[Sequel Aldara]
[Follow sebelum membaca]
Cover by Sridewi [Instagram: @/sartgraphic_]
(Nama, karakter, tempat dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiksi)
Perpisahan adalah kata paling tidak memungkinkan jika terjadi pada keluarganya. Tapi Dara meng...
• Narasi harap dibaca juga, agar paham alur dan karakter tiap tokoh. • Komentar sesuai alur cerita, jangan bawa cerita lain.
Cerita ini diketik 9238 kata.
Happy Reading!
***
Selama dalam perjalanan dari bandara menuju villa yang akan mereka tempati wajah Dara semakin pucat. Entah kenapa kepalanya sangat amat pusing. Dara merasa perutnya mual hingga setelah sampai di villa, Dara buru-buru turun namun tubuhnya sempoyongan dan terjatuh hingga pingsan.
“Aduh, Dar! Hei, bangun! Pak tolong bantu angkat ya ke dalam,” pinta Ghea hingga membuat supir taksi itu mengantar Dara ke dalam.
Ghea segera menyelimuti Dara sebab wanita itu mengenakan dress motif bunga sepaha karena tak merasa enak ada supir taksi itu di dalam.
“Pak, terima kasih ya. Ini sekaligus tipnya,” kata Ghea memberikan uang kepada sang supir taksi tersebut.
“Sama-sama, mba,” Lalu, supir taksi itu keluar dan masuk ke dalam mobilnya kembali dan terlihat mengeluarkan ponsel untuk memotret villa dan mengabari seseorang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ghea membongkar koper miliknya dan mencari kotak obat-obatan. Dan menemukan minyak angin untuk ia oleskan dijarinya dan didekatkan ke hidung Dara, berharap wanita itu sadar.
“Dar, bangun, please. Kalau gue tau lo sakit, gak akan gue ambil job ini,” kata Ghea.
Perlahan Dara membuka kedua matanya membuat Ghea bernapas lega. “Ghe,” gumamnya.
“Iya, kenapa? Apanya yang sakit? Kasih tau gue,” Ghea benar-benar terlihat sangat begitu panik karena insiden pingsannya Dara tadi.
Ghea membantu Dara untuk duduk di atas ranjang dan memberikan Dara air mineral yang tersedia disana. Dara meminumnya dan kembali menaruhnya di atas nakas.
“Kenapa? Lo pusing banget, ya? Atau kepikiran Leon, karena lo gak pernah ninggalin Leon sendirian sejauh ini?”
Dara menggeleng lalu memilih bersandar pada kepala ranjang. “Bukan itu, Ghe. Gak tau dari pas di bandara, kepala gue udah pusing banget, setelah sampai sini, malah makin pusing dan gue gak kuat.”
“Mau ke rumah sakit?”
Dara kembali menggeleng pelan. “Gak usah, Ghe, gue kayaknya cuma butuh istirahat.”
“Okay, tadi Hugo ngabarin gue katanya Jeff juga udah sampai sini, tapi lagi on the way ke villa, kata dia pesawatnya delay.”
Kepalanya terus terasa seperti komedi putar. Dara tak kuat berdiri jika begini caranya. Ia memilih untuk kembali berbaring dan menyelimuti dirinya.