Disclaimer!
• Narasi harap dibaca juga, agar paham alur dan karakter tiap tokoh.
• Komentar sesuai alur cerita, jangan bawa cerita lain.
Cerita ini diketik 8662 kata.
Happy Reading!
***
Malam hampir habis ketika halaman Jersivic kembali hidup. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan kilau di lantai marmer yang terbentang luas hingga ke pintu utama. Beberapa para pengawal berdiri tegak, menyambut mobil yang baru saja berhenti di depan beranda. Para maid ikut bergerak rapi, nyaris tanpa suara, seperti sudah terlatih membaca setiap kepulangan.
Di dalam, Dara masih duduk sendiri di ruang tamu besar itu. Rumah megah ini tak pernah benar-benar terasa hangat saat malam. Langit-langitnya tinggi, jendelanya lebar, dan gema langkah kaki selalu datang lebih dulu sebelum orangnya terlihat.
Dara menyandarkan punggung di sofa, jemarinya saling bertaut di atas perutnya yang sudah membulat jelas. Sesekali ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan degup yang sejak tadi tak mau reda.
Pintu utama terbuka.
Langkah-langkah terdengar, disertai sapaan singkat para pengawal dan juga suara para maid yang menunduk hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan."
Sayangnya, Dara berdiri bukan karena yakin, tapi karena tubuhnya lebih dulu bereaksi.
Alvaro melangkah masuk. Tubuhnya tegap seperti biasa, setelan jas yang dikenakannya terlihat cukup rapi, wajahnya tampak lelah setelah perjalanan panjang. Namun sorot matanya kosong. Bukan kosong karena penat, melainkan kosong seperti ruangan yang baru saja dikosongkan isinya.
Ia berhenti beberapa langkah dari Dara. Tatapannya tertahan cukup lama-lekat, tetapi kosong. Terlalu lama untuk seseorang yang seharusnya selalu diharapkan untuk pulang.
Mata Dara langsung berkaca-kaca. Tanpa sempat menimbang apa pun, ia melangkah maju dan memeluk Alvaro dengan erat, seolah takut pria itu akan kembali menghilang jika dilepas terlalu cepat. Dalam diam, Dara mengucap syukur berulang kali, karena akhirnya Alvaro kembali-hidup, bernapas, dan berdiri di hadapannya.
"Terima kasih, terima kasih karena kamu kembali ke aku dan anak-anak dalam keadaan hidup, sayang." Ucap Dara lirih, dan dengan suara bergetar.
Pelukannya tak mengendur. Tangannya gemetar menahan luapan yang sejak lama tertahan. Namun Alvaro tak bergerak. Tangannya tetap di sisi tubuhnya, tak terangkat untuk membalas pelukan itu. Ia hanya diam mencoba meraba sesuatu yang seharusnya ada-rasa, ingatan atau sekadar keakraban-namun semuanya terasa begitu asing.
Ia menatap lurus ke depan, berusaha menyusun potongan yang hilang: tentang dirinya, tentang Dara, dan tentang rumah yang dulu pernah terasa hidup.
Setelah beberapa detik yang terasa panjang, Alvaro akhirnya bersuara, pelan dan hati-hati.
"Kamu... pasti khawatir sekali dengan saya, ya?"
Pelukan Dara seketika mengendur. Bukan karena kecewa-melainkan karena sadar, orang yang ia peluk sejak tadi, nyatanya belum benar-benar kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aldara 3
Storie d'amore[Sequel Aldara] [Follow sebelum membaca] Cover by Sridewi [Instagram: @/sartgraphic_] (Nama, karakter, tempat dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiksi) Perpisahan adalah kata paling tidak memungkinkan jika terjadi pada keluarganya. Tapi Dara meng...
