.

Ghea terdiam sejenak, “Apa karena gue yatim piatu, ya? Ya terus kenapa gitu? Toh, gue juga hidup gak nyusahin orang lain.”

Dara mengusap bahu Ghea lembut. Entah apa yang membuat Fero benar-benar seperti sedang mempertimbangkan keputusannya untuk menikahi Ghea.

“Nanti kalo ada waktu senggang, gue yang bicara sama Fero.” Ujarnya.

Ghea mengangguk. “Thank you, tapi kalo dari pihak dia udah gak ada niatan sama sekali, tolong suruh dateng ke gue, ya? Minimal kasih kepastian, jangan digantung kaya gini. Lima tahun bukan waktu yang sebentar.”

Dara mengerti sekali keadaannya. Ghea selama ini susah sekali dekat dengan laki-laki. Tapi begitu bertemu dengan Fero, wanita itu menjadi lebih ceria dan se-terbuka sekarang. Dara harap, keduanya bisa bahagia selalu.

“Oh iya, EO untuk acara ulang tahun Leon malam ini mau ketemu sama lo sama si Mas Bos, buat tentuin temanya.” Kata Ghea.

Dara menghela napasnya, “Udah pasti gue yang ngurus. Alvaro tuh selalu sibuk. Pagi sampe sore di kantor, malem ya ngurus—” Dara menggantung ucapannya. Tidak, ia tidak boleh membeberkannya pada Ghea.

Aldara 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang