15. Hal yang sia-sia

1.7K 157 38
                                        

Disclaimer!

• Narasi harap dibaca juga, agar paham alur dan karakter tiap tokoh.
• Komentar sesuai alur cerita, jangan bawa cerita lain.

Cerita ini diketik 6105 kata.

Happy Reading!

***

Kelopak matanya terbuka, Dara merasa ada yang aneh dari dirinya. Tubuhnya polos tidak memakai apa pun sedangkan kini ada seseorang yang terlelap di sebelahnya dalam keadaan tanpa busana juga. Dengan hati‐hati Dara menyingkirkan tangan pria itu dari atas tubuhnya dan bergerak turun dari ranjang untuk memakai pakaiannya yang berserakan di atas lantai.

"Kamu sudah bangun?"

Suara bariton pria itu menginterupsi dirinya untuk kembali bergegas memakai pakaiannya satu persatu.

"Hei?" panggil Alvaro yang kini memilih terduduk di atas ranjang mantan istrinya dengan mata lelahnya.

"Aku pakai baju dulu, kita gak sepantasnya kayak gini," ujarnya dengan rasa sedikit emosi.

Alvaro mengerutkan keningnya. "Loh? Kamu menyalahkan saya? Bukannya kamu menikmatinya juga semalam?"

Dara menatap tajam mata pria itu, tubuhnya kini sudah terbalut gaun tidur hingga ia berani memutar tubuhnya agar berhadapan dengan mantan suaminya.

"Aku nikmatin itu? Kamu gila, kamu lupa kalau statusnya kita sudah bukan suami istri?"

Alvaro pikir, situasinya akan semakin membaik setelah kegiatan panasnya dengan sang mantan istri semalam, namun ternyata berbanding terbalik dengan realitanya. Setelah berpakaian, Alvaro kini berdiri tepat di hadapan Dara dengan tatapan yang tak kalah menajam.

"Apa semalam saat kita melakukan hal itu kamu berpikir status kita apa? Jangan menyalahkan saya terus menerus, kalau kamu hamil lagi, saya pasti akan tanggung jawab."

Bahu Dara mengendur, ia merunduk karena kini merasa terpojokkan. Baginya, tidak ada yang berubah dari Alvaro, pria itu masih tetap sama dan tidak akan pernah mendengarkan pendapatnya.

Dara salah, Alvaro pun begitu. Kejadian semalam ada kesalahan keduanya, tapi mereka sama-sama saling menyalahkan dan menyudutkan. Kejadian semalam, seharusnya bisa menjadi pembuka gerbang pintu maaf bagi Dara buat Alvaro, tapi justru malah sebaliknya.

Dara yang terlalu realistis dan Alvaro yang terlalu tergesa-gesa untuk bisa kembali ke keluarga kecilnya. Jadi jalan mana yang seharusnya mereka bisa tempuh?

"Kenapa sih, dari dulu kamu gak pernah mau dengar pendapatku?" tohok Dara.

Perdebatannya semakin panjang, Dara tak ingin kalah dan Alvaro tak ingin disalahkan juga.

"Jangan bawa yang dulu-dulu, saya berusaha semampu saya supaya kita kembali utuh, tapi kamu bahkan menutup rapat pintu itu. Anggap kejadian semalam adalah murni hanya kesalahan saya, lalu kamu mau apa? Ingin memundurkan waktu, supaya kejadian itu tidak terjadi disaat status kita sudah bukan lagi pasangan suami istri?"

Dara memegang keningnya seraya mondar mandir sebab ia tak ingin kejadian semalam bocor ke orang tuanya. "Kita sudah bercerai, Alvaro."

"Lalu saya harus bagaimana dalam bertindak? Kejadiannya sudah berlalu, kamu menyesali tindakan saya yang mana? Tolong jangan mempersulit keadaan," balas Alvaro yang kini berusaha untuk tidak menggunakan emosinya.

"Kamu sama sekali gak ngerti kekhawatiran aku," kata Dara yang masih mencemaskan hal yang sebenarnya tak perlu lagi ia cemaskan.

Alvaro maju selangkah hingga membuat Dara berhenti mondar mandir dan menatap mantan suaminya dalam-dalam. "Kamu yang terlalu buta atau kamu yang memang tidak ingin melihat usaha saya? Saya mati-matian melindungi kamu, Leon dan papa dengan mempertaruhkan nyawa saya sendiri, apa kamu tidak melihat itu? Yang kamu lihat dari saya tuh apa sih sebenarnya? Hanya seluruh kehancuran dalam hidup saya?"

Aldara 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang